Dari Lima Juta, Kini Punya 39 Cabang

Penulis: Administrator Pada: Minggu, 18 Mar 2018, 02:45 WIB Weekend
Dari Lima Juta, Kini Punya 39 Cabang

DOK PRIBADI

BOLEH saja dia dibilang beruntung sebab mentor bisnisnya ialah ayahnya sendiri. Namun, bila ia tidak jeli melihat peluang, keberuntungan itu bukanlah apa-apa. Lima tahun lalu, ia memulai bisnis yang masih belum banyak dilirik orang, menjual puding.
Eugenie Patricia yang saat itu masih berusia 19 tahun bersama sang kakak, Adrian Agus yang usianya terpaut 2 tahun, merintis Puyo Dessert. Kini sudah ada 39 gerai, tersebar di Jabodetabek dan Bandung.

Mulanya, hanya bermodal Rp5 juta yang digunakan untuk membeli kulkas bekas dan bahan baku puding. Awalnya, puding ala Eugenie dan Adrian ditujukan untuk anak muda, lewat warnanya yang menggoda, menggunakan warna-warna pastel. Kini, siapa sangka kalau pasarnya meluas hingga para ibu.

Muda sempat bertemu Eugenie Patricia, dalam acara Belanga Indonesia, dan ngobrol tentang bisnis kulinernya. Yuk, simak petikan wawancara Muda dengannya.

Bermodal Rp5 juta dan sampai saat ini tidak mengambil pinjaman di bank, bagaimana perputarannya?
Memang kayaknya susah dipercaya ya, cuma itu benar. Di awal memang modal Rp5 juta, kita gunakan untuk beli kulkas bekas dan bahan baku puding.
Kita jualan lewat online dan bazar, di bazar ternyata responsnya oke. Akhirnya karena viral, banyak yang beli. Kita diajarin sama papa, keuntungan jangan langsung dibagi-bagi. Kebanyakan bisnis di awal, termasuk temenku sendiri pun, untungnya habis karena dibagi.
Waktu itu keuntungan sampai bulan ketiga, keempat, kusimpan. Bahkan, sampai sekarang aku digaji sama Puyo, bukannya langsung bagi-bagi dividen, uangnya kita fokusin untuk diputer terus.
Banyak anak muda yang gagal, menurutku karena uangnya enggak diputerin. Misalnya, udah dapet untung sampai Rp50 jutaan dibagi rata. Akhirnya malah terpakai buat hal di luar bisnis, entah itu buat liburan atau apa, terus misalnya pas ada kesempatan buat buka booth di mal, akhirnya malah minjem uang, terus ada bunganya. Uangnya jadi enggak beraturan, enggak sehat perputaran uangnya.

Bagaimana ceritanya bisa punya 39 outlet ya?
Mindset kita saat itu yakin Puyo laku! Kita juga memegang prinsip, keuntungan jangan dipake buat hal lain, disimpan buat buka outlet. Keuntungan dari outlet yang satu, kita gunakan untuk membuka yang selanjutnya. Karena memang desain outlet kita kan kecil, enggak memakan biaya besar seperti restoran.

Outlet Puyo memang didesain seefisien mungkin?
Konsepnya grab and go. Jadi, akan jarang banget nemuin outlet Puyo yang ada kursi dan mejanya, itu juga akhirnya meminimalisasi ongkos kita untuk buka outlet. Kita mengusahakan seminimal mungkin tempat karena produksinya kan enggak di outlet, semuanya terpusat di satu tempat, di kawasan BSD Tangerang. Untuk yang di Bandung pun, ya dari BSD, tapi ada satu tempat pendingin di Bandung, sebelum puding Puyo didistribusikan ke mal-mal di sana. Kita ada tujuh sampai delapan truk pendingin untuk distribusinya.
Jadi, untuk satu outlet-nya, paling butuh biaya Rp50 juta sampai Rp100 jutaan, termasuk semua perlengkapannya.

Tantangan yang kamu hadapi apa saja?
Dulu, waktu awal kuliah, ya aku nyambi jualan Puyo, kasih tes juga ke orang-orang. Feedback-nya ya macem-macem, ada yang positif, ada juga yang negatif, dan sempat dibilang, bukannya fokus kuliah malah jualan puding. Tapi aku enggak peduli. Dari masa ospek sampai tiga bulan pertama kuliah, aku bagi waktu, Senin sampai Jumat kuliah, Jumat sore sampai Minggu aku ada di bazar untuk jualan Puyo. Capek? Iya pasti! Tapi seru dan senang, lihat produk kita dimakan orang-orang, disukai, difoto, dan di-posting sama mereka. Satisfying. Aku yakin, saat itu kita pasti bakal bisa lebih besar lagi dari sekarang.Sebelum Puyo punyo outlet, karena kita ingin Puyo ada di mana-mana, ya caranya kita titip ke resto-resto, dengan cara bagi hasil, dengan sebelumnya menjelaskan mengenai produk kita. Dari situ, nanti kan kalau ada yang suka, mereka yang akan cari sendiri, Puyo itu ada di mana sih?

