Gaya Kayaking di Zaman Now

Penulis: Haryo Prasetyo Pada: Senin, 12 Mar 2018, 16:04 WIB Weekend
Gaya Kayaking di Zaman Now

MI/ Haryo Prasetyo

CARA dan gaya berwisata dari era ke era terus berkembang dan berubah. Kegiatan wisata di zaman old yang kebanyakan hanya dilakukan oleh kaum muda dan laki-laki, di era kekinian bisa dilakukan siapa saja. Salah satu kegiatan wisata yang sedang mengalami pola pergeseran semacam itu ialah wisata kayaking.

Di era old, kayaking hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, terutama mereka yang muda secara kronologis, memiliki kekuatan fisik, dan juga nyali tebal. Di era media sosial seperti zaman now, kayaking mulai dilakukan siapa saja, mulai anak-anak, remaja, dewasa secara lintas generasi, gender, maupun profesi.

Di era old, tidak terbayangkan, ada sekelompok ibu-ibu rumah tangga berani bermain kayak di sungai berarus deras, menguasai dalam tempo singkat teknik terbalik saat naik kayak atau popular disebut eskimo roll. Karena di era old, kaum laki-laki pun baru dapat menguasai teknik itu setelah berlatih keras terlebih dahulu selama berminggu-minggu.

Nyatanya, itulah kegiatan yang dilakukan Zaira Adilla, Nia Sarah, dan Tiffin Silitonga di Sungai Cianten, Bogor, pada Sabtu (10/3) dan Minggu (11/3) lalu. Tiga ‘mahmud’ alias mamah muda itu terlihat bersemangat mengikuti kegiatan wisata yang dikemas dalam pelatihan bertema introduction to kayaking yang digelar oleh Kracak Kayak, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pengembangan kegiatan rekreasi kayaking.

Sebelum bergiat dua hari di sungai deras yang mengalir di Kampung Batu Beulah, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, peserta kegiatan mengikuti terlebih dahulu pool session, sesi pra pelatihan yang digelar di kolam renang. Setelah mengenali prinsip teknik dasar eskimo roll, peserta lantas mengikuti sesi kegiatan sungai di sungai Cianten.

Menurut Zaira, yang juga seorang guru di Mentari Intercultural School Jakarta, Cipete, Jakarta Selatan ini, ia mengikuti pelatihan kayaking karena pada dasarnya menyukai tantangan.

“Awalnya, saya kira ini hanya seperti mendayung biasa. Namun, ternyata di dalamnya ada teknik-teknik khusus yang kita pelajari dan setelah kita kuasai membuat kita lebih confidence,” kata perempuan yang akrab disapa Ira. Status Ira sebagai ibu dari seorang putra berusia 12 tahun tidak menghalanginya niatnya untuk terus melakukan kayaking.

Senada dengan Ira, Tiffin mengikuti pelatihan kayaking dengan niat mencoba. Setelah beberapa kali berlatih di kolam, ia pun menyadari bahwa untuk menguasai kayaking kekuatan fisik bukanlah segalanya. “Awalnya ragu, tetapi setelah mencoba beberapa kali ternyata bisa eskimo roll di sesi kolam,” kata ibu dua orang anak berusia 8 dan 7 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai visual merchandiser di sebuah perusahaan retail tersebut.

Untuk sesi sungai, Tiffin melihat ketenangan dan confidence sangat dibutuhkan. “Karena di sungai ada arus, ada angin, ada suara air, ada suhu air yang berubah-ubah,” kata dia.

Namun, Tiffin yakin, bila tenang dan sabar, kegiatan kayaking dapat dilakukan oleh siapa saja.

Sedangkan bagi Nia Sarah, kayaking lebih menjanjikan tantangan daripada kegiatan rafting. Oleh karena itu ia pun mencobanya. “Kalau rafting kan bersama-sama, ada teman. Kalau kayaking semua harus kita atasi sendiri jadi kita harus menguasai sendiri. Ada ketakutan tapi kepuasaannya lebih dari rafting,” kata Nia, yang seperti Ira, juga pengajar pada Mentari Intercultural School Jakarta, Cipete, Jakarta Selatan.

Setelah mengikuti pelatihan tersebut dan menguasai dengan baik, eskimo roll di kolam renang maupun sungai, serta teknik-teknik lainnya, Nia yakin seperti dirinya, setiap orang termasuk anak-anak dapat menguasai teknik kayaking dan melakukan kegiatan penjelajahan di sungai berarus deras.

Dalam seluruh sesi, terlihat ketiganya bersemangat dan selalu mengambil kesempatan untuk melakukan swafoto di sela-sela kegiatan tersebut.

Instruktur Kracak Kayak Toto Triwindarto menjelaskan, menguasai teknik kayaking khususnya eskimo roll pada masa lalu memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu karena pendekatan di masa lalu ditekankan kepada kekuatan eksplosif untuk membalikkan kayak yang terbalik.

“Di zaman sekarang, di sekolah kami, kami mengembangkan apa yang disebut taichi roll. Kuncinya bukan pada kekuatan eksplosif yang besar yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, tapi pada kelenturan kontinyu sehingga untuk menguasanya tidak dibutuhkan tenaga besar. Sehingga siapa pun mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu rumah tangga dapat dengan mudah menguasanya,” kata Toto yang memiliki sertifikat instruktur kayaking dari Selandia Baru dan British Columbia, Kanada.

Dengan teknik mengajar tersebut, tambah Toto, kegiatan kayaking pun dapat dengan cepat dikuasai oleh semua orang. "Sekarang eranya media sosial, orang ingin cepat memposting foto dan video dari kegiatannya. Teknik taichi roll membuat siapa pun cepat menmguasai eskimo roll sehingga dengan demikian orang segera bisa mengekspresikan kepiawaian yang baru dikuasainya itu melalui media sosial sesuai kebutuhan zamannya." (X-10)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More