Dugong, si Pemalu Penanda Kelestarian Laut

Penulis: SURYANI WANDARI Pada: Sabtu, 17 Mar 2018, 23:45 WIB MI Anak
Dugong, si Pemalu Penanda Kelestarian Laut

DOK PRIBADI

DUYUNG yang Medi maksud bukan perempuan cantik berambut panjang dengan kaki yang dapat berubah menjadi ekor ikan jika terkena air seperti dalam dongeng, melainkan mamalia laut di Indonesia yang juga satu-satuanya satwa Ordo Sirenia atau yang umum disebut sapi laut. Penasaran sobat? Yuk simak Medi

Lamun, rumput di laut
Sabtu (10/3) di acara Deep and Extreme Indonesia 2018, WWF, lembaga pemerhati lingkungan, mengadakan diskusi tentang konservasi kondisi dugong dan lamun. Tahukah sobat, kedua satwa dan tumbuhan ini memiliki peran penting untuk kehidupan loh. “Peran mereka sangat besar, lamun atau seagrass menjadi indikator laut masih sehat. Jika ada lamun, maka akan ada dugong disitu,” kata kak Ahmad Sofi ullah, Direktorat Korservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia. Lamun tentu berbeda dengan rumput laut atau dikenal dengan seaweed yang biasa kita temui.

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang membentuk padang rumput di dasar perairan pesisir dangkal. Bentuknya bisa beraneka Sobat, ada yang memanjang ke atas, pita, ataupun lonjong. “Lamun berfungsi menyaring limbah dan menjaga kualitas air laut. Lamun juga menyimpan lebih dari dua kali jumlah seluruh karbon dioksida, yakni mencapai 83 ribu ton/kilometer persegi yang disimpan oleh hutan di darat,” kata kak Udhi E Hernawan, penelitu lamun PJO Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kak Udhi menjelaskan, lamun ini menjadi rumah daan tempat mencari makan bagi banyak biota laut sehingga banyak mahluk yang tinggal disekitarnya.

Saat ini lamun tersebar di hanya 0,2% dari seluruh perairan di planet bumi loh. Tapi sayangnya, dari data LIPI tahun 2017 1.507 kilometer persegi luas padang lamun di Indonesia, hanya 5% yang tergolong sehat, 80% bkurang sehat dan 15% tidak sehat. Padahal sobat, lamun pun sama seperti tumbuhan m a n g r o v e lo, ia berpungsi melindungi pantai dan area pesisir dari abrasi. Makan lamun Jika lamun sehat, tentu dugong akan berada di situ lo sobat.

“Meskipun susah dilihat karena pemalu, kalau tanaman lamun habis, sudah pasti dugong tidak akan ada di sana,” kata kak Ahmad. Dugong memang salah satu mamalia laut pemakan lamun lo, bahkan ia disebut sebagai sapi laut yang juga masih merupakan kerabat gajah yang berevolusi. Dalam proses memakan lamun, dugong pun sekaligus menyeimbangkan pertumbuhannya. “Ia memakan sambil mengeruk pasirnya, lalu memuntahkan kembali bibit-bibit lamun bersama mineral yang ada di mulutnya,” kata kak Ahmad.

Seusia manusia
Tahukah sobat, dugong ini berumur panjang lo, dia bisa hidup sampai 70 tahun. Ia pun mampu menahan napas di dalam air sampai 12 menit sambil mencari makan dan berenang. Namun, bentuk ekornya yang datar membuatnya bergerak lembut dan lambat. Akibatnya, ia
pun susah menghindar dari baling-baling kapal nelayan sehingga rawan terluka bahkan tewas.

Sementara, jika ia mempunyai anak, anaknya pun tidak mampu bertahan tanpa ibunya. “Anaknya sangat bergantung pada induknya, sekitar 9 bulan ia menyusui dan terus mengikuti induknya kemana pun. Jadi jika induknya terluka, anaknya sulit bertahan hidup,” kata kak Ahmad.

Diburu karena air mata dan dagingnya
Di beberapa daerah banyak berkembang mitos mengenai dugong, Konon dugong akan menangis bila ia tidak berada di dalam air. Air mata dugong pun dianggap sebagai ramuan alias pelet sehingga banyak yang memburunya. Padahal menurut kak Ahmad, air mata itu hanya lendir pelembab mata dugong yang keluar dari kelenjar air mata ketika dugong tidak berada di dalam air. Akibatnya, ia terlihat seperti menangis lo.

Tak hanya air mata, dugong pun masih diburu hidup-hidup untuk mengonsumsi dagingnya lo. Padahal, hewan ini sudah dilindungi pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Hewan lo. Kak Ahmad pun tidak menganjurkan daging dugong dikonsumsi karena dugong memakan lamun. Lo kok bisa? Ingat ya Sobat, Lamun itu menyerap hara, menyaring limbah apalagi dibawah tanaman lamun pasti terdapat B3 (bahan berbahaya dan beracun) yang mengendap. “Jika dugong memakan itu berarti B3 itu akan menempel pada tubuhnya, sehingga jika daging dugong dimakan kita, B3 itu pun akan menempel di tubuh kita,” ungkap kak Ahmad.

Mari lestarikan si pemalu
Dugong memiliki persebaran yang luas meliputi 37 negara. Di Indonesia, dugong tersebar di hampir semua kawasan pesisir. Untuk mendatanya, Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) Indonesia pun sempat kesulitan karena dugong ini pemalu dan cenderung akan menghindar dari manusia.

Sehingga DSCP meminta bantuan nelayan sekitar kita untuk dapat melaporkan jika bertemu dugong. Di beberapa daerah seperti Bintang Kepulauan Riau, Kotawaringin Barat Kalimantan Barat, Tolitoli Sulawesi Tengah hingga Alor Nusa Tenggara Timur sudah terdapat pengelolaan dan konservasi dugong dan lamun berbasis masyarakat. Mereka menanam dan merawat lamun karena untuk dapat melestariakan dugong, kita harus memberinya ruang untuk sumber makanannya. Mari lindungi laut dan kekayaannya ya Sobat Medi! (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More