Berburu Baronang Bersama Garonger

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI Pada: Minggu, 11 Mar 2018, 14:10 WIB Weekend
Berburu Baronang Bersama Garonger

DOK. KOMUNITAS GARONGER NUSANTARA

SEMBARI menunggu beberapa anggota yang belum datang, sekelompok orang yang tergabung dalam Komunitas Garonger Nusantara (Garnus) tampak begitu akrab bersenda gurau. Tidak terlihat ada batas usia di antara mereka. Semua tambak membaur menjadi satu.

Malam itu saat menemui komunitas Garnus, mereka tengah bersiap bertolak menuju Pulau Lancang di Kepulauan Seribu. Perahu sudah siap, tapi tak kunjung berlayar karena masih menunggu beberapa anggota. Hujan bercampur angin yang turun malam itu tidak menghentikan keseruan mereka. Bahkan ketika berada di tengah laut dengan hantaman angin kencang, ombak dan hujan deras pun tetap saja mereka saling canda.

Mereka saling merapatkan badan tubuh untuk melawan dingin. Jaket dan penutup kepala masih belum cukup untuk mencegah angin menyapa pori-pori kulit mereka.
Keberangkatan komunitas Garnus ke Pulau Lancang merupakan kegiatan rutin setiap akhir pekan untuk memancing.

"Hari ini negek barenglah seperti biasa, neg-bar," terang ketua sekaligus pendiri Komunitas Garnus, Ruy Nanda, 40.

Sesampai di pulau itu, beberapa anggota menyimpan tenaga untuk kegiatan utama esok harinya, yakni memancing ikan baronang. Beberapa yang lain, tidak menyiakan waktu dengan nyumi. Istilah itu mereka gunakan untuk menyebut memancing cumi-cumi.

Aktivitas utama Garnus memang memancing, tapi tidak sembarang ikan yang mereka pancing. Garnus punya keunikan tersendiri, yakni mengkhususkan diri memancing ikan baronang. Alat yang mereka gunakan pun berbeda dengan joran biasanya.

"Yang membedakan ya dari segi alat pancingnya, udah jelas beda pasti. Cara memancing sudah beda. Kail kita pun beda. Jorannya kita pakai tegek, kailnya kita pakai garong. Pelampungnya kita beda juga. Kita pakai pelampung celup, ada pelampung gantung," terang Ruy, akhir Februari lalu.

Mereka menyebut joran sebagai tegek, dan mata kail sebagai garong. Dari situlah istilah garonger muncul. Sedangkan ikan baronang yang dipancing disebut semadar. Ikan baronang pun punya banyak macam, seperti angin, susu, lingkis, tompel, batik, lada, dan jalu. Ikan baronang memiliki bentuk mulut kecil. Itulah sebabnya digunakanlah kail garong.

"Pada dasarnya kalau kita mancing baronang pakai tegek itu. Gak bisa pakai reel. Makanya dibilang garonger, karena menggunakan mata kail garong. Alatnya tegek, gak bisa pakai alat lain," ujar salah satu anggota garnus, Sandi Sunarya, 63, di sela istirahat memancing.

Tegek ialah joran yang tidak memiliki ring guide dan reel sheet. Tegek digunakan dengan mengikatkan senar di ujung joran kemudian diberi pelampung kecil dan menggunakan mata pancing garong. Sedangkan garong ialah mata pancing dengan 6-7 mata kail. Ada pula yang pakai 8, tapi jarang. Garong pun tidak dijual di toko.

"Kita custom semua. Di Indonesia itu custom sendiri, enggak ada dari pabrikan," tambah Ruy lagi.

Umpan apa saja
Baronang termasuk ikan pemakan apa saja. Karena itu, umpan pun bisa pakai lumut laut, nasi bejek, pepaya ataupun pisang. Semua itu tergantung daerah dan kebiasaan. Misalnya, di Pulau Seribu, Garnus menggunakan umpan lumut laut. Lain halnya ketika memancing di Lampung, mereka akan mengganti lumut dengan pisang.

"Hari ini kita khusus menggunakan lumut. Di Pulau Seribu, dominan menggunakan lumut. Sesuai yang dipancing. Jadi sebenarnya ikannya itu rakus, makan apa saja. Cuma kebiasaan didaerah beda-beda. Misal kalau dekat pangkalan, dia makan nasi," tambah anggota lain, Benka, 41.

Komunitas Garnus berdiri pada 27 Juli 2012. Tujuannya menyatukan para garonger atau pemancing tegek di Indonesia. Jadi, sebutan Garonger itu untuk para pemancing ikan baronang dengan menggunakan tegek dan garong. Cara mancing tradisional itu semakin digandrungi sebab kedahsyatan sensasinya.

"Tujuannya mengumpulkan para pemancing tegek. Di setiap daerah di Indonesia ada koordinator wilayahnya (korwil). Jadi saat kita mau ke wilayah mana, tujuan ke kota mana, kita sudah ada teman korwilnya," tambah Ruy lagi.

Sampai saat ini, lanjutnya, Garnus sudah mempunyai 30 korwil yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah anggota mencapai 7.369.

Lebih lanjut, Ruy menjelaskan, ada dua cara memancing baronang ala Garnus, yakni nangkring dan ngoyor. Nangkring merupakan sebutan memancing tegek dengan tidak menceburkan diri ke air. Kebalikannya, ngoyor ialah memancing dengan menceburkan sebagian tubuh ke air di tepi pantai.

Jika nangkring tidak membutuhkan banyak persiapan, ngoyor punya persiapan lebih. Garonger wajib bisa berenang dan memakai sepatu boot. Bisa pula ditambah dengan pelampung badan.

Untuk menjadi anggota Garnus tidaklah susah. Cukup bergabung dengan kegiatan memancing bersama anggota Garnus lain. "Syaratnya khusus yang memancing baronang itu penegek. Itu istilahnya. Kalau syarat masuk anggota sih bebas," tambah Sandi yang akrab disapa Pak Kumis.

Yang terpenting, lanjutnya, setiap anggota siap menerima dan berbagi semangat kebersamaan. Sebab, Komunitas Garnus berpijak pada kebersamaan tanpa politik dan SARA. "Ya kebersamaan saja, selalu bersama," pungkas Ruy. (X-7)

abdi.zuqi@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More