Nyepi Sepenuh Hati

Penulis: RUTA SURYANA Pada: Minggu, 18 Mar 2018, 02:31 WIB Weekend
Nyepi Sepenuh Hati

Ebet

PERAYAAN Hari Nyepi tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah siaran televisi dan radio lokal Bali ditiadakan, kini jaringan internet di telepon pintar pun dimatikan. Pemerintah setempat meminta provider penyedia jasa seluler mematikan datanya mulai Sabtu (17/3) 2018 pukul 06.00 Wita hingga Minggu (18/3) pukul 06.00 Wita. Namun, layanan telepon dan pesan singkat (SMS) masih tetap aktif.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana mengaku pihaknyalah yang mengusulkan untuk mematikan jaringan data seluler di Hari Nyepi. Imbauan itu diharapkan dapat memberi dampak positif terhadap umat Hindu yang melaksanakan Nyepi di Bali dalam menyambut tibanya Tahun Baru Saka 1940.

Sebab, sambungnya, salah satu pantangan dalam Catur Brata penyepian itu ialah amati lelanguan yang bermakna tidak boleh mencari hiburan. “Kami memahami jika internet itu berpotensi melanggar amati lelalungan. Lalu, kami mengusulkan agar dimatikan saja untuk membantu umat Hindu yang sedang merayakannya,” ujar Sudiana.

Sudiana yang juga rektor Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri Denpasar ini menginginkan agar pelaksanaan Catur Brata penyepian nanti bisa berlangsung khidmat, benar, dan tepat sehingga agar Nyepi bisa memberi manfaat bagi semua lapisan masyarakat dan juga alam itu sendiri. “Sehingga terjadi kesinambungan,” ujarnya.

Menurut Sudiana, Nyepi ialah bagian dari perbaikan dan penguatan mental sehingga diharapkan lebih mudah dalam menghadapi masalah dan tantangan. Setelah Nyepi berlalu, umat diharapkan tidak gampang tergoda konsumerisme, dan juga tidak cepat menyerah dalam meraih kebaikan.

“Jadi, kekuatan lahir batin setelah Nyepi diharapkan memberikan anugerah, ketenangan, dan kebahagiaan,” sahut Sudiana. Tiga pantangan lain dalam Nyepi ialah amati geni (tidak menggunakan api), amati karya (tidak bekerja), dan amati lelungan (tidak bepergian).
Sudiana memahami jika ini memang terasa berat di awalnya. Sama seperti dulu, awal-awal televisi dan radio dimatikan. “Toh, kita sudah main internet selama setahun. Hanya satu hari saja. Justru kalau bisa dilakukan maka nilainya sangat besar. Puasa itu ada di setiap agama. Orang bisa tidak merokok, tidak makan daging selama masa puasa. Ini hanya satu hari. Mari kita hormati,” sergahnya.

Sebelumnya, rangkaian Nyepi telah diawali dengan pelaksanaan melasti atau melis atau mekiyis. Umat mengusung pralingga atau pratima (benda sakral), sebagai stana Ida Bhatara yang merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci sebagai makna penyucian. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut.

Sehari sebelum Nyepi umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya yang disebut juga Tawur kesanga sebagai bentuk penyucian/pemarisuda bhuta kala, dan segala leteh (kekotoran) niskala. Dalam perkembangannya, belakangan berkembang bentuk kreativitas di kalangan pemuda yang tergabung dalam Seka Teruna untuk membuat ogoh-ogoh yang diarak ramai-ramai keliling wilayah banjar/desa di malam hari, sehari menjelang Nyepi.

Ogoh-ogoh yang rata-rata berwujud seram sebagai simbol bhuta kala (sifat-sifat buruk) ini diarak keliling seputaran wilayah banjar/desa menjadi atraksi tontonan menarik masyarakat dan juga wisatawan.

Pro kontra
Ketua Majelis Umum Desa Pakraman (desa adat) Bali Jero Gede Suwena Putus Upadhesa menilai, imbauan mematikan internet sehari di Bali saat Nyepi adalah suatu hal yang luar biasa. Dalam ingatannya, saat televisi dan radio dimatikan siarannya pada 2014, sempat juga terjadi pro dan kontra.

“Namun, setelah dirasakan manfaatnya, sekarang orang malah merindukan hal itu. Itulah Bali. Sekarang, permintaan mematikan internet pasti akan terjadi pro dan kontra. Namun, kalau ini dihayati benar-benar, manfaatnya sangat besar,” tuturnya.
AA Gede Adi, mahasiswa, menilai upaya mematikan data internet saat Nyepi itu berlebihan. “Seolah-olah para pengguna internet itu negatif semua. Ini generalisasi yang sangat berlebihan,” ujarnya.

Sebaliknya, Ketut Marsiniwati, mahasiswi, justru mendukung larangan berinternet saat Nyepi. “Sederhana saja. Ada banyak orang yang killing time saat Nyepi dengan duduk di depan laptop, HP, dan sebagainya. Kalau ini dimatikan, orang akan khusyuk berdoa dan bertapa. Mematikan internet akan sangat membantu, kalaupun dia tidak berdoa, minimal dia tidak menggangu orang lain dengan hiburan yang tidak sehat,” ujarnya.

Selain aktivitas penyiaran, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali juga berhenti beroperasi selama 24 jam, terhitung mulai Sabtu 17 Maret 2018 pukul 06.00 Wita dan akan mulai beroperasi kembali pada Minggu 18 Maret 2018 pukul 06.00. Sedikitnya 482 penerbangan tidak beroperasi pada saat Nyepi.

Terhentinya aktivitas di bandara Bali sudah berlaku sejak 1999 dan selama itu pula Nyepi telah memunculkan makna pencitraan yang positif di dunia internasional. Itu disebabkan Nyepi di Pulau Dewata merupakan tradisi sangat unik dan satu-satunya di dunia serta bisa dilaksanakan secara turun-temurun.

“Ini bakal dicari dunia. Tentu saja ini harus dikemas menjadi paket wisata spiritual dengan Nyepi menjadi ikonnya. Yakinlah, Bali akan dicari dunia karena hal ini,” sahut pengusaha pariwisata Bali Gede Wirata. (OL/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More