Eksplorasi Penciuman dalam Narasi Fiksi

Penulis: Zubaedah Hanum Pada: Sabtu, 24 Mar 2018, 10:00 WIB Jendela Buku
Eksplorasi Penciuman dalam Narasi Fiksi

MI/Caksono

CENDANA dan Melati, dua jenis tanaman yang memiliki aroma sangat khas. Kayu cendana yang baik bahkan mampu menyimpan aromanya selama berabad-abad. Dua wewangian itu pula yang mengingatkan Raras Prayagung pada neneknya, Janirah si ahli penyelundup.

Janirah Prayagung, seorang anak abdi dalem punakawan jenjang terendah di Keraton Yog­yakarta. Keluarganya sudah mengabdi selama tiga generasi di keraton itu.

Dengan kelihaiannya, Janirah berhasil membawa kabur harta yang lama tak dihiraukan para pembesar keraton. Ia menemukannya dalam sebuah wadah besi berukuran sebesar kotak sepatu, dalam lemari yang menyatu dengan dinding.

Bagi seorang pencuri sekaligus pembobol macam Janirah, butuh waktu lumayan lama untuk bisa membuka kotak besi itu, sampai akhirnya ia memutuskan untuk membawa pulang. Tidak ada ke­­gemparan, mungkin lantaran tidak ada yang hirau akan keberadaan kotak besi itu.

Di dalam kotak tersebut, Janirah menemukan sesuatu yang membuatnya memiliki tujuan hidup. Janirah berhasil membangun Kemara, perusahaan jamu dan kosmetik yang masyhur seantero negeri.

Hingga akhirnya dalam keadaan sekarat, Janirah, memilih puspa karsa (bu­nga kehendak) sebagai ‘pesan terakhir’ pada cucu semata wayangnya itu. Selama ini, Raras hanya menganggap tanaman misterius itu sebagai dongeng, ketika kerap kali mendengar sang nenek bercerita semasa Raras kecil.

Namun, saat menjelang ajal itu, kesungguhan dan binar mata Janirah seakan meyakinkan, bahwa puspa karsa bukan dongeng belaka, ia ada. Puspa Karsa, dikisahkan sebagai tanaman rahasia yang memiliki kehendak, dan dapat mengendalikan kehendak. Pertanyaannya, hidung siapa yang dipilih puspa karsa untuk bisa membauinya? Bunga sakti itu tak akan sekonyong-konyong muncul pada sembarang orang.

Dari situlah, tergelar narasi yang akan membentang hingga kemudian ia memilih sang cucu, Raras Prayagung, menemukan apa yang belum didapat Janirah selama hidupnya.

Raras Prayagung mengambil alih Kemara, yang mengantarkan perusahaan warisan neneknya itu kembali moncer, setelah terpuruk ditangani ketidak becusan ayah Raras.

Obsesi Raras Prayagung untuk mendapatkan puspa karsa mempertemukannya dengan Jati Wesi, pemuda yang bekerja di banyak tempat dalam sehari. Jati meng­urus tujuh taman di perumahan kompleks perumahan elite, pegawai pabrik kompos tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang Bekasi, pegawai tanaman hias di tempat Nurdin Suroso, dan di toko parfum Attarwalla milik guru SMA-nya, Khalil Batarfi.

Keandal­an Jati Wesi yang bisa mengendus aroma apa pun, dinarasikan saat Jati pamit dari salah satu rumah yang diurus tamannya. Ia bisa membaui shampo dan parfum apa yang digunakan Ningsih, pembantu di rumah tersebut. Jati juga mengingatkan Ningsih untuk segera mengangkat jemuran dari aroma rumput dan bunga yang lebih tajam menjelang badai.

Namun, yang menarik ialah saat Jati membantu menemukan jasad Aan Durrahman, suami Imas si pemilik warung nasi di TPA Bantar Gebang, yang telah kehilangan suaminya berhari-hari.

Berkat anugerah pemuda berusia 26-an tahun itu, jasad Aan ditemukan setelah Jati berpatroli dari zona pembuangan 3 dan 4. Aan terkubur di dalam tumpukan sampah sedalam satu setengah meter.

Setelah kejadian itu, kepala polisi di Bantar Gebang pun menjuluki­nya dengan sebutan si hidung tikus (halaman 46). Atau, bila merujuk istilah medisnya, apa yang dialami Jati Wesi ialah hiperosmia.

Kemampuan Jati membaui berbagai aroma pun tercium Raras. Karena suatu hal, Jati harus takluk di hadapan Raras dan mengikuti titahnya, termasuk menetap di kediaman Raras di Sentul, Jawa Barat. Di situlah Jati Wesi bertemu dengan Tanaya Suma, anak semata wayang Raras yang usia dan sensitivitas penciumannya sama dengan Jati.

Setelah mendapatkan Jati dan memiliki Suma, Raras semakin yakin, penantiannya selama ini untuk mendapatkan puspa karsa akan usai. Akankah semudah itu?

Cerbung digital

Butuh dua tahun bagi Dewi Lestari, atau akrab dengan nama pena Dee, untuk merampungkan anak ke-12-nya ini, Aroma Karsa. Setelah karya terakhir seri Supernova, Intelegensi Embun Pagi, kini Dee mencoba menarasikan tema fiksinya melalui eksplorasi indra penciuman dan aroma.

Ketertarikan Dee pada aroma bisa ditelusuri pada karya sebelumnya, Madre. Untuk Aroma Karsa, usaha Dee tidak main-main. Ia melakukan riset ke TPA Bantar Gebang, Gunung Lawu, mengikuti kursus peracikan parfum di Singapura, hingga mencium muntahan ikan paus.

Baginya, bau menyimpan lebih dari sekadar bau. Bila kita meng­endus suatu bau, bisa jadi kita teringat akan suatu momen, atau seseorang, atau apa pun yang melekatkan kita pada suatu ingatan lewat bau itu. Melalui tokoh Jati Wesi, dan Raras Prayagung, Dee membagi novel setebal 700 halaman ini ke dalam 61 bab. Sebuah novel tebal, tadinya ia menargetkan hanya berkisar pada 85 ribu kata, tetapi rupanya mencapai lebih dari 100 ribu kata, yang bisa digolongkan novel epik.

Melalui alur bercerita linear maju dan menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas, Dee menawarkan pengalaman baru bagi para pembaca setianya. Sebelum akhirnya merilis versi fisik, para pembaca setia karya Dee bisa mengakses terlebih dahulu melalui kanal digital dalam bentuk cerita bersambung (cerbung), yang terbit sejak 18 Januari dan selesai pada 15 Maret 2018, sehari menjelang rilis versi cetak.

Melalui format cerbung ini, Dee mengungkapkan, yang ia tawarkan bukanlah sebuah produk, melainkan pengalaman. Pengalaman bagaimana bisa menikmati waktu menunggu cerita selanjutnya terbit.

Meski telah menjual versi digital, dan laku keras, sebanyak 2.000 pembaca, bukan berarti menggilas pasar cetak. Bukti bahwa digital dan cetak mampu bersinergi. Melalui pra pemesanan (pre-order), sudah tercatat sebanyak 10 ribu lebih eksemplar terpesan. Dee menghabiskan 15 pulpen untuk membubuhkan tanda tangan asli di setiap bukunya.

Lewat Aroma Karsa, Dee menjadikan riset sebagai tumpuan proses kreatifnya. Seni menjahit cerita-cerita faktual yang ia temui saat riset, untuk dijahitnya kembali sebagai bagian utuh bangunan suatu narasi fiksi. (*/M-4)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More