Jalan Prihatin sang Panglima

Penulis: MI Pada: Sabtu, 24 Mar 2018, 10:15 WIB Humaniora
Jalan Prihatin sang Panglima

Judul: Anak Sersan jadi Panglima, Penulis: Eddy Suprapto, Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

SIAPA sangka anak sersan bisa jadi panglima? Siapa yang sangka pula, sang panglima itu dulunya pernah menjadi caddy, pemungut bola di lapangan golf Kompleks Lanud Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur. Demikian sekelumit kisah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang dibeberkan dalam buku berjudul Anak Sersan Jadi Panglima. Buku setebal 216 halaman yang ditulis Eddy Suprapto itu resmi dirilis ke publik Jumat (16/3).

Eddy Suprapto berharap kisah hidup sang panglima bisa menjadi inspirasi dan motivasi bersama. Kendati kisah serupa banyak dituturkan para pesohor, yang juga punya cerita kebersahajaan di masa lalu, detail yang dipaparkan mudah menyentuh kemanusiaan. 

“Ini true story meskipun ada bagian-bagian tertentu yang tidak saya tuliskan karena saking minusnya kondisi perekonomian mereka,” ucap Eddy, kawan Hadi sejak SMA.

Eddy menempuh separuh hidupnya sebagai jurnalis dan aktif menulis cerpen serta naskah film pendek untuk produksi konten di Korea Selatan.

Dengan alur narasi yang disarikan dari pertemanan Eddy dan Hadi sejak SMA, cerita teman-teman lama, serta kenangan orangtua dan saudaranya yang masih lekat dalam ingatan, buku ini menghadirkan sisi lain Hadi.

Putra teknisi
Marsekal Hadi lahir di Malang, 8 November 1963 dari pasangan prajurit Angkatan Udara Bambang Sudarto dan Nur Saa’dah. Bambang adalah teknisi pesawat tempur TNI-AU di Lanud Abdulrachman Saleh.

Kehidupan sebagai anak prajurit memang perih. Sampai-sampai jatah sepatu baru bapaknya ikut dijual sang ibu untuk sekadar membeli beras. Makanan pun dibagi lima.

Satu butir telur dicampur tepung lalu digoreng dan diberi kecap. Setelah matang, telur dipotong lima dan dibagi ke empat adiknya.

Profesi caddy dijalani Hadi saat kelas VI SD. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Hadi muda bekerja menjadi caddy untuk mencari tambahan penghasilan buat keluarganya.

Hadi menjadi caddy hanya pada saat akhir pekan atau hari libur sekolah. Untuk ukuran anak SD, pekerjaan sebagai caddy jelas tidak mudah. Hadi harus memanggul tas berisi peralatan golf yang beratnya 15 kilogram.

Sambil memanggul tas golf, Hadi harus mengikuti ke mana pun para pemain golf itu bergerak. Jaraknya bisa sampai 10 kilometer. Selain itu, Hadi harus sigap dan tangkas memunguti bola golf yang terpental.

Tak cukup di situ. Setelah permainan usai, Hadi harus mencuci stik golf dan sepatu para pemain. Tugas berat itu diganjar dengan upah Rp200 yang cukup untuk membeli 5 liter beras.

Di rumahnya di Kompleks PAGAS, 5 kilometer dari Lanud Abdulrachman Saleh, Hadi juga membantu ibunya berjualan rujak dan tape. “Tugas saya berbelanja bahan rujak dan mencari singkong untuk dibikin tape,” tutur Hadi mengenang masa kecilnya seperti yang tertulis di halaman 20.

Pekerjaan sebagai caddy dila­koni Hadi hingga lulus SD. Saat itu, ia melihat temannya ikut bapaknya, penerbang di lapangan golf. Hadi pun lari menjauh karena malu. “Malu sekali kalu ketahuan menjadi caddy. Saya kira dia juga pasti akan malu punya teman seorang caddy,” kenang Hadi seperti dikutip di halaman 22 buku itu.

Untuk mendapatkan uang saku dan ongkos ke sekolah, Hadi tetap membantu ibunya berjualan rujak dan donat. “Segala kekurangan ekonomi merupakan ujian. Jika ingin sukses menjadi orang besar, harus lulus ujian, harus mampu menjalani hidup dalam kekurangan dengan tabah.”

Itulah salah satu nasihat ibu yang melekat di hati Hadi dan menjadikannya pribadi yang pantang menyerah (halaman 18).

Bertekad jadi taruna
Sadar akan kekurangannya pula, sang bapak justru tidak meng­­arahkan Hadi untuk menjadi prajurit. Namun, takdir berkata lain.

“Bapak saya maunya masuk STM Grafika karena lulusan itu sedang booming. Sehingga saya bisa langsung kerja. Tapi, saya bilang saya ingin masuk taruna, ingin jadi penerbang. Akhirnya saya masuk SMA,” ungkap Hadi.

Keinginan Hadi untuk jadi penerbang telah terpatri sejak kecil. Bapak sering mengajak Hadi dan adiknya ke tempatnya bekerja. Hanggar dengan aroma minyak hidrolik itu dijadikan Bambang sebagai ruang kelas untuk menge­nalkan dunia penerbangan kepada anak-anaknya.

Masuk ke kokpit pesawat sudah biasa bagi Hadi kecil. Bapak juga sering menceritakan sosok para penerbang Indonesia seperti kisah Leo Wattimena, jenderal pertama Indonesia yang mendarat pertama kali di Irian Barat (Papua) dengan pesawat C-130 Hercules.

“Sejak saat itu saya pun ingin jadi penerbang AU RI,” tutur Hadi di halaman 27.

Ritual sungkeman
Kolonel Wahyu Tjahjadi, adik Hadi, yang datang dalam acara itu,  menganggap kisah perih keluarganya yang dibeberkan dalam buku itu bukanlah sebuah aib. “Kondisi sulit menempa kami menjadi sosok yang sabar dan tabah. Jangan pernah menyalahkan keadaan. Daun yang jatuh tidak pernah menyalahkan angin,” ucap Wakasetum TNI-AU itu.

Wahyu yang sama-sama meniti karier di militer dengan Hadi mengaku, kesuksesan mereka juga tidak lepas dari doa kedua orangtua. Tak mengherankan jika selalu ada ritual sungkeman yang dilakukan Hadi. “Bukan hanya waktu Lebaran, tapi setiap ada acara seperti masuk AKABRI, lulus sekolah hingga pindah penempatan tugas baru,” sebut adik kedua Hadi, Artiningsih Tjahjanti (halaman 162).

Kini Marsekal Hadi menjadi orang terpilih di antara 400 ribu pasukan TNI sejak didapuk menjadi Panglima TNI pada Desember 2017 lalu menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo.

Siti Gretiani, General Manager PT Gramedia Pustaka Utama, menyebut buku biografi Panglima TNI Hadi Tjahjanto terasa cair dan bersahabat. “Tidak terbatas mengenai karier militer, tapi juga cerita-cerita seru bersama keluarga di masa kecil,” ucapnya.

Ya, buku biografi ini mampu melepaskan imej keangkeran panglima. Pahit getir kehidupan yang dialami Hadi sebagai anak prajurit tidak menurunkan kewibawaannya, tapi justru menambah kagum. Setidaknya Hadi tahu apa yang akan dilakukannya sebagai panglima, dari cermin di masa lalunya. (Zhi/M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More