Si Pendatang Baru yang Mematikan

Penulis: Hanif Gusman Pada: Sabtu, 24 Mar 2018, 11:25 WIB Teknologi
Si Pendatang Baru yang Mematikan

Sumber: Science Direct/Live Science/www.compoundchem.com/Alastair Hay—Leeds University /Jonathan E. Forman – OPCW/Grafis: Tim MI

SERGEI Skripal, 66, dan putrinya, Yulia Skripal, 33, saat ini masih dalam keadaan kritis setelah diracun di sebuah pusat perbelanjaan di Salisbury, Inggris, Minggu (4/3). Sergei, mantan agen intelijen militer Rusia GRU ditemukan terbujur kaku bersama putrinya setelah terpapar racun saraf Novichock.

Novichock dalam bahasa Rusia bermakna 'pendatang baru'. Ini merupakan racun saraf yang dikembangkan Uni Soviet pada medio 1970-an dan 1980-an. Racun saraf yang secara diam-diam dikembangkan pada akhir perang dingin itu menyerang sistem saraf sehingga korbannya kesulitan bernapas dan terpapar sakit yang tak tergambarkan.

Novichock yang juga dikenal dengan nama A-320 diklaim para ahli memiliki efek yang lebih mematikan 10 kali dibanding racun saraf lain, seperti VX, yang digunakan pada pembunuhan kakak tiri Presiden Korea Utara Kim Jong-un Februari tahun lalu di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia.

"Jenis racun ini lebih berbahaya dan canggih dibandingan sarin atau VX serta sulit untuk diidentifikasi," ujar ahli farmakologi Reading University Professor Gary Stephens.

Novichock punya cara kerja yang mirip dengan racun saraf lain, yaitu dengan mengganggu sinyal antara neuron dan otot. Novichock mengikat dan menginvansi Asetilkolin (Ach) yang merupakan neurotransmitter terpenting dalam sistem saraf tubuh. Dengan menghambat kerja Ach, selanjutnya gejala keracunan Novichock terlihat cepat.

Racun tersebut bisa ditemui dalam bentuk cair dan padat, serta bubuk. Novichock dibuat dari dua zat yang tidak beracun, namun sangat mematikan apabila telah dicampur. Ketika sudah digunakan, efeknya terhadap korban terjadi dengan sangat cepat. Racun tersebut bisa meracuni korban melalui pernapasan dan kulit.

Mantan ahli kimia analitik Uni Soviet Vil Mirzayanov yang kini menetap di AS mengungkap asal mula pembuatan racun saraf tersebut. Mirzayanov yang pada era Uni Soviet bekerja di Institut riset negara tentang kimia organik dan teknologi tersebut menyatakan Soviet pada era itu mempekerjakan sekitar 30 ribu-40 ribu orang dalam pengembangan Novichock.

Penuturan Mirzayanov kepada Moscow News pada 1992 tersebut membuat ia dipenjara. Namun, setelah adanya tekanan dari dunia Barat, ia akhirnya dibebaskan. Setelah itu ia pindah ke AS dan mendokumentasikan program pembuatan racun tersebut secara lebih rinci.

Berkhianat
Sergei diketahui menjadi agen ganda bagi badan intelijen Inggris MI6 dan diduga membocorkan belasan agen rahasia Rusia kepada MI6 dengan imbalan sejumlah uang. Atas dugaan tersebut, ia ditangkap Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada 2004.

Ia pun divonis penjara 13 tahun pada 2006, namun mendapat pengampunan dari Presiden Rusia saat itu Dmitry Medvedev pada 2010 sebagai bagian pertukaran dengan 10 agen rahasia Rusia yang ditahan di AS. Setelah itu Sergei yang dianggap pengkhianat bagi negaranya memilih pindah ke Inggris dan menetap di sana hingga diracun pada awal bulan ini.

Peracunan tersebut memantik tudingan Inggris terhadap Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab. Rusia pun tidak terima dan berbalik menuduh Inggris. Aksi saling tuding tersebut berlanjut hingga pengusiran terhadap 23 diplomat Rusia dari Inggris pada (14/3) oleh PM Inggris Theresa May. Rusia pun membalas dengan cara sama pada (17/3). Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov pun membantah Rusia punya program pengembangan racun saraf tersebut.

Peracunan terhadap Sergei dan putrinya bukanlah yang pertama terhadap mantan agen intelijen Rusia. Sebelumnya Alexander Litvinenko yang juga mantan agen intelijen Rusia KGB diduga juga diracun dengan zat polonium-210 pada 2006 di London, Inggris, dan meninggal tiga minggu setelahnya. Ia juga dituduh berkhianat kepada negaranya dengan membelot ke Inggris (dailymail/AFP/L-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More