Ilmuwan Ciptakan Pemindai Otak Berbentuk Helm

Penulis: Gurit Ady Suryo Pada: Sabtu, 24 Mar 2018, 10:45 WIB Eksplorasi
Ilmuwan Ciptakan Pemindai Otak Berbentuk Helm

Sumber: New Scientist/Nature/ Foto: AFP

PARA peneliti di Pusat Pencitraan Sir Peter Mansfield, Universitas Nottingham, dan the Wellcome Centre for Human Neuroimaging, University College London, mengembangkan pemindai otak generasi baru yang dapat dipakai seperti helm. Menggunakan helm pemindai ini memungkinkan pasien bergerak secara alami ketika sedang dipindai. Ini bagian dari proyek lima tahun Wellcome yang didanai dan memiliki potensi untuk merevolusi dunia pencit­raan otak manusia.

Dalam makalah Nature yang diterbitkan beberapa hari lalu (21/3), para peneliti membuktikan mereka dapat mengukur aktivitas otak seseorang sambil orang tersebut melakukan gerakan alami, termasuk mengangguk, meregangkan tubuh, minum teh, dan bahkan bermain pingpong. Alat pindai magnetoencephalography (MEG) ini tidak hanya menggunakan sistem yang baru, tetapi juga lebih sensitif daripada sistem yang tersedia saat ini.

Para peneliti berharap scanner baru ini akan meningkatkan penelitian dan perawatan untuk pasien yang tidak dapat menggunakan pemindai MEG tradisional, seperti anak-anak muda yang mengidap epilepsi atau pasien dengan gangguan neurodegeneratif seperti penyakit parkinson.

Sel-sel otak beroperasi dan berkomunikasi dengan menghasilkan arus listrik. Arus ini menghasilkan medan magnet kecil yang terdeteksi di luar kepala. Peneliti menggunakan MEG untuk memetakan fungsi otak dengan ­mengukur medan magnet ini. MEG dapat menggambarkan dalam milidetik per milidetik dari bagian otak yang terlibat ketika kita melakukan tugas yang berbeda, seperti berbicara atau bergerak.

Sebelumnya, para peneliti menggunakan alat pemindai MEG yang beratnya sekitar setengah ton. Ini terjadi karena sensor yang digunakan untuk mengukur medan magnet otak harus dijaga sangat dingin (-269°C) sehingga membutuhkan teknologi pendinginan besar. Pasien harus tetap diam ketika sedang dipindai karena bahkan gerakan 5 mm dapat membuat gambar tidak dapat digunakan. Sangat sulit memindai orang-orang yang tidak bisa diam seperti anak kecil, atau pasien dengan gangguan gerak.

Ini juga menimbulkan masalah ketika petugas medis membutuhkan pasien untuk diam dalam waktu yang lama demi menangkap peristiwa yang jarang terjadi di otak, seperti kejang epilepsi.

Masalah-masalah itu akhirnya dapat dipecahkan dengan teknologi pemindai baru dan memanfaatkan sensor kuantum baru yang dapat dipasang dalam helm prototipe yang dicetak 3D. Karena sensor baru sangat ringan dan dapat bekerja pada suhu kamar, mereka dapat ditempatkan langsung ke permukaan kulit kepala. Memosisikan sensor lebih dekat ke otak meningkatkan jumlah sinyal yang dapat mereka ambil.

Sifat ringan pemindai baru ini juga memungkinkan pasien untuk pertama kalinya menggerakkan kepala mereka selama pemindaian. Namun, sensor kuantum hanya akan beroperasi ketika medan magnet bumi telah berkurang dengan faktor sekitar 50 ribu. Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti mengembangkan koil elektromagnetik khusus, yang membantu mengurangi medan bumi di sekitar pemindai.

Setelah sukses dengan sistem prototipe mereka, para peneliti sekarang bekerja dengan gaya baru helm. Mereka berupaya merancang seperti penampilan helm sepeda yang akan cocok untuk bayi dan anak-anak serta orang dewasa. (medicalxpress/sciencemag/newscientist/Grt/l-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More