Waktu awal mulai, aku kan juga baru 19 tahun, dan harus bangun bisnisku sendiri, bareng kakak. Bisa dibilang ya saat itu aku enggak tahu apa-apa. Memang harus turun tangan sendiri sih, untuk ngurusin bisnis, sedangkan mungkin temen-temen yang lain lagi heboh-hebohnya main. Sementara itu, aku enggak bisa ke mana-mana, dari pagi sampai malam, bikin Puyo. Sampai papa mama juga ikut turun bantuin. Jadi memang harus turun tangan, aku yang punya bisnisnya, ya harus ngerasain lemburnya, capeknya bikin produk, jadi mengerti. Sekarang sih sudah ada lebih dari 200 karyawan.

Papa juga ikut bantuin Puyo dari awal?
Karena papa hobi masak, dia juga bantuin. Aku dan kakakku nanya-nanya rasanya udah pas apa belum, ya sama papa juga, dia lidahnya udah paling ahli deh, karena hobi kulineran.
Nah, kita bukannya bergantung sama papa dan mama, cuma karena mereka sudah berpengalaman dalam bisnis, dan hal-hal lain, kita selalu nanya dan konsultasi ke mereka. Mentor banget buat kita, sampai akhirnya kini Puyo berkembang.

Sekarang penikmat Puyo enggak cuma anak muda, pasarnya jadi lebih luas lagi?
Dulu memang awalnya kita tujukan market-nya ya anak muda. Dengan mengutamakan konsepnya lewat branding, ya produknya yang photogenic. Sekarang karena ternyata banyak juga ibu-ibu yang menggemari Puyo, ya kita sering kasih pengalaman langsung untuk coba rasanya Puyo itu bagaimana, misal dengan cara sponsorin acara ibu dan anak, kita kasih produk Puyo.
Menurutku, itu cara marketing yang efektif ya, ketimbang harus bikin billboard berapa miliar mending kita kasih pengalaman orang untuk coba Puyo langsung, dan ketika mereka suka, mereka akan inget dan nyari produk kita.
Sekarang juga, Instagram kita sebenarnya hanya untuk menampilkan profil Puyo, dan untuk mengingatkan bahwa kita ada, dan bisa didapat di mana aja sih. Mungkin kalau dulu website ya, nah kalau sekarang, orang mau tahu sesuatu, bisa dilihat di akun Instagram-nya.
Malah sekitar 80%-85% pelanggan Puyo, mereka tidak follow kita di Instagraim, karena kita tahu sekarang ibu-ibu banyak yang menggemari produk kita. Jadi, followers di media sosial enggak menentukan banyaknya penjualan juga.

Pembagian kerja dengan kakak kamu bagaimana?
Aku lebih pada bagian kreatif sama marketing, termasuk urusan Instagram, sedangkan kakakku mengurusi bagian bisnis development-nya dan manajemen.
Waktu dulu awal Puyo, aku juga yang desain logo dan segala macamnya, ya pakai Microsoft Word doang, dan cari font yang bagus dan sesuai karena aku enggak bisa gunain aplikasi desain, cuma suka desain aja. Makanya, untuk urusan desain dan hal kreatif Puyo, itu aku yang ngurusin, aku bisa lihat desain yang bagus itu bagaimana, tapi enggak bisa melakukannya. Sekarang kita sudah punya tim. Tapi sampai sekarang, kita enggak menggunakan jasa brand marketing, kita coba cari anak-anak muda, misal yang kuliah di semester akhir atau semester tiga.

Sekarang ingin mencapai apa lagi nih?
Kita ingin tetep memberikan sesuatu kepada masyarakat, berkontribusi. Seperti yang pernah kita lakukan, bikin perpustakaan di Flores, bareng Taman Bacaan Pelangi, kita juga sempat sumbang Rp100 juta untuk ikut program konservasi penyu.
Kalau big step-nya, Puyo ingin go international! Kita coba untuk mulai cari koneksi, kita sempat ke Malaysia, Jepang, cuma memang belum nemu kesepakatan yang klop. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More