Secercah Asa dari Pertemuan Pulau Dewata

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 05:16 WIB Ekonomi
Secercah Asa dari Pertemuan Pulau Dewata

AFP

OKTOBER mendatang, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-WB). Pertemuan yang digelar di Nusa Dua, Bali, itu bakal dihadiri sejumlah pemimpin dunia, pengusaha, gubernur bank sentral, serta menteri keuangan dari 189 negara. Berbagai agenda dalam pertemuan ini memberi kesempatan kepada peserta untuk membahas isu-isu global, termasuk prospek ekonomi, stabilitas keuangan, lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, penanggulangan kemiskinan, pembangunan, hingga efektivitas bantuan.

Sebagai tuan rumah, banyak maanfaat yang dapat dipetik Indonesia, terutama untuk sektor pariwisata. Sekretaris Tim Kelompok Kerja IMF-WB Annual Meetings 2018 dari Kementerian Keuangan Adi Budiarso mengungkapkan, anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk penyelenggaran pertemuan tahunan ini berkisar lebih dari Rp800 miliar. Alokasi penggunaan anggaran, kata Adi, salah satunya untuk menyiapkan kantor bagi delegasi 189 negara di area hotel sekitar Nusa Dua.

“Jadi para delegasi akan menyewa kantor yang kita buat. Pemasukannya melalui PNBP (penerimaan negara bukan pajak). Nanti barang-barang perlengkapan kantor yang sudah tidak dipakai akan dihibahkan. Kita sedang men-develop bagaimana mekanisme hibahnya. Bisa untuk perguruan tinggi yang membutuhkan,” ujarnya dalam diskusi kelompok terfokus di Kantor Media Group, Senin (12/3).

“Manfaatkan pertemuan ini bukan hanya untuk memberikan servis yang baik. Justru Indonesia harus bisa meleverage ekonomi nasional di mata dunia. Termasuk persoalan yang dihadapi, misalnya isu kelapa sawit (crude palm oil/CPO) yang di-banned Eropa. Bagaimana kita menyuarakan dalam forum,” ujar Wakil Sekjen PDIP Eriko Sotarduga yang juga hadir dalam diskusi tersebut.

Pada umumnya, para peserta diskusi memandang positif pertemuan tahunan yang akan digelar di Pulau Dewata itu. Mereka intinya mengingatkan agar momen besar ini dapat dimanfaatkan Indonesia selaku tuan rumah untuk kepentingan perekonomian nasional.
“Dari sisi teknis kita sudah siap. Lalu dari konten, kita harus bisa menyiapkan berbagai tema, memasukkan agenda sebagai Indonesia dan sebagai wakil dari negara-negara yang sedang berkembang,” ujar ekonom yang juga rektor Universtas Paramadina, Firmanzah.
Beberapa tema yang perlu diangkat dalam pertemuan akbar nanti, menurut Firmanzah, ialah peran sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dalam memajukan perekonomian negara, inklusi keuangan, pemerataan pembangunan, sinergi antara ekonomi konvensional dan berbasis digital, hingga pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, event ini sekaligus menjadi arena pembuktian kemampuan Indonesia dalam mengonsolidasi antara pembangunan ekonomi dan politik. “Pertemuan tahunan ini dekat dengan sejumlah event besar, terutama pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Kita bisa menunjukkan ke dunia bahwa konsolidasi pembangunan ekonomi dan politik bisa berjalan dengan baik.”

Kemampuan melobi
Ekonom senior Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono menyatakan, walaupun event itu merupakan pertemuan IMF-dan Bank Dunia, kegiatan ini sesungguhnya adalah pameran mengenai Indonesia. Karena itu, kata dia, pemerintah perlu menyiapkan tim yang mumpuni untuk melobi, baik di bidang ekonomi/keuangan, investasi, perdagangan, dan sebagainya. “Itu semua sangat penting,” ujar Tony.

Sebagaimana keinginan Presiden Joko Widodo untuk terus meningkatkan kinerja ekspor, ajang tahunan IMF dapat menjadi kunci bagi terciptanya berbagai kesepakatan dengan negara-negara nontradisional sebagai pasar baru komoditas-komoditas lokal. Bagi negara tradisional, momentum kali ini dapat dijadikan untuk menjelaskan lebih jauh mengenai berbagai persoalan yang selama ini masih menaungi produk lokal, seperti kelapa sawit yang dianggap tidak ramah linkungan sehingga ditentang parlemen Uni Eropa. “Intinya harus ada target MoU, harus ada kesepakatan baru. Perdagangan kita masih menyisakan beberapa persoalan. Itu bisa menjadi perhatian kita semua,” terang Tony.

Selain perdagangan, pariwisata juga menjadi sektor yang mendapatkan manfaat besar dari perhelatan Annual Meeting IMF. Hampir sebagian besar masyarakat dunia kini tengah dilanda demam leisure economy. Indonesia, sambung Tony, dapat memperkenalkan berbagai daerah wisata yang memang tengah digaungkan pemerintah, terutama 10 destinasi yang dijuluki sebagai ‘Bali Baru’.

Tony merujuk pada pengalaman Peru yang menjadi tuan rumah bagi Annual Meeting IMF 2015, peningkatan wisatawan asing ke negara yang terletak di Amerika Selatan itu mencapai 17%. “Dampaknya memang tidak akan seketika di tahun ini, tetapi baru bisa di tahun berikutnya. Kalau tahun lalu jumlah wisatawan asing ke Indonesia sebesar 12,7 juta jiwa, di tahun ini mungkin bisa 15 juta dan tahun-tahun berikutnya lebih besar lagi,” paparnya. (Tes/E-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More