Sederhana ala Chef Matteo

Penulis: THALATIE K YANI Pada: Sabtu, 24 Mar 2018, 23:40 WIB Weekend
Sederhana ala Chef Matteo

MI/Sumaryanto

SUASANA rustik dan kasual langsung terasa memasuki Ambiente di Hotel Arya Duta, Jakarta. Pengunjung yang datang bisa memilih tempat duduk yang disukai, di lounge, bar, atau dining room. Restoran yang didominasi warna cokelat itu nyaman dan elegan. Kesederhanaan itu tidak semata ditampilkan dalam interior tapi juga hidangan yang disajikan.

Penggunaan bumbu yang minim dan teknik sederhana guna menonjolkan rasa dan bahan baku menjadi tujuan utama dari executive chef Matteo Meacci. “Everythings is simple, even the technic. So it’s can highlight the produce (semua sederhana, termasuk tekniknya. Jadi, menunjukkan hasil buminya),” ujar pria yang akrab disapa chef Matt kepada Media Indonesia Selasa (13/3). Masakan sederhana dan homey yang ingin ditonjolkan pria yang bermukim di Indonesia sejak 2011 itu.

Semua itu tidak lepas dari pengaruh neneknya. “Yang diajarkan nenek sangat sederhana dan homey. Itu yang ingin saya tunjukan. Bukan resep yang saya bawa ke sini, tapi rasanya, budaya, dan tradisinya,” ujar chef Matt. Tidak semata kesederhanaan, chef Matt juga ingin memperkenalkan hidangan asal daerahnya, Tuscany. Region ini terkenal dengan steak T-Bone berukuran besar dan cold cut. Cold cut merupakan potongan daging yang telah di-cured.

Butuh waktu dua bulan untuk membuat hidangan ini. Potongan daging babi atau daging sapi tersebut di-cure dengan garam dan lada menggunakan kemasan vakum selama dua minggu. Setelah dua minggu, potongan daging itu dicuci, lalu diberi lada dan digantung dalam ruangan dingin khusus selama 5-6 minggu.

“Total 8 minggu untuk mengerjakannya,” ujarnya. Tak mengherankan saat dicicipi bumbu-bumbunya dan rasa asap langsung terasa. Meski dipotong tipis, tapi rasa garam, lada, dan rempahnya tercium dan terasa pekat. Meski setiap region di Italia memiliki keunggulannya masing-masing. Cold cut atau dalam bahasa Italia disebut capocollo di Tuscany lebih terasa garam dan lada.

Namun, di daerah lain capocollo lebih manis. Perbedaan juga terjadi saat pembuatan roti. Di Tuscany, roti tidak menggunakan garam. Namun, di region lain menggunakan garam sehingga perbedaan setiap daerah di Italia memiliki ciri khasnya tersendiri.

Pasta
Layaknya restoran Italia, tidak lengkap tanpa menyantap pasta. Atas rekomendasi chef Matt, kami mencicipi tagliolini neri al granchio. Tagliolini merupakan pasta pita yang mirip spageti, panjang, dan tipis. Menariknya, tagliolini ini ditambahkan tinta dari cumi hingga berwarna hitam. Pasta al dente itu dimasak dengan tomat, basil, dan cabai.

Tidak lupa potongan daging kepiting blue swimmer. Semuanya tercampur dan terasa creamy dan lembut. Meski ada cabai, tapi tidak membuat pedas lidah, cenderung kurang terasa. Potongan daging kepitingnya pun sangat banyak dan tidak amis sehingga setiap putaran garpu selalu ada banyak potongan daging kepiting yang ikut terputar. Hidangan seharga Rp140 ribu itu pun dihias dengan cangkang dan capit kepiting blue swimmer.

Steak
Bicara hidangan Tuscany tentunya tak lepas dari daging sapi. Kami berkesempatan mencicipi Tagliata di Manzo con rucola e parmigiano. Berbeda dengan steak umumnya berukuran besar, steak ini merupakan Australia rump steak. Dagingnya dipotong-potong memanjang dan ditaruh di atas potongan kentang.

Kentang diolah menjadi rosmary potato yang dipotong wedges. Tidak ketinggalan daun rocket yang memiliki rasa sedikit pedas serta serutan keju parmigiano. Dengan sedikit sentuhan saus balsamic di sisi piring. Hidangan seharga Rp200 ribu itu tidak terlalu banyak menggunakan bumbu. Meski begitu daging yang dimasak medium itu sangat lembut dan terasa garam dan ladanya. Rasa rosmary pada kentang juga terasa dan aromanya tercium. Sesuai ucapan chef Matt, semua hidangannya sederhana tetapi rasanya sangat berkesan dan tertinggal di indra pengecap. Buon appetito. (M-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More