Melepas Rindu dengan Se’i

Penulis: M TAUFAN SP BUSTAN Pada: Sabtu, 17 Mar 2018, 23:31 WIB Weekend
Melepas Rindu dengan Se’i

MI/RAMDANI

BILA berkunjung ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pastikan jangan lupa Anda mencicipi se’i. Se’i yang berarti daging dalam bahasa lokal biasanya menggunakan potongan daging babi. Tapi untuk yang tidak mengonsumsi babi, tersedia se’i sapi dan ayam. Namun tidak perlu jauh-jauh ke Kupang untuk menikmati se’i. Coba kunjungi Koka Sikka di pusat kuliner Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Karena kami baru buka di awal bulan ini, jadi masih se’i sapi yang dijual,” aku Co Owner Koka Sikka Eric Oktorian, mengawali perbincangan Selasa (6/3). Se’i diolah dengan cara pengasapan. Setelah daging has dalam sapi dibersihkan, lalu diiris tipis memanjang. Daging itu kemudian ditaburi bumbu dan rempah khusus.

Butuh 6-8 jam pengasapan untuk membuatnya matang dan mengawetkan daging. Di daerah asalnya, pengasapan menggunakan kayu kosambi. Jenis pohon daerah kering ini masih dalam kerabat pohon rambutan. Kayu berwarna merah muda hingga kelabu ini berkarakteristik padat, berat, dan sangat keras. Selain itu, aroma kayu ini memperkuat aroma bumbu dan rempah. Sayangnya, karena keterbatasan kayu di Jakarta, Koka Sikka terpaksa menggunakan kayu rambutan, kayu mangga, dan kayu apel. Tiga kayu ini tidak memengeruhi rasa se’i. “Citarasa se’i-nya dapat, tetap lezat. Apa lagi kami menggunakan alat pengasapan,” terang Eric

Sambal
Menikmati se’i akan semakin lengkap dengan sambal, nasi, sayur, dan kaldu. Di tempat ini ada tiga pilihan sambal, sambal matah, sambal caruak, dan lu’at. Rasa rempah dan bumbu se’i sangat terasa, bahkan sebelum dicocol dengan sambal. “Untuk bumbu dan rempahnya standar saja, ada garam, merica hitam, bawang putih, dan bumbu dan rempah rahasia kami. Itu semua digiling kemudian ditaburi di atas daging baru didiamkan kurang lebih setengah jam lalu masukkan ke alat pengasapan hingga enam sampai delapan jam tergantung banyaknya daging yang ingin diasap,” ungkapnya.

Untuk sambal matah, Eric memadukan bawang merah, bawang putih, cabai rawit, serai, daun jeruk, jeruk nipis, dan minyak. Sambal caruak asal Sumatra Barat, Eric mencampurkan cabai merah besar, bawang merah, bawang putih, garam, daun jeruk, dan campuran bumbu serta rempah khusus Koka Sikka. “Pada sambal caruak rempah dan bumbu yang digunakan ini digiling halus kemudian digoreng sampai matang kurang lebih 10 menit lalu ditaburkan di atas se’i. Proses embuatannya sangat sederhana,” ujarnya. Sementara itu, sambal lu’at yang merupakan sambal autentik se’i terbuat dari beberapa rempah dan bumbu, seperti daun jeruk, daun kemangi, penyedap rasa, dan jeruk.

Yang menjadi pembeda sambal ini dengan sambal lainnya ialah penggunaan jeruk nipis. “Selain itu ada tambahan bumbu khusus ala Koka Sikka. Sambal ini di Kupang adalah pasangan saat menyantap se’i. Nah, kami di sini padukan beberapa sambal biar lebih berasa Indonesia, karena ada sambal dari Bali, Sumatra Barat, hingga NTT. Bisa jadi nanti akan ada tambahan sambal lain,” ungkap Eric. Sementara itu, kaldu terbuat dari garam, pala, sereh, daun jeruk, dan merica yang dimasukkan dengan tulang dan daging iga. Semua dimasak sekitar 30 menit. Hidangan ini makin lengkap dengan tambahan sayur daun singkong dan bunga pepaya. “Sayur ini diolah seperti pada umumnya. Nah dua sayur ini memang sudah keharusan ada ketika menyantap se’i,” tutup Eric. Untuk menikmati hidangan ini, Anda cukup membayar Rp25 ribu. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More