Laba Wika Tembus Rp1,2 Triliun pada 2017

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 09:55 WIB Ekonomi
Laba Wika Tembus Rp1,2 Triliun pada 2017

ANTARA/YULIUS SATRIA WIJAYA

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Wika) membukukan laba sebesar Rp1,2 triliun sesuai laporan keuangan (audited) per 31 Desember 2017.

Capaian tersebut mencatatkan rekor baru laba perseroan sepanjang sejarah. Catatan positif tersebut didukung penjualan perseroan pada 2017 yang mencapai Rp26,18 triliun atau meningkat 67,06% dibandingkan penjualan 2016.

Presiden Direktur Wika Bintang Perbowo mengatakan pencapaian laba 2017 ini hampir 2 kali lipat dari laba 2015 yang hanya berada pada kisaran Rp675 miliar dan melonjak signifikan dari laba 2016 yang mencapai Rp1,06 triliun.

Bintang melanjutkan bahwa untuk meningkatkan kinerja 2018, perseroan menganggarkan capital expenditure sebesar Rp12,05 triliun dengan rincian 58,7% untuk penyertaan modal, 36,3% untuk pengembangan usaha dan 5% akan dipergunakan untuk investasi aset tetap.

"Sejalan dengan performa positif yang dicapai, Wika berhasil memperoleh kontrak baru sebesar Rp10,45 Triliun hingga minggu kedua Maret 2018. Sektor infrastruktur menyumbangkan kontrak terbesar senilai Rp7,55 triliun," ujar Bintang melalui rilis yang diterima, Rabu (14/3).

Perolehan kontrak baru di sektor industri mencapai Rp2,05 triliun, sektor energi dan industrial plant berhasil menyumbang kontrak sebesar Rp662 miliar, sementara perolehan kontrak di sektor realty dan properti mencapai Rp196 miliar.

Saat dikonfirmasi, Direktur Keuangan Wika AN Steve Kosasih menyampaikan kontribusi penjualan terbesar datang dari sektor infrastruktur dan bangunan gedung sebesar 62,25%.

Sektor industri penunjang infrastruktur berkontribusi sebesar 17,92%, Sektor energi dan industrial plant sebesar 14,41% serta sektor realti dan properti berkontribusi sebesar 5,41%.

"Bukan hanya laba yang kita bukukan terbesar sepanjang sejarah Wika, kesehatan keuangan Wika pun mencapai yang terbaik sepanjang sejarah,"

Posisi kas dan setara kas Wika juga mencapai posisi tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp11,25 triliun.

Posisi utang berbunga sebesar Rp9,01triliun dan total ekuitas sebesar Rp14,63 triliun menghasilkan rasio hutang gross gearing dan net gearing masing-masing hanya sebesar 0,62 kali dan -0,15 kali.

"Hal itu menunjukan bahwa Wika amat sangat sehat secara keuanga dan memiliki kemampuan finansial yang sangat tinggi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat dan ditargetkan Pemerintah," ujar Kosasih.

Pada 2017, Wika juga berhasil membukukan arus kas operasi positif sebesar Rp1,87 Triliun atau meningkat sebesar 233,62% dibandingkan 2016.

"Salah satu yang tertinggi dan terbaik di industri konstruksi tanah air di mana banyak perusahaan konstruksi membukukan arus kas operasional negatif," tandas Kosasih.

Bintang menjelaskan bahwa hingga 2018, kontrak baru yang didapatkan perseroan tumbuh hampir 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 10 tahun lalu. Setali tiga uang dengan itu, order book Pprseroan pun tumbuh 6,5 kali lebih besar.

“Dalam 10 tahun terakhir ini, di mana banyak perusahaan tidak mampu bertumbuh bahkan terpaksa gulung tikar, penjualan Wika tumbuh pesat hingga 30 kali lipat, laba bersih dan aset Wika masing-masing melonjak hingga 7 kali lipat, dan ekuitas Wika tumbuh besar hingga 10 kali lipat,” tutup Bintang. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More