Lakpesdam PBNU Ajarkan Santri dan Mahasiswa tentang HAM

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 14:04 WIB Nusantara
Lakpesdam PBNU Ajarkan Santri dan Mahasiswa tentang HAM

Ist

HAK Asasi Manusia merupakan hak yang dimiliki manusia sejak lahir, berlaku seumur hidup, dan bersifat kodrati sebagai pemberian Tuhan Maha Pencipta. Undang-Undang Dasar 45, dan khususnya UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, telah secara jelas menguraikan hak-hak asasi yang dijamin dan dilindungi negara.

Untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya hak asasi di tengah masyarakat, idealnya dapat dimulai dengan pendidikan HAM untuk setiap kalangan.

Dalam rangka pengarusutamaan kultur HAM di tengah masyarakat luas, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) dan Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST) bekerja sama melaksanakan pelatihan HAM bagi para mahasiswa dan santri senior di Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqo, Jombang, Jawa Timur, baru-baru ini.

Pelatihan HAM tersebut mengambil tema 'Halaqah Islam Ramah HAM: Islam Wa Al-Huquq Al-Insaniyyah Perspektif Hukum dan Aswaja'. Para santri terlihat antusias berdiskusi mengenai sejarah dan filosofi dasar HAM. HAM dari sudut pandang hukum nasional dan internasional dan HAM dari sudut pandang Islam dan nilai-nilai NU.

Para mahasiswa dan santri didorong untuk menyampaikan pendapat mereka mengenai kebebasan beragama dan berkepercayaan dari sudut pandang ajaran Islam dan dari sudut pandang HAM, baik yang selaras maupun yang menurut santri tidak mendapatkan titik temu.

"Diskusi seperti ini sangat membantu memperluas pemahaman para mahasiswa dan santri senior atas HAM dan akan memperluas wilayah toleransi bagi orang lain yang memiliki agama atau kepercayaan berbeda dari para santri," ujar Dr Rumadi Ahmad, Ketua Lakpesdam PBNU, lewat keterangannya yang diterima, Kamis (14/3).

Sekretaris Lakpesdam PBNU, Dr H Marzuki Wahid, menambahkan bahwa secara prinsip, Islam dan HAM sebenarnya tidak bertentangan.

Sementara, Prof Makarim Wibisono, salah satu pendiri FIHRRST, mengatakan, kesediaan beberapa perguruan tinggi Islam dan pesantren di Jombang mengirimkan para mahasiswa santri senior untuk mengikuti pelaksanaan pelatihan HAM menjadi bukti bahwa nilai-nilai HAM dan toleransi yang disebarkan oleh mendiang Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang lahir di Jombang, telah tertanam dengan kuat di masyarakat.

Prof Hj Istibsjaroh, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah al-Urwatul Wutsqo (STIT-UW) Jombang, sangat mendukung terlaksananya kegiatan pelatihan Islam ramah HAM ini. Ia berpendapat masih banyak masyarakat yang belum mengerti masalah HAM secara mendetail.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa kegiatan ini sangat diperlukan untuk memberikan wawasan yang luas tentang HAM untuk mahasiswa dan santri, karena itu perlu diadakan secara reguler.

Pengarusutamaan nilai-nilai HAM termasuk toleransi beragama akan sangat mendukung terwujudnya harapan di mana Indonesia dapat menjadi pelopor dalam mempromosikan Islam yang moderat, yaitu yang utamanya sejalan dengan penghargaan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia.

Kursus singkat ini diharapkan dapat memberikan khasanah baru terhadap reputasi Islam yang damai, pluralis, dan humanis.

Keberhasilan kegiatan pelatihan HAM yang didukung oleh Canada Fund for Local Initiatives ini diharapkan dapat mendorong para mahasiswa dan santri senior untuk menyebarkan nilai toleransi dan penghormatan HAM di lingkungan mereka. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More