Putin, Penerus Tsar Laik Pimpin Rusia Lagi?

Penulis: Iwan Jaconiah Kurniawan, Koresponden Media Indonesia di Rusia/X-2) Pada: Jumat, 16 Mar 2018, 10:15 WIB Surat Dari Seberang
Putin, Penerus Tsar Laik Pimpin Rusia Lagi?

MI/Iwan Jaconiah Kurniawan

PADA Minggu, 18 Maret 2018 ini, rakyat Rusia akan memberikan suara mereka. Ini demi sesosok pemimpin yang paling mereka cintai. Sebuah pesta demokrasi di bekas negeri Uni Soviet guna membawa Rusia ke masa depan, siap digelar.

Sepekan terakhir ini, suasana menuju pemilihan presiden (pilpres) sangat terasa. Sejumlah baliho raksasa tentang ajakan masyarakat setempat untuk memberikan suara pada pilpres, masih terpampang rapih di jalanan utama.

Akses berinternet gratis di pusat-pusat fasilitas umum, seperti stasiun kereta atau taman di Moskow, selalu terselip iklan. Ini memang sebagai cara Komisi Pemilihan Umum negera setempat untuk mengingatkan masyarakat untuk tidak golput.

Pada pilpres kali ini, ada delapan kandidat. Mereka adalah Sergey Baburin (Partai Uni Nasional Rusia), Pavel Grudinin (Partai Komunis Rusia/CPRF), dan Vladimir Zhirinovsky (Partai Demokratik Liberal Rusia/LDPR). Lalu, ada Vladimir Putin (nominasi sendiri), Ksenia Sobchak (Partai Inisiatif Sipil), Maxim Suraykin (Komunis Rusia), Boris Titov (Partai Pertumbuhan), dan Grigory Yavlinsky (Partai Yabloko).

Sebagai penulis, saya mengamati perkembangan terakhir dari koran-koran setempat. Saya melihat bahwa kedigdayaan Putin sebagai incumbent kerapkali jadi bahan berita. Itu menghiasi halaman utama beberapa surat kabar setempat. Begitu pula televisi juga menayangkan liputan khusus.

Di kawasan Tverskaya, salah satu jalanan terkenal di Kota Moskwa, saya berjalan bersama seorang rekan, Ahmad Ilham Danial. Kebetulan dia adalah seorang mahasiswa Program Doktoral ilmu sejarah dari sebuah kampus ternama di Kazan.

Perbincangan kami pun, mulai dari hal-hal ringan. Berawal dari sastra sampai politik. Maklum, atmosfer masyarakat setempat untuk menyambut pilpres sangat hangat terasa. Perbincangan tentang calon-calon pun mudah didengar di warung-warung kopi.

"Putin masih sangat kuat karena dia didukung oleh sedikitnya 54 provinsi (negara bagian). Partainya dahulu (United Russia) masih mendukung dia meski kini maju sebagai nominasi sendiri," nilai Danial seraya meneguk secangkir kopi hangat seusai kami berjalan di atas onggokan salju.

Pendapat tersebut memang masuk akal. Bila kita lihat dari sejarah Putin berkuasa dalam kursi kepresidenan, maka sudah tiga kali dia menjabat sebagai orang nomor satu di Rusia. Putin memerintah selama dua kali pada periode 1999-2008. Lalu, pada 2012 hingga sekarang. Bila dia menang kembali pada pemilu nanti, maka empat kalilah dia duduk sebagai Presiden Rusia.

Meski memiliki pengaruh, namun pada Januari lalu, masyarakat anti-Putin sempat melakukan demonstrasi di kawasan pusat kota. Mereka berjalan dan berteriak-teriak melewati ruas jalan utama. Inti pesan mereka, yaitu meminta Putin untuk tidak mengikuti Pilpres kali ini.

Namun, keikutsertaan Putin pada Pilpres memang tidak bisa dilarang oleh siapapun. Undang-undang di negeri setempat memperbolehkan dia. Itu memang sah. Politik memang bergitu adanya. Ada yang anti dan ada pula yang dukung.

Menang telak
Saya mendapati ada hal menarik pada Pilpres Rusia kali ini. Tass, sebuah kantor berita Rusia, melakukan polling pada 29 Januari s/d 4 Februari 2018. Hasilnya, sebuah gambaran realitas yang menarik.

Tass memublikasikan hasilnya kepada publik. Itu membuat politikus-politikus setempat pun kebakaran janggut. Sebagai catatan, kantor berita ini terkenal akurasi, konsisten, dan kredibilitas dalam pemberitaan.

Pada hasil polling tersebut, kekuatan dan kedigdayaan Putin masih sangat kuat. Putih diakui sebagai tokoh yang mampu membawa Rusia mendapatkan kembali pengaruhnya di tingkat dunia. Ini sah-sah saja karena tolak ukur ilmiah menjadi pegangan Tass dalam menjalankan polling.

