Karya yang Teduh dan Lukisan yang Tenang

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI Pada: Minggu, 18 Mar 2018, 00:15 WIB Weekend
Karya yang Teduh dan Lukisan yang Tenang

MI/USMAN ISKANDAR

EMPAT kursi berlapis busa tebal itu se­ngaja diletakkan tak segaris dan hampir membentuk setengah lingkaran. Searah dengan muka kursi, tiga lukisan dipajang di din­ding sudut ruang berbentuk segitiga. Pola penempatan karya dan kursi pengunjung itu membentuk garis segitiga siku-siku imajiner. Kursi penonton pada sisi miring, sedangkan sisi tegak lurus atau siku-siku ditempati tiga lukisan.Saat mencoba duduk di kursi, pola tersebut langsung mengarahkan mata tertuju pada lukisan. Sudut siku itu mampu menyatukan arah pandang menjadi lebih fokus pada lukisan. Tidak hanya satu, tetapi tiga lukisan sekaligus.

Dengan pola tata itu, orang yang duduk di kursi bisa berhadapan muka langsung dengan karya lukisan. Pandang mata tidak terhalang sesuatu pun, hanya berfokus pada karya. Terdapat dua sisi yang diset dengan pola seperti itu. Masing-masing memajang tiga karya secara berdampingan. Itulah tata ruang pamer di yang ada di lantai 2 Tugu ­Kunstkring Paleis Jakarta. ­Ruang pamer itu menjadi wilayah kuasa untuk 15 karya dari 3 seniman. Setidaknya mulai 21 Februari sampai 21 Maret 2018 mendatang.

Ketiganya beruntung bisa berpamer karya di ruang yang sama dengan yang pernah dipakai untuk memajang karya tokoh seni lukis dunia seperti Pablo Picasso dan Vincent van Gogh. Ketiga seniman itu ialah Edi Markas, Revoluta S, dan Sohieb Toyaroja.
Ketiganya juga mampu memberikan warna yang bisa bersenyawa dengan ruangan bersejarah itu. Kesan temaram akibat lampu redup ruang, mampu memberikan suasana yang adem dan tenang. Seolah sepakat, ketiga seniman itu masing-masing menghadirkan karya yang kuat nuansa redup.

Sebutlah karya Edi Markas berjudul Strings Harmony (2017). Karya berdimensi 125 cm x 140 cm itu menghadirkan tiga figur perempuan yang bermain biola. Dengan komposisi warna yang cermat, lukisan itu menghasilkan paduan warna dengan nuansa gelap yang berimbang. Terlalu gelap membuat pola lekuk figur menjadi kabur. Terlalu terang malah membuat lukisan itu tidak bisa bersenyawa dengan ruang temaram.

Karya Edi yang lain juga punya napas sama. Misalkan, Hanoman Pembela Kebenaran (2017), Panen Ikan (2017), Siap Tanding (2018), dan Dolanan Wayang (2016). Sementara itu, karya Revoluta S menempatkan warna-warna yang saling berimpitan. Hasilnya, karya yang hidup dengan paduan goresan spontan. Sama dengan Edi, Revoluta juga menempatkan lima karya pada pameran itu. Beberapa di antaranya Fleksibel (2018), All will Come Back (2018), Turmoil (2018), My Country (2017), dan Woman in Trap (2017).

Sohieb Toyaroja muncul dengan warna-warna yang khas. Seniman yang terkenal dengan lukis palet itu juga menampilkan lima karya. Sohieb mencoba menghidupkan suasana meditatif dengan menampilkan lukisan yang bernuasa tradisi pada masa lampau.
Karya Sohieb berjudul Meditation with Keris #1 (2018) menjelaskan gaya lukis Sohieb. Karya itu menggambarkan seorang laki-laki dengan keris sebesar tangan. Ia memegang gagang keris dengan tangan kiri, sedangkan tangan yang lain nampak sedang mengelus bilah keris.

Suasana tenang langsung menyergap ketika memperhatikan karya itu. Nuansa merah yang tidak terlalu menyala berpadu dengan warna gelap. Namun, warna itu menutup semua bagian kanvas. Masih ada warna putih yang seolah menjadi bingkai.
Figur itu merundukkan pandangan pada bilah itu dengan begitu bersahaja. Lelehan warna merah gelap menuruni kanvas dengan pelan. Masih membentuk garis yang bisa diikuti dengan padang mata. Begitu tenang dan begitu dalam.
Karya Sohieb yang lain juga punya nuansa yang sama. Empat lukisan lain, yakni Meditation with Keris #2 (2018) dan Wonder Women in Front of Batik (2018) yang terdiri dari tiga seri.

Ikut andil
Bangunan bersejarah tersebut awalnya dikenal ­sebagai Nederlandsch-Indische Kunstkring of the Dutch East Indies atau Lingkaran Seni Rupa Hindia Belanda. Gedung ini dibuka pada 17 April 1914. Organisasi ini didirikan untuk pertama kalinya pada 1 April 1902 di Batavia, dengan tujuan untuk mengenalkan praktik seni rupa dan mewadahi antusiasme terhadap seni pada masa itu.

Pengelola Tugu Kunstkring Paleis Annette Anhar mengungkapkan bahwa gedung itu adalah oasis bagi para pencinta seni dan budaya ­begitu pun bagi para penikmat kuliner. Gedung yang berusia satu abad itu menghidupkan rasa cinta terhadap seni dan budaya Nusantara dengan cara ikut andil dalam mengapresiasi pameran-pameran yang memiliki nilai seni, ­budaya, dan sejarah. Salah satunya berkolaborasi dengan tiga seniman tersebut.

“Ketiga pelukis ini adalah pelukis yang memiliki ­karakter yang berbeda tetapi mereka memiliki satu benang merah yang sama dan membuat mereka berpikiran ­terbuka, rendah hati, semangat bereksplorasi, serta saling berbagi bantuan dalam mengatasi problematika berkesenian bahkan kehidupan, serta memiiiki daya penyampaian pesan yang sangat kuat ­terhadap para penikmat lukisannya. Inilah yang menyatukan mereka,” terang Annette Anhar dalam sambutannya.

Miftah Achmad, Manager Galeri Tugu Kunstkring Paleis menambahkan, tugu pihaknya mengapresasi segala bentuk karya seni. Sebab itu, Galeri Tugu Kunstkring Paleis berharap para seniman dapat bergabung untuk mengembangkan potensi seni di Tanah Air.
“Karakter karya sangat ­beragam apa pun bentuk nya selagi itu seni pasti kita dukung tidak harus karya seni berupa lukisan saja. Apa pun itu yang bersentuhan dengan art,” ujar Miftah. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More