Jawa Barat Butuh Perubahan Berkeadilan

Penulis: Bayu Anggoro Pada: Senin, 12 Mar 2018, 21:24 WIB Politik dan Hukum
Jawa Barat Butuh Perubahan Berkeadilan

MI/Bary Fathahilah

DEBAT publik pertama Pemilu Gubernur Jawa Barat 2018 diawali dengan penyampaian visi misi oleh masing-masing pasangan calon.

Sesuai dengan nomor urut, pasangan Ridwan Kamil (Emil)-Uu Ruzhanul Ulum menjadi yang pertama menyampaikan gagasan dan visi misinya.

Emil mengatakan, saat ini Jawa Barat membutuhkan perubahan menuju kehidupan yang berkeadilan. Pembangunan yang dilakukan harus merata dan mampu memberi kebahagiaan bagi seluruh masyarakatnya.

"Visi Jabar juara lahir batin. Tidak hanya fisik, tapi moral, agama, kebudayaan. Membawa warga Jabar paling hebat, terbaik se-Indonesia," kata Emil, Senin (12/3).

Dia pun menyampaikan keinginannya membawa Jawa Barat terhindar dari kemunkaran. "Dengan bantuan ilmu ulama, adilnya pemimpin. Menjadikan warga Jabar bertakwa, dan infrastruktur yang mantap," tuturnya.

Bahkan, Emil mengibaratkan pihaknya mampu mengatasi 1.000 masalah
dengan 1.000 inovasi. "Jabar juara lahir batin, semua ikut maju," tambah Emil lagi.

Sedangkan pasangan Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan menjadi yang kedua menyampaikan visi misinya. Mereka menyoroti masih banyaknya angka pengangguran dan kemiskinan.

"Rakyat Jawa Barat harus punya pekerjaan. Saya akan pangkas setengah pengangguran," janji Hasanuddin seraya menyebut seluruh warga Jawa Barat harus mudah mengakses pelayanan pangan dan kesehatan.

"Barudak sarakola kudu gratis. Membangun dan menata insfrastruktur, keamanan dan lingkungan," katanya.

Sedangkan pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu bertekad menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi termaju. "Jabar maju di bidang industri kreatif. Sumber daya manusia yang handal," tandasnya.

Mereka pun bertekad menjadikan warga Jawa Barat memiliki karakter yang baik, dengan menjaga akhlak dan meniadakan perilaku koruptif.

Sementara calon gubernur Deddy Mizwar mengatakan, pihaknya memiliki visi menjadikan Jawa Barat adil, sejahtera, dan berkarakter. "Ada 5 misi dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Juga sumber daya manusia yang baik," paparnya.

Pada sesi kedua, seluruh pasangan calon dimintai komentar terkait sulit terbangunnya koordinasi yang baik antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota.

"Mengikuti aturan sudah jelas. Di dalam pasal-pasal itu tidak boleh ada kesalahan koordinasi dalam pembangunan," tukas Hasanuddin.

Menurutnya, setiap unsur di provinsi, pusat dan daerah harus menyadari tugas dan perannya masing-masing. Yang terpenting ialah koordinasi.

Sedangkan Sudrajat mengkritisi sistem otonomi yang menurutnya jauh dari kesempurnaan. Karena tidak ada instrumen kepemimpinan gubernur untuk memerintahkan bupati/wali kota.

Calon wakil gubernur Dedi Mulyadi mengatakan, seluruh gubernur harus mengordinasikan seluruh wilayah. "Dari 100 item, gubernur memiliki kemampuan evaluasi. Dari evaluasi itu, gubernur bisa mengarahkan prioritas mana dari bupati/wali kota," katanya. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More