Presiden Minta AS Tingkatkan Investasi

Penulis: Nur Aivanni Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 02:45 WIB Ekonomi
Presiden Minta AS Tingkatkan Investasi

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

PRESIDEN Joko Widodo meminta perusahaan-per­usahaan Amerika Serikat meningkatkan investasi me­reka di Indonesia. Saat menerima delegasi US-ASEAN Business Council, Presiden Jo­kowi meminta mereka untuk mem­promosikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi Amerika Serikat. “Presiden meminta untuk mening­katkan investasi di Indonesia, dan tujuan kami ialah untuk melihat apakah kita bisa membantu dan be­kerja sama untuk mempromosikan Indonesia sebagai tujuan investasi Amerika,” kata Presiden US-ASEAN Business Council ­Alexander C Feldman seusai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (13/3)

Pada kesempatan tersebut, US-ASEAN Business Council membawa 41 perusahaan dari berbagai sektor. Beberapa perusahaan itu antara lain Procter & Gamble, Axa, Coca-Co­la, Expedia, Cigna, Apple, dan Amazon. Investasi asal AS di Indonesia re­latif kecil jika dibandingkan dengan di negara lain. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi AS pada Januari hingga September 2017 menempati urutan keempat dengan nilai US$1,5 milliar.

Singapura menempati urutan per­tama dengan nilai US$6,1 miliar, disusul Jepang US$4 miliar dan Tiongkok US$2,7 miliar. Menteri Perdagangan Enggartias-to Lukita mengatakan delegasi US-ASEAN mengapresiasi atas apa yang sudah dilakukan Indonesia dalam hal kemudahan berusaha. Tak hanya itu, mereka pun menyampaikan komitmen untuk tetap meningkatkan investasi di Indonesia.

“Kita menyatakan bahwa kita akan melakukan yang terbaik untuk investasi. Presiden menyampaikan bahwa economic reform akan tetap terus dilakukan,” ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, Presiden didampingi Menko Kemaritim-an Luhut B Pandjaitan, Sekretaris Ka­­binet Pramono Anong, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir.

Penyederhanaan perizinan
Di tempat terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mene­rangkan bahwa salah satu tolok ukur dari daya saing suatu negara ialah ekspor. Untuk menggenjot ekspor, berarti harus menggenjot investasi.
“Hulu dari ekspor ialah investasi. Kuncinya ada di tangan kita, para pejabat yang bertanggung jawab untuk membenahi iklim investasi,” kata Tom, sapaan akrabnya.

Oleh karena itu, pemerintah te­ngah menyiapkan terobosan besar dalam hal penyederhanaan ­perizinan dengan mempercepat implementasi Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017. “Untuk membenahi iklim inves­tasi, kita harus melayani investor dengan baik. Di era globalisasi dan teknologi seperti saat ini, kita yang harus proaktif mencari investor dan kita sederhanakan proses perizinannya,” imbuh Tom.

Di sisi lain, pelaku usaha pun menyambut baik insentif yang ditargetkan pemerintah rampung pada akhir Maret 2018. Pemberian insentif mencakup revisi fasilitas perpajakan berupa tax holiday dan tax allowance yang selama ini sepi peminat karena prosesnya dianggap berbelit. “Jika sekarang syaratnya ­di­peringan, saya rasa banyak (inves­tor) yang akan mau. Termasuk investasi yang lama pasti mau ekspansi lagi dengan mendapatkan insentif pajak,” ujar pengusaha ­Sofjan Wanandi. (Tes/E-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More