Sawit itu Menyebar dari Bogor

Penulis: E-1 Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 03:00 WIB Ekonomi
Sawit itu Menyebar dari Bogor

MI/Aries Munandar

PRESIDEN Joko Widodo telah menandatangani prasasti plasma nutfah kelapa sawit di Kebun Raya Bogor (KRB). Penandata-nganan itu menjadi bukti komitmen pemerintah terhadap industri kelapa sawit di masa depan. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa tanaman sawit yang menjadi primadona di Indonesia itu berasal dari kawasan di Afrika Barat. Tanaman tersebut dibawa ahli botani asal Belanda pada 1848.

Menurut Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI (Kebun Raya Bogor) Didik Widyatmoko, kala itu ada empat pohon induk kelapa sawit yang ditanam di Buitenzorg Botanical Garden yang sekarang dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Waktu itu Belanda mengumpulkan ber­bagai tanaman yang cocok di­tanam di Indonesia, termasuk sawit, kina, dan kayu manis.

“Sawit jadi komoditas andalan Indonesia itu bermula dari sini,” ujar Didik dalam keterangan tertulisnya. Benih dari empat pohon terse­but kemudian ditanam sebagai tanaman hias dan peneduh pa­da perkebunan tembakau di Deli, Sumatra Utara. Melihat pertumbuhannya yang sangat baik, kemudian M Adrien Hallet, seorang warga negara Belgia, membangun perkebun­an kelapa sawit pada skala ekonomi seluas 2.630 hektare (ha) di Sumatra Utara dan Aceh pada 1911.

Benih dari tanaman sawit yang ditanam di perkebunan tembakau di Deli tersebut lantas menyebar ke seantero Indonesia dan Malaysia. Dari pohon induk Dura Deli ini, kini telah dihasilkan bibit-bibit unggul kelapa sawit yang sudah mencapai empat generasi. Hingga kini, total sudah ada 50 varietas bibit unggul kelapa sawit, yang plasma nutfahnya berasal dari Dura Deli.

Ketua Umum Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan keempat pohon induk yang menjadi pangkal cerita sukses itu sudah mati pada 1992 lantaran dimakan usia. “Kita tidak ingin kehilangan sejarah itu. Kita ingin mengemba­likan bahwa Kebun Raya Bogor tetap menjadi sejarah perkembangan industri sawit,” kata Joko Supriyono. (E-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More