Jalan Panjang Merintis para Juara

Penulis: RIZKY NOOR ALAM Pada: Minggu, 18 Mar 2018, 03:34 WIB Weekend
Jalan Panjang Merintis para Juara

MI/ADAM DWI

Agustus mendatang Indonesia akan menggelar pesta olahraga terbesar kedua di dunia, Asian Games, di Jakarta dan Palembang. Salah satu cabang yang paling disoroti ialah bulu tangkis, yang menjadi tumpuan harapan sekaligus sumber kerisauan.
Lalu bagaimana sebenarnya kondisi perbulutangkisan nasional serta kesiapan para atletnya untuk merebut podium?
Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan sang legenda yang kini menjabat Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Susy Susanti, Selasa (13/3).

Bagaimana Anda melihat bulu tangkis Indonesia saat ini?
Memang sedikit berbeda dengan zaman saya atau Pak Rudy Hartono, yang mendominasi hanya negara-negara tertentu. Namun, masuknya (bulu tangkis) di Olimpiade mengubah peta kekuatan dan prestasi. Secara popularitas naik dan persaingan tambah ketat.
Sebelumnya ada Indonesia, Denmark, Malaysia, Tiongkok, kini lebih merata. Ada juara dunia yang berasal dari Spanyol, Rusia, Bulgaria, Inggris, Thailand, India, semua sudah bermunculan. Jepang pun mungkin di 1960-an menguasai, lalu 40 tahun menghilang, sekarang sudah mulai muncul. Untuk Indonesia sendiri ini menjadi PR karena harus kerja keras dan jangan terlena, bagaimana kita bisa mengembalikan lagi kejayaan dengan kerja keras, membangun regenerasi berkesinambungan.

Jadi, apa tantangan utama Indonesia, regenerasi, dukungan atau ada faktor lain?
Pertama, pembinaan tidak mungkin instan, juara tercipta bukan hanya 1-2 tahun, tapi puluhan tahun. Ini bersangkutan dengan perhatian, kepedulian, dari klub kecil, orangtua yang mendukung, membayar biaya latihan. Lalu, saat mereka mulai menonjol, ada klub-klub besar yang memberikan beasiswa, membantu untuk mengikuti kejuaraan dalam maupun luar negeri.

Saat mereka berprestasi, baru peran PBSI memantau dan mengumpulkan potensi dan bakat itu untuk menjadi wakil Indonesia dan menciptakan prestasi nasional dan dunia. Di sini, peran Pemerintah sangat penting karena pembinaan ujung-ujungnya uang, dan jika tak berkesinambungan akan sulit meregenerasi dan menciptakan pemain-pemain pelapis nasional, SEA Games, juga Olimpiade.

Semua itu butuh waktu dan dana besar karena pembinaan itu investasi kepada pemain muda yang mungkin 4-5 tahun baru terlihat hasilnya. Uang, perhatian, maupun program, itu satu mata rantai yang harus betul-betul kuat, baik dari pembina, pelatih, maupun pemain.
Bulu tangkis sebagai olahraga prio­ritas selalu mempunyai tugas, target, dan tanggung jawab besar sehingga kami berharap perhatian pemerintah harus lebih besar. Tanpa dukungan dari semua pihak dan hanya berjalan sendiri, sulit untuk mencetak atau melahirkan juara.

Soal regenerasi sendiri, bagaimana pemerataan di daerah?
Kita sangat beruntung karena peran dari klub-klub besar luar biasa, kepedulian mereka membantu, mencari bibit-bibit dan bakat melalui audisi, di Jawa juga luar Jawa. Mereka langsung jemput bola karena mereka tahu banyak sekali bibit-bibit yang lahir bukan dari keluarga mampu. Untuk bisa ke Jawa itu butuh biaya, proses, dan hal yang mungkin bisa memberatkan. Upaya itu dilakukan klub-klub besar seperti Djarum, Jayaraya, Mutiara. Mencari bibit itu sulit, mungkin dari 20 atlet, yang akan jadi hanya 1-2 orang. Mereka dicari dengan beberapa tahap, tes fisik, IQ, lalu kesehatan, bakat, dan kemauan.

