Nia Dinata Film Dokumenter makin Maju

Penulis: Retno Hemawati Pada: Rabu, 14 Mar 2018, 04:45 WIB Selebritas
Nia Dinata Film Dokumenter makin Maju

MI/M Taufan SP Bustan

PRODUSER sekaligus sutradara Nia Iskandar Dinata, 49, menyebut iklim perfilman dokumenter di Indonesia sudah semakin maju dalam beberapa tahun terakhir. Dia sendiri aktif dalam sejumlah proyek lokakarya dan produksi dokumenter. "(Dokumenter) sudah bagus banget. Saya sendiri bikin banyak workshop film dokumenter, Project Change. Itu sudah masuk ke Berlin Film Festival, masuk ke mana-mana," kata Nia saat ditemui di Plaza Senayan Jakarta, Senin (12/3).

Nia juga menyebutkan Festival Film Dokumenter yang berbasis di Yogyakarta sebagai salah satu tolok ukur kemajuan dokumenter Indonesia. Festival itu diadakan rutin setiap tahun sejak 2002 dan menjadi festival film dokumenter pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.
"Secara internasional, Yogyakarta sudah menjadi pusat film dokumenter dunia karena setiap Desember, ada festival film dokumenter internasional. Semua pembuat film dokumenter dari dunia datang ke Yogyakarta," tukas Nia. Nia baru saja usai menggarap film terbaru Kenapa Harus Bule? yang digarap bersama sutradara Andri Cung.

Bersama Insto
Yang terbaru, dia mengerjakan proyek film terbaru bersama para peserta lokakarya dokumenter sehari yang didukung Insto. Salah satu hal menarik dari proyek kampanye perusahaan ini adalah perangkat yang digunakan untuk merekam gambar dan suara.
Mereka memakai kacamata berkamera Snapchat Spectacles. Kacamata hitam itu dirancang sekaligus sebagai kamera mini amatiran yang juga mampu merekam suara. Produk sejenis lain yang sudah beredar antara lain Google Glass, Vuzix, Microsoft Hololens, dan Pivothead Smart.

Karena terpasang statis di dekat mata, kamera itu praktis punya keterbatasan sudut pandang sesuai dengan apa yang dilihat mata pemakai. Namun, hal ini pula yang menjadi karakter pembeda. "Kamera ini benar-benar sudut pandang kita. Kalau mau lihat dekat, kita harus dekat, kalau mau lihat dari jauh, kita harus jauh. Kamera sekarang bisa zoom. Kalau ini, (gambar) benar-benar pengalaman si pembuat film, sudut pandang kita," ujar Nia.

Namun, apa yang kurang, kata Nia, ialah karakter kamera yang sejak awal dirancang bukan sebagai kamera profesional, melainkan untuk kepentingan media sosial. Hasil akhir ditujukan untuk layar kecil seperti ponsel dan laptop. Nia menjadi sutradara dan mentor bagi sembilan finalis lokakarya, yang juga terlibat membuat film sebagai kosutradara. Setiap finalis membuat satu dokumenter mini berdurasi 1 menit. Tim Nia menjadi editor dan membuat sembilan kisah itu menjadi satu kompilasi pendek.

"Dari hampir 1.000 cerita kiriman peserta, hanya ada sembilan cerita yang dipilih karena keberhasilan para kosutradara dalam mengangkat dokumenter yang sarat keunikan, sensitivitas, dan realitas yang ada," ujar Nia. Para finalis berasal dari sejumlah kota di Indonesia. Tiga yang menjadi pemenang akhir ialah Ghafara Difa Harashta, Tegar Hermawan, dan Sri Sulistiyani. (Ant/Medcom.id/H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More