Resi Gudang Untungkan Petani

Penulis: (BB/LN/LD/AD/CS/N-2) Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 06:16 WIB Nusantara
Resi Gudang Untungkan Petani

Antara

PETANI di Kecamatan Wa-rungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mendapat keuntungan maksimal saat harga beras naik. Mereka mengu-ras simpanan gabah yang sebelumnya di sistem resi gudang. “Saat harga beras bagus, petani memilih menjual gabah dari gudang. Sistem resi gudang menguntungkan petani, karena mereka bisa menjual hasil panen saat harga gabah anjlok,” kata Kabid Perdagangan, Dinas KUKM, Perindustrian dan Perdagangan Cianjur, Yana Kamaludin, Selasa (13/3).

Sistem resi gudang (SRG)memungkinkan petani tetap bisa memanfaatkan gabah yang ada di gudang. Setelah menyimpan gabah, mereka mendapatkan surat resi, yang bisa digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan kredit dari bank. SRG di Desa Jambudipa, Warungkondang diresmikan pada 2011 lalu. Kapasitas gudang bisa menampung 1.100 ton gabah. Selain memberikan keuntungan kepada petani secara finansial, keberadaan SRG bisa menjamin ketahanan pangan.

Kemarin, dari sejumlah daerah dilaporkan serapan gabah dan beras oleh Bulog masih sangat terbatas. Di Makassar, Sulawesi Selatan, Bulog harus melibatkan anggota TNI untuk menyerap beras. “Petani masih menahan gabah untuk Bulog. Mereka memilih menjual ke pedagang, karena harga yang diberikan lebih tinggi daripada Bulog,” kata Kepala Bulog Makassar Abdul Mukti.

Tentara pun digandeng untuk menyerap beras di Kabupaten Gowa, Pinrang, dan Soppeng. “Petani tidak mau merugi, karena itu mereka memilih menunda menjual gabah ke Bulog,” tutur Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.
Setali tiga uang, Bulog Banyumas, Jawa Tengah, juga harus mengerahkan lima tim Satgas Penyerapan. Mereka juga menggandeng 53 mitra dan empat koperasi Kodim untuk melakukan hal serupa.

“Jumlah kontrak penyerapan mencapai 2.150 ton, adapun realisasinya 1.027 ton beras,” ujar Kepala Bulog Banyumas Sony Supriyadi. Saat ini, Bulog menetapkan harga pembelian gabah kering panen sebesar Rp4.450, gabah kering giling Rp5.580, dan beras medium Rp8.760 per kilogram. Petani di Priangan Timur, Jabar, juga memilih menjual gabah ke pengepul. Harga yang ditawarkan Bulog masih lebih rendah daripada pedagang di pasar.

“Bahkan, harga yang diberikan Bulog masih tidak sebanding dengan biaya produksi dan pengolahan tanah yang kami lakukan. Kepada pengepul beras, kami bisa menjual gabah kering pungut Rp5.700 per kilogram, jauh lebih tinggi daripada tawaran Bulog Rp4.700,” kata Ketua Kelompok Tani Kota Tasikmalaya, Yuyun Suyud.

Ia menambahkan dengan menjual gabah ke Bulog, petani akan mengalami kerugian hingga Rp7 juta setiap hektarenya. “Harga pembelian pemerintah harus dievaluasi, karena sudah tidak sesuai lagi dengan ongkos produksi,” tandas Yuyun. (BB/LN/LD/AD/CS/N-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More