BI Berikan Bantuan Early Warning System Longsor dan Banjir di Pangandaran

Penulis: Kristiadi Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 14:24 WIB Nusantara
BI Berikan Bantuan Early Warning System Longsor dan Banjir di Pangandaran

MI/Adi Kristiadi

KANTOR Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya memberikan bantuan sosial berupa alat early warning system (EWS) kepada Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat yang sering dilanda banjir dan tanah longsor. BI juga memberikan dana perbaikan masjid dan saluran irigasi di Desa Cigugur.

Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Pangandaran Nana Ruhena bantuan alat tersebut masih belum mencapai ideal terutama longsor dan banjir masih terjadi di 93 Desa tersebar di 10 Kecamatan.

"Untuk mendeteksi tanah longsor 4 alat EWS berada di Desa Kalijati, Kecamatan Sidamulih dan satu alat banjir di Desa Sukanagara, Kecamatan Padaherang. Kebutuhan perlu belum cukup karena masih diperlukan 200 alat longsor dan 10 alat banjir," ujar Nana, Rabu (14/3).

Nana mengatakan, bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Pangandaran sesuai rilis BNPB selama ini di peringkat ke-16 dari 519 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Untuk itu pihaknya masih membutuhkan EWS di 200 titik terutama tanah longsor, dan 10 titik banjir.

"Alat EWS yang dipasang selama ini berguna untuk longsor dan banjir jika dalam rentang waktu adanya pergerakan tanah 8-10 sentimeter masyarakat harus langsung dievakuasi ke daratan lebih tinggi. Karena, suara akan berbuyi termasuk level banjir yang selama ini berada di Desa Babakan dan Purbahayu," katanya.

Nana mengungkapkan pada 2006, 2008, 2012, Pangandaran telah memiliki alat pendeteksi tsunami di sepanjang 91 kilometer pantai pangandaran, ditambah pada 2015 lalu satu alat diberikan oleh BMKG. Jumlah keseluruhan alat pendeteksi tsunami berjumlah 14 buah, tetapi hanya 2 alat pendeteksi masih normal dan lainnya rusak serta komponennya lain mengalami korosi.

Ia menilai, alat pendeteksi dini stunami idealnya harus terpasang di 30 titik sepanjang pantai tetapi anggaran APBD yang dimiliki pemerintah tidak mencukupi untuk anggaran tersebut.

Kepala Bank Indonesia Tasikmalaya, Heru Saptaji mengatakan bantuan alat pendeteksi dini berupa EWS untuk tanah longsor dan banjir yang diberikan kepada Pemerintah Pangandaran sebagai langkah dalam penyelamatan masyarakat. Pasalnya, Pangandaran masuk pada zona rawan bencana seperti halnya banjir, longsor dan bencana stunami tentunya alat tersebut bisa dimanfaatkan jika terjadi musibah.

"Kita hanya memberikan bantuan sosial berupa uang senilai Rp240 juta, perbaikan saluran irigasi Cigugur Rp40 juta, bangunan mesjid Rp60 juta dan pembelian alat EWS sebesar Rp140 juta. Karena banjir dan tanah longsor di Pangandaran sangat rawan bencana tapi itu akan dilakukan kepada daerah lainnya di wilayah Priangan Timur," harapnya.

Sementara itu, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata mengatakan bencana longsor dan banjir yang terjadi selama ini paling rawan di Pangandaran. Pemerintah daerah akan berupaya menganggarkan untuk pembelian EWS dari anggaran APBD untuk 2018 karena memang alat tersebut harus terpasang di sepanjang pantai dan titik tanah longsor dan banjir. Menurutnya bencana yang selama ini terjadi juga dipicu ketidakpedulian masyarakat yang melakukan penebangan pohon berada di Desa Kalijati, Kecamatan Sidamulih dan Desa Sukanagara, Kecamatan Padaherang.

"Memang bencana yang terjadi di Kabupaten Pangandaran selama ini seperti longsor dan banjir tetapi langkah itu telah dilakukan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka menjaga lingkungan dan pohon tetap tumbuh. Karena selama ini kemiringan tahan 45 derajat banyak warga tetap menebang pohon tersebut hingga berdampak pada longsor dan banjir," katanya. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More