Ingin Mengedukasi Masyarakat Belanja Cermat dan Hemat

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Kamis, 15 Mar 2018, 08:51 WIB Wirausaha
Ingin Mengedukasi Masyarakat Belanja Cermat dan Hemat

MI/M Taufan SP Bustan

COUNTRY Head dan Co-founder Shopback Indonesia, Indra Yonathan, 31, berhasil membawa start-up portal e-commerce miliknya menjadi yang terdepan di Tanah Air.

Di bawah kemudinya, mekanisme belanja online (daring) dengan memanfaatkan program komisi cashback (uang kembali) itu telah membantu masyarakat berhemat hingga lebih dari Rp60 miliar. Bukan itu saja, pertumbuhan bisnis Shopback pun meningkat hingga tiga kali lipat. Sebuah pencapaian cukup signifikan untuk sebuah start-up yang baru berdiri dua tahun.

Shopback ialah start-up pertama atau pelopor yang menawarkan mekanisme belanja dengan uang kembali secara daring di Asia Pasifik. Cara belanja tersebut dinilai lebih cermat dan hemat.

Menurut Yonathan, lahirnya Shopback di Indonesia tidak terlepas dari kegelisahannya yang ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan model market place, khususnya e-commerce.

Berawal dari tantangan baru itulah, Yonathan mendirikan Shopback pada 2016. Itu dimulai dari tim kecil yang setiap harinya bekerja mengelola Shopback dari coffee shop ke coffee shop lain di Jakarta.

"Awal didirikan bertujuan membuat belanja masyarakat di seluruh Indonesia menjadi lebih cermat dan hemat dengan menyediakan uang kembali lebih dari 30% bagi para pelanggan. Selain itu, mekanisme Shopback juga menyediakan solusi pemasaran yang terjangkau dan efektif bagi para mitra dagang," jelasnya di Jakarta, pekan lalu.

Saat itu, Yonathan dan tim kecilnya harus bekerja berpindah-pindah dan menumpang wi-fi gratis coffee shop. "Benar-benar kami mulai dari nol dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi sama," tambahnya.

Yonathan bahkan rela keluar dari tempatnya bekerja di salah satu market place terbesar di Indonesia. Berkat pengalaman kerjanya itulah, ia terus bergerak dan berusaha membesarkan Shopback Indonesia.

Dari yang awalnya coffee shop ke coffee shop hingga naik kelas menyewa apartemen berkamar satu, kemudian mampu menyewa apartemen berkamar dua, lalu terus bergerak bersama timnya mengeluarkan ide untuk mengambangkan usahanya itu sehingga Shopback benar-benar bisa diterima masyarakat dan mendapat suntikan dana dari sejumlah investor asing.

Dengan tekad kuat, ditunjang dengan tim yang solid serta culture anak-anak muda zaman now, Shopback akhirnya mendirikan kantor sendiri dengan 27 karyawan.

Mengedepankan ide, kreativitas

Saat ini, Shopback telah mendominasi pasar e-commerce cashback yang ada di Asia, seperti Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Taiwan. Hingga kini terjadi 1.000 transaksi setiap jamnya.

"Dengan lebih dari 1.300 mitra dagang, termasuk di dalamnya Bukalapak, Tokopedia, Uber, Expedia, dan Lazada, kami akan tetap berjuang keras untuk memberikan pengalaman belanja lebih cermat dan hemat bagi para pelanggan," terang Yonathan lagi.

Lebih lanjut, ia mengatakan selalu mengedepankan kreativitas, dan harus merangkul tim muda yang dinamis. Hal itu dilakukannya untuk menghasilkan pelbagai ide dalam membantu meningkatkan pembelian di mitra Shopback Indonesia.

Strategi yang digunakan timnya pun bervariasi, dari daring ke offline (luring), taktik jangka pendek dan panjang, hingga mengawinkan aspek praktis cashback dengan emosional untuk menguatkan loyalitas pengguna.

Yonathan memang dikenal berpengalaman luas di industri perdagangan elektronik. Sebelum bergabung dan menakhodai Shopback Indonesia, Yonathan pernah menjabat sebagai vice president strategic marketing partnership di Lazada.

Selain itu, dia pulalah yang memimpin proyek peluncuran Google Nexian Android One di Spice Group. Pada 2015, Yonathan merupakan ketua komite Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) di Indonesia.

Shopback berkomitmen untuk menghadirkan pelbagai solusi akan kebutuhan belanja daring di Indonesia, dengan layanan yang mudah, menguntungkan dan tepercaya. Fitur layanan yang dihadirkan juga memungkinkan pengguna untuk membandingkan harga (mulai harga transportasi daring, agregasi kupon diskon, serta harga pulsa paling murah).

"Itu semua guna mempermudah pengguna Shopback dalam memutuskan membeli sesuatu," terang Yonathan.

Hingga pengujung 2017 lalu, Shopback Indonesia memiliki ratusan mitra dengan 1,8 juta pengguna. Angka pertumbuhan pengguna bahkan meningkat sembilan kali lipat jika dibandingkan dengan 2016, yang hanya 300 ribu pengguna. Bukan itu saja, pada November 2017 Shopback mendapat kucuran dana senilai US$25 juta, dengan total akumulasi pendanaan mencapai US$40 juta atau senilai Rp540 miliar dari beberapa investor luar negeri.

Selama dua tahun beroperasi di Indonesia, Shopback mencatat pertumbuhan cukup signifikan dengan persentase pertumbuhan bisnis sebesar 300 persen serta telah memberi pengembalian uang ke konsumen sebesar Rp60 miliar.

Yonathan mengaku, pertumbuhan itu tidak lepas dari kerja sama yang telah terjalin bersama mitra-mitranya serta shopbacker (konsumen Shopback) yang setia menggunakan platform Shopback.

"Kami mengucapkan terima kasih atas antusiasme dan kepercayaan para mitra, konsumen, serta media selama dua tahun belakangan ini. Kami sangat senang dapat menempuh dua tahun pertama di Indonesia dengan pertumbuhan yang baik. Memasuki tahun ketiga kami ingin lebih fokus lagi untuk berkontribusi pada pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia serta menawarkan cara belanja cerdas, bijak, dan hemat kepada masyarakat Indonesia," ungkapnya.

(X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More