Hoaks Disengaja untuk Perkeruh Suasana

Penulis: Administrator Pada: Minggu, 11 Mar 2018, 08:10 WIB Politik dan Hukum
Hoaks Disengaja untuk Perkeruh Suasana

ANTARA/Yulius Satria Wijaya

PRESIDEN Joko Widodo kembali mengingatkan bahaya hoaks. Menurutnya, hoaks memang sengaja dibuat untuk memperkeruh suasana sehingga seluruh lapisan masyarakat harus ikut mencegah merebaknya berita palsu itu.

"Rasanya tidak mungkin ya berita-berita (hoaks) seperti itu karena tidak tahu. Sepertinya memang semua itu disengaja untuk memperkeruh suasana. Inilah yang harus kita cegah dan kita tindak sesuai hukum yang berlaku," kata Jokowi dalam sambutannya di acara Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat 2018 di Sentul, Bogor, kemarin.

Presiden mencontohkan pemberitaan yang tidak benar di media sosial tentang puluhan tentara Tiongkok yang masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta. "Setelah kita cek ke kepolisian, berita itu enggak ada dan enggak benar.''

Tak hanya itu, imbuh Jokowi, juga ada berita yang tidak benar mengenai 41 kasus penyerangan terhadap ulama. "Setelah dicek, enggak benar. Yang benar memang ada tiga kasus yang sedang dalam penanganan serius oleh kepolisian," kata Kepala Negara.

Karena itu, Jokowi telah menginstruksikan kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menindak tegas pelaku penyebar hoaks. Dia menyampaikan bahwa kehadiran teknologi informasi yang berkembang pesat harusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, membuat pemimpin lebih mudah mendengar suara rakyat, dan membuat interaksi sosial lebih mudah dan gampang.

Namun, perkembangan teknologi justru juga digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang merugikan. Media sosial malah dipakai untuk menyampaikan berita bohong, saling menghujat dan mencemooh, saling mencela, saling menjelekkan, mengumbar kebencian yang membawa keresahan di masyarakat. "Ini hampir terjadi di semua negara bukan hanya di Indonesia," tandas Presiden.

Pemerhati politik dan media sosial Ray Rangkuti mengatakan 80% berita bohong yang beredar di masyarakat berkaitan dengan politik. Hal itu menegaskan bahwa hoaks digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik, termasuk untuk merebut kekuasaan.

''Hoaks yang berkaitan dengan politik bisa tumbuh subur karena pihak yang terkait erat, yakni partai politik bersikap permisif. Mereka hanya akan teriak jika jadi korban.''

Ancaman dari hoaks memang kian mengkhawatirkan. Lebih mencemaskan lagi, menurut Direktur Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial Nanang Sunandar, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial menyasar kalangan pemuda.

Untuk itu, kata Nanang, dibutuhkan upaya untuk menumbuhkan sifat kritis pada anak muda. "Literasi ialah salah satu cara yang efektif," ucapnya. (Nur/Ric/Put/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More