Terkait dengan Asian Games 2018, sejauh mana persiapan tim bulu tangkis Indonesia?
Persiapan sudah berjalan, bukan hanya beberapa bulan karena untuk PBSI sendiri, ini adalah pelatnas yang berkesinambungan, tidak pernah berhenti. Program dari Pelatnas PBSI sendiri tidak hanya untuk SEA Games atau Asian Games, tapi Olimpiade. Jadi, persiapan kita sebetulnya menuju Olimpiade. Asian Games ini adalah salah satu target menuju Olimpiade, begitu juga dengan SEA Games. Bulu tangkis sendiri di tahun ini memiliki target, ada beberapa turnamen, mulai Indonesia Master, All England, Asia Beregu, Thomas dan Uber Cup, Kejuaraan Dunia, Asian Games, serta Indonesia Open yang merupakan pertandingan terbesar secara hadiah. Terakhir, final Grand Prix Dubai. Jadi, memang dari PBSI sendiri target-target sudah dari awal tahun, ada sekitar 6-7 target yang kita harapkan, bisa tercapai hingga mencapai Olimpiade 2020. Harapan masyarakat Indonesia, tidak hanya PBSI, itu emas karena kita ingin meneruskan tradisi emas, menyumbangkan dan memberikan prestasi terbaik lewat bulu tangkis. Untuk Asian Games harus siap, targetnya kan satu medali emas, tapi diharapkan bisa dapat lebih banyak.

Dengan jabatan sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, bagaimana Anda menyikapi besarnya harapan masyarakat?
Kalau saya selalu positive thinking, segala sesuatu yang kita jalankan, kalau kita betul-betul jalankan maksimal, fokus, disertai kerja keras dan membina team work kuat, akan berhasil.
Bagi saya, ini adalah bagian dari tanggung jawab dan kepercayaan yang harus bisa dilaksanakan sebaik-baiknya.

Bagaimana jika para atlet bertan­ding dan ternyata hasilnya tidak sesuai target, cara Anda kembali menyemangatinya?
Namanya juga proses, kita tahu saat ini ada pemain elite yang kita targetkan mencapai juara, juara, dan juara. Tapi ada juga pemain muda, pelapis, dan junior. Jadi, ada tiga kategori. Kita melihatnya tidak hanya dari segi juara, tapi juga progres masing-masing sesuai kategori dan kelasnya. Jika mereka bertanding, ditargetkan masuk semifinal, final, bahkan juara dan bisa tercapai, akan kita naikkan lagi kelasnya menjadi lebih atas. Tapi kalau tidak tercapai, kita harus tahu letak kekalahannya, harus dipelajari dan si atlet menyadari bahwa dia masih kurang. Kalah artinya banyak yang harus dibenahi, latihan, pematangan. Dia harus tahu kelasnya di mana sehingga saat pertandingan dia harus mampu mencapai target pelatih maupun pengurus. Kalau misalnya down, atlet harus tahu dulu alasan dia menang dan kalah. Kalau sudah tahu, biasanya akan siap kembali.

Soal masa depan atlet, saat ini seperti apa?
Memang, kalau soal masa depan atlet, terutama yang sudah mengha­rumkan nama bangsa, masih kurang. Mungkin bonus atau hadiah saat ini jauh lebih baik. Tapi, untuk kepastian masa depan, contohnya setelah atlet pensiun, apakah ada jaminan hari tua. Itu masih diusahakan dan diharapkan pemerintah bisa lebih memberikan perhatian, karena untuk menjadi seorang atlet dan bisa menjadi juara, itu tidak mudah. Juara itu hanya satu maka otomatis kita berharap bahwa penghargaan bisa lebih karena akan menjadi role model bagi generasi muda. Kalau juara dapat pensiun, orangtua akan mendukung anak menjadi atlet, karena sudah ada jaminan. Selain itu, untuk bulu tangkis sendiri, sudah semiprofesional, hadiah-hadiahnya banyak sehingga ini bisa lebih dari sekadar hobi, sudah menjadi pekerjaan. Seumpamanya atlet bisa mengatur keuangan maka akan punya modal. Tapi tentunya jaminan masa depan belum ada. Semuanya masih bergantung pada atlet itu sendiri, apakah dia mampu dan mau menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More