Uniknya, pada pilpres kali ini terjadi perpecahan suara di kubu Partai Komunis Rusia. Hal itu membuat suara para pengikut terbagi untuk Grudinin dan Suraykin. "Loyalitas partai ini terbagi karena terjadi semacam perseturuan internal. Berkaca pada sejarah, ini memang memperburuk perolehan suara di partai ini pada Pemilu Rusia," nilai Danial, alumnus Fakultas Sastra di Universitas Padjadjaran, Bandung, itu.

Pada polling versi Tass menunjukkan bahwa suara Putin paling tertinggi dengan perolehan 71,4 % suara. Posisi kedua diraih Grudinin (6,9%). Kemudian, Zhirinovsky (5,7%), Sobchak (1,3%), Yavlinsky (0,7%), dan Titov (0,4%). Sementara, Suraykin serta Baburin berada pada posisi terbawah dengan suara nol persen.

Survei dilakukan melalui wawancara telepon dengan 7.000 responden berusia 18 ke atas di 80 wilayah di Rusia. Sekitar 40% dari jumlah tersebut dipilih secara acak dari band stasioner dan 60% dari ponsel. Adapun ukuran kesalahan tidak melebihi 1,2 % dari maksimum probabilitas 95%.

Hasil tersebut tentunya jadi perhatian banyak orang. Proyek ini digarap Dmitry Trunov bersama timnya dari Tass. Memang berbagai spekulasi pun bermunculan. Tidak sedikit pendukung kandidat lainnya pun manolak.

Anti Putin menilai hasil polling tersebut sebagai alat propaganda. Tak mengherankan, materi khusus secara de facto yang ada di media dan sumber daya internet kerap jadi bagian yang dipolitisasi. Penting diingat bahwa di era bebas digital ini, masyarakat mudah mengakses informasi.

Pada beberapa waktu lalu, sempat mencuat tentang kandidat perempuan dari kalangan Muslim Rusia. Dia adalah Ayna Gamzatova, istri seorang Mufti dari Dagestan Akhma-khadzhi Abdulayev. Namun, kandas karena tidak memenuhi syarat menurut Komisi Pemilihan Umum setempat.

Rumor pun beredar saat itu bahwa apabila Gamzatova mampu tembus maka akan ada persaingan antara komunitas Muslim dan Kristen Orthodox Rusia. Meski demikian, masih sulit bagi calon kandidat perempuan tersebut. Kedigdayaan Putin memang tak tertandingi karena dia masih dipercaya, disayangi, dan dipuja rakyat.

Mawar merah untuk Tabakov
Salah satu bentuk nyata Putin dekat dengan rakyatnya, yaitu dia melayat ke upacara penghormatan terakhir seniman Oleg Tabakov pada Kamis (15/3). Jenazah Tabakov disemanyamkan di aula Chekhov Moscow Art Theatre di kawasan Tverskaya.

Tabakov dalam dunia seni pertunjukan, teater, dan perfilman Rusia, sangat pengaruh sosoknya. Dia adalah pendiri Teater Sovremennik yang jadi tempat kongkow-kongkow seniman setempat. Jenazahnya dikebumikan di Pekuburan Novodevichy.

Tabakov meninggal pada Senin, (12/3) dalam usianya yang ke-82. Sebelum meninggal, dia sempat mengalami sakit yang serius. Sejak beberapa bulan sebelumnya, Tabakov ditangani di sebuah rumah sakit setempat. Ia didiagnosa pneumonia sejak November 2017.

Kehadiran Presiden Putin memang tak terduga bagi orang-orang yang sedang melayat. Sekretaris Pers Presiden Dmitry Peskov pertama kali masuk ke tempat duka secara diam-diam. Ia membungkuk ke para tamu dan kemudian tiba-tiba keluar.

Putin sendiri muncul di aula Chekhov Moscow Art Theatre setengah jam sebelum akhir perpisahan. Sang Presiden diam-diam masuk dengan buket besar mawar merah. Dia berdiri di depan peti jenazah Tabakov. Sejurus, dia melangkah sembari menyeka air matanya.

Putin kemudian duduk dengan Marina Zudina, istri kedua almarhum. Lalu, beberapa kali berbicara dengan dia. Tak berapa lama, Putin berdiri dan memberi salam dengan cara menundukan kepalanya lalu meninggalkan aula.

Kini, Pilpres Rusia sudah di depan mata. Rakyat setempat siap menyambut pesta demokrasi. Memberikan suara mereka sebagai bentuk mendukung kemajuan dan kejayaan Rusia. Di tangan pemimpin yang tepat, sebuah bangsa dapat terus jaya. (Iwan Jaconiah Kurniawan, Koresponden Media Indonesia di Rusia/X-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More