Kondisi Gunung Botak Darurat

Penulis: Hamdi Jempot Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 07:20 WIB Nusantara
Kondisi Gunung Botak Darurat

ANTARA

PEMERINTAH Provinsi Maluku meminta pemerintah pusat bertindak cepat dan tegas dalam mengatasi kerusakan lingkungan akibat maraknya penambangan emas ilegal di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku. Apalagi, para penambang menggunakan bahan kimia membahayakan, seperti merkuri dan sianida. Kondisi di Gunung Botak sudah darurat.

"Untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa dan pencemaran lingkungan yang lebih besar lagi, kami meminta tim Kemenko Polhukam yang sudah ada bertindak cepat melakukan penataan lokasi tambang Gunung Botak," kata Kabag Humas Pemerintah Provinsi Maluku, Bobby Kin Palapia, kepada Media Indonesia, kemarin.

Dia menambahkan tambang ilegal Gunung Botak sudah ditangani tim yang dibentuk Kemenko Polhukam sejak 2016. Tim tersebut terdiri atas Kementerian ESDM, TNI/Polri, Kejaksaan Agung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemprov Maluku, Kemenko Maritim, Kodam 16 Pattimura, Polda Maluku, dan Pemkab Buru.

Tim tersebut menata Gunung Batok pascaperintah penutupan aktivitas pertambangan emas ilegal di wilayah itu oleh Presiden Joko Widodo, akhir 2015.

Menurutnya, dengan situasi seperti sekarang ini di Gunung Botak, tim Kemenko Polhukam harus bertindak tegas dan cepat. "Sejak pertambangan ilegal ditutup pada Desember 2016, kini kembali marak. Pemerintah sudah berkali-kali menutup. Jadi dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk tidak lagi menambang di wilayah itu," tambah Palapia.

Belum ada solusi

Masih terkait dengan penambangan emas ilegal, Kalimantan Tengah juga menghadapi problema serupa. Pemerintah Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, mengaku kesulitan melakukan penertiban terhadap sekitar 20 ribu penambang emas ilegal di wilayah itu.

Bupati Gunung Mas, Arton Dohong, mengatakan keberadaan para penambang sangat merusak lingkungan. "Memang penambang emas itu merusak lingkungan, tapi masyarakat butuh makan. Kita mau gimana," kata Arton saat menghadiri rakor pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, kemarin.

Diakuinya, hingga saat ini Pemkab Gunung Mas belum punya solusi dalam penyelesaian masalah penambang emas ini. Pada awalnya pekerjaan masyarakat di kabupaten berpenduduk 140 ribu jiwa ini ialah berkebun karet. Namun, harga karet saat ini anjlok sekitar Rp10 ribu per kg. Hal ini menyebabkan masyarakat beralih profesi karena berjualan karet tidak mencukupi biaya hidup di Gunung Mas.

Saat ini ada tiga kecamatan yang merupakan penghasil emas terbanyak, yakni Kecamatan Sepang Simin, Mining Raya, dan Tewah. Arton Dohong menambahkan saat ini Pemkab Gunung Mas menggalakkan penanaman bibit sawit bagi rakyat.

Masih soal penambangan ilegal, dua anak tewas ditemukan tewas di kubangan galian C, di Desa Plososari, Kecamatan Paten, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kedua anak bernama Eko Prasetyo, 9 dan Saifudin, 8.

Kapolsek Patean, Ajun Komisaris Abdullah Umar, menduga kedua korban tidak bisa berenang sehingga tenggelam di kubangan galian C. "Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya tanda-tanda luka akibat dianiaya di tubuh korban," terangnya. (SS/AS/N-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More