Bisnis Moncer Kepiting Nyinyir

Penulis: Fathurrozak Jek Pada: Minggu, 25 Mar 2018, 00:50 WIB MI Muda
Bisnis Moncer Kepiting Nyinyir

MI/Fathurrozak Jek

SEBELUM racikan kepitingnya se­tenar sekarang dan dapurnya selalu diramaikan pengemudi ojek daring yang menanti masakan matang dan dikemas untuk diantarkan kepada para penggemarnya, Kepiting Nyinyir bermarkas di rumah kontrakan 2x3 meter di gang kecil.
Dari dapur itulah omzet Rp125 juta tercetak. Pertumbuhan bisnis itulah yang memacu usaha kuliner itu mesti pindah lokasi. Kepi­ting Nyinyir memang tak menawarkan konsep makan di tempat.

Pasalnya, di tempat sebelumnya, sempat dikeluhkan Ketua RT karena menyebabkan gang penuh sesak dengan antrean pengemudi ojek daring yang mengambil pesanan. Kini, harmoni dengan masyarakat lokal dijalin dengan mempekerjakan tetangga di sekitar dapur baru Kepiting Nyinyir, yang kini ada dua, di Duren Sawit, Jakarta Timur, dan Bintaro, Tangerang Selatan. Yuk, simak kisah berbisnis Gilang Margi Nugroho bersama teman kecilnya, Rachman Abdul Rachim, para pendiri Kepiting Nyinyir.

Kenapa tidak buka restoran?
Kami dari awal sudah bilang enggak mau punya restoran. Di Jakarta kan orang paling banyak mengeluh soal transportasi, kami enggak mau jadi bagian yang mengeluh itu.  Kami ingin jadi bagian dari solusi, kalau buka restoran, pelanggan harus butuh effort untuk datang. Kebanyakan pelanggan kita, para pekerja biasanya kan janjian sama teman-temannya untuk makan habis pulang kantor. Karena macet, sampai tempat jam sembilan malam, bisa-bisa enggak jadi makan akhirnya.

Kalau makan di kantor kan, misalnya pesan jam empat sore, jam lima sore sudah bisa sampai. Yang penting, produknya nyampai, bukan tempat makannya yang ramai.

Sekarang kan sudah ramai yang pesan, bagaimana sih kisah awalnya?
Ada cerita menarik, saat kita launching, dengan modal keseluruhan Rp3 juta, kami pinjam kedai kopi milik teman, lalu undang beberapa teman untuk diajakin makan. Gue ajakin mereka yang aktif di sosial media, ada sekitar 30 orang. Gue tawarin, mau makan kepiting gratis enggak? Eh pada mau.  Dari situ, awal produk kami dicoba ke publik. Ada masukan, yang bilang kurang apa, juga ada yang bilang sudah enak.

Karena interaksi antar teman ini enggak profit oriented, ya natural saja gitu, Kami minta timbal baliknya, mereka unggah ke sosial media, pas mereka makan, makanan dan testimoninya.  Dari situ kami juga akhirnya kepikiran menjadikan konten sosial media. Dengan harga kisaran satu boks Rp120 ribu, sehari laku satu saja, sudah keren banget. Eh tapi orang tertarik, ya sudah balik modal ketika selesai launching itu.

Katanya sempat kena omel Pak RT?
Di tempat awal, yang kontrakan di gang sempit itu, antrean tukang ojek ramai banget. Sampai-sampai tukang cendol susah lewat, tetangga mau jemur pakaian juga males haha… Kita juga pakai depan rumah tetangga buat tempat nunggu driver. Akhirnya kita cuma 10 bulan di tempat awal. Karena kita juga sadar, stake holder kita ini siapa, harus di-treatment dengan baik. Akhirnya nemu tempat yang lebih baik di Duren Sawit, di kawasan kompleks, dekat taman dan jalan raya. Pengemudi ojek daring yang nunggu pesenan bisa sambil istirahat, tidur-tiduran.

Katanya suka bagi-bagi juga buat tukang ojek, ini strategi marketing?
Ini movement sih, seperti saat awal, kami memberdayakan ibu-ibu tetangga untuk masak. Nah, bagaimana caranya kami memandang tukang ojek yang sering pesan di Kepiting Nyinyir ini, enggak cuma sekadar driver?  Terakhir, kami charity bagi-bagi 50 sepatu, baik di dapur Duren Sawit maupun di Bintaro. Ini sebenarnya ditujukan untuk anak-anak mereka karena kebanyakan sudah berkeluarga.

Supaya mereka juga enggak malas ambil pesanan Kepiting Nyinyir, kami kasih bonus satu boks, kalau sehari ambil order lima kali. Biasanya kan mereka suka malas kalau ambil order jauh, jadi ya pancingannya kami kasih bonus, biar rajin.  Ternyata, tahun lalu, kami dapat penghargaan, jadi penyedia makanan yang paling sering dipesan di salah satu platform aplikasi ojek daring.

Apa sih keunikan Kepiting Nyinyir?
Pertama, enggak ada tempat makan, take away. Tapi meskipun demikian, ada juga pelanggan datang karena penasaran, walaupun mereka tahu enggak bisa makan di tempat, pengen tahu experience-nya. Kedua, kita bukan cuma menawarkan produk, tapi membangun trust antara penjual dan pembeli.

Yang sering salah dengan teman-teman pebisnis online, hanya menawarkan produk. Kalau kami, gimana caranya bangun engagement. Transaksi online ini kan budaya barat, mereka cukup lihat portfolio bagus, lalu percaya.  Sementara itu, budaya kita, transaksi jual beli kalau enggak kenal ya enggak jadi transaksi. Haha… nah 10 tahun belakangan ini kan online sedang masuk ke negara kita. Jadi, kami cari jalan tengahnya, bagaimana orang tetap kenal kita, tapi enggak ribet, dengan adanya transaksi online.

Biasanya setiap malam Rabu, di akun Instagram Kepiting Nyiyir, kita suka live. Ini sebenarnya penting enggak penting sih. Tapi ini jadi penting, karena mereka jadi tahu, oh ini yang jualan Kepiting Nyinyir, kalau ada apa-apa, bisa komplain ke orang ini, alamatnya ada. Itu salah satu bentuk engagement untuk bangun trust pelanggan.

Jelaskan juga dong tentang yang kalian maksud Kepiting Nyinyir melakukan per­gerakan?
Tujuan kita movement, dengan jualan, bisa lebih banyak bantu orang. Apa lo enggak iri? Message-nya itu! Bukan seberapa banyak yang kami beri, misalnya, charity sepatu, kami membagi soal kegiatan itu untuk menyebarkan movement. Misi kami dari awal, bermanfaat untuk orang terdekat dulu, yang mungkin akan mempermudah hidup ke depannya. Dari awalnya hanya tiga karyawan, sekarang ada 30 ibu yang bergabung menjadi tim kami.

Pesan kalian sampaikan untuk para pebisnis muda?
Bonus bukan tujuan, kita enggak pernah minta. Jalani saja prosesnya, nanti Tuhan akan mengatur sendiri ke mana lo menjalaninya. Kalau sekarang belum jalanin tapi sudah takut, itu berarti berprasangka buruk sama Tuhan.  Kalau ada salah, ya perbaiki, karena enggak ada takaran sempurna. Yang tahu takaran sempurna, cuma kustomer. (M-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More