Makutharama

Penulis: ONO SARWONO Pada: Minggu, 11 Mar 2018, 03:39 WIB PIGURA
Makutharama

INSTITUT Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada 1 Maret memberikan penghargaan Bintang Asta Brata Madya Utama Pamong Praja kepada Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Itu penghargaan tertinggi pertama kali untuk gubernur dan kepala daerah.

Rektor IPDN Ermaya Suradinata menyatakan, bintang itu diberikan kepada Syahrul karena yang bersangkutan telah melaksanakan makna asta brata, delapan elemen alam yang menjadi pedoman kerja pamong praja, yaitu watak matahari, bulan, bintang, bumi, angin, angkasa, samudra, dan api.

Dalam cerita wayang, ajaran asta brata ini tersua dalam lakon Wahyu Makutharama. Di antara sanggit pedalangan, Makutharama itu mengisahkan Rama Wijaya ketika menyampaikan wasiat kepemimpinan kepada Gunawan Wibisana sebelum didapuk menjadi Raja Alengka.

Merebut Sinta
Alkisah, perang brubuh Alengka telah paripurna. Dewi Sinta kembali bersanding dengan Rama Wijaya setelah pasangan suami-istri itu terpisah sekitar 13 tahun. Sementara itu, Raja Alengka Dasamuka yang ‘menawan’ Sinta untuk mendapatkan cintanya lenyap terkubur gunung.

Istana Alengka seisinya hancur. Hanya Taman Argasonya, tempat Sinta mendekam selama itu, yang terselamatkan. Keporak-porandaan Alengka terjadi akibat sikap keras Dasamuka memperistri Sinta yang ia yakini sebagai lambang pesona kemakmuran sekaligus kejayaan Alengka. Untuk ambisinya itu Dasamuka telah mengorbankan segala-galanya.

Tujuan Rama menyerbu Alengka, yang didukung berbatalion-batalion pasukan wanara Goa Kiskenda, tidak lain merebut kembali jantung hatinya. Dasamuka menolak permintaan Rama untuk mengembalikan Sinta dengan baik-baik. Karena anjuran tersebut ditolak mentah-mentah, Rama mengambil langkah kekerasan.

Pascaperang, Rama dan Sinta memutuskan segera pulang ke tanah kelahiran, Ayodya. Adiknya, Barata, yang sebelumnya menggantikan bapaknya, Prabu Dasarata, sebagai raja di Ayodya, telah lama menanti kembalinya sang kakak. Barata ingin segera menyerahkan kekuasaannya kepada Rama, sang putra mahkota sejati.

Sebelum meninggalkan Alengka, Rama memerintahkan Gunawan menduduki takhta menggantikan Dasamuka. Gunawan ialah satu dari empat bersaudara, putra-putri Resi Wisrawa-Dewi Sukesi, yang masih hidup. Selain Dasamuka, dua kakaknya yang lain, yakni Kumbakarna dan Sarpakenaka, telah sirna di medan perang.

Gunawan membelot ke Rama karena menentang keras nafsu Dasamuka yang berkeras memperistri Sinta. Sarannya untuk mengembalikan Sinta justru membuat Dasamuka murka dan mengusirnya dari istana. Pada awalnya, Gunawan merasa tidak pantas berkuasa di Alengka. Ia menyerahkan negara warisan leluhurnya itu sepenuhnya kepada Rama. Namun, Rama memastikan Gunawan yang mesti mengurus Alengka. Pesannya, Gunawan harus mengelola negara dengan manajemen baru.
Rama lalu memberikan wejangan kepada Gunawan tentang apa yang harus dilakukan sebagai raja (pemimpin) yang baik. Menurutnya, pemimpin mesti hambeg (menjalankan laku) delapan watak alam. Wejangan Rama itulah yang kemudian dikenal dengan ajaran asta brata.

Pedoman kepemimpinan
Adapun kedelapan laku itu, pertama hambeg surya atau berwatak matahari yang dalam pakeliran disimbolkan Bathara Surya. Matahari bersifat menerangi dan menjadi sumber kehidupan. Maknanya pemimpin mesti menyinari atau membangkitkan kehidupan rakyatnya.
Kedua, hambeg candra atau berwatak bulan, yang digambarkan pada diri Dewi Ratih. Bulan senantiasa memancarkan terang yang meneduhkan. Pemimpin mesti bisa membuat rakyatnya hidup ayem dan tenteram. Menjauhkan rakyat dari kekhawatiran dan ketidakpastian yang menghantui.

Ketiga, hambeg kartika atau berwatak bintang yang disimbolkan pada Bathara Ismaya. Keberadaan bintang di langit selalu bisa dijadikan sebagai petunjuk atau pedoman arah sekaligus membuat indah di waktu malam. Pemimpin itu mesti bisa dijadikan sebagai pedoman dan anutan. Setiap ucapan dan perilakunya mesti bisa mencerahkan atau menjadi teladan. Pemimpin juga tidak boleh mencla-mencle.

Keempat, hambeg bantala atau berwatak bumi yang disimbolkan pada Bathara Wisnu. Bumi menumbuhkan apa saja yang ditanam. Siapa pun yang mengolahnya dengan baik bakal memetik hasilnya. Wataknya, pemimpin mesti bisa dipercaya, murah hati, dan tidak mengecewakan rakyat.

Kelima, hambeg maruta atau berwatak angin yang disimbolkan pada Bathara Bayu. Angin selalu ada di segala tempat dan apa adanya. Filosofinya, pemimpin mesti berada di mana-mana, tidak pilih kasih. Dengan demikian, pemimpin akan selalu tahu dan merasakan napas kehidupan rakyat. Pemimpin juga harus berwatak jujur.

Keenam, hambeg angkasa atau berwatak langit yang disimbolkan pada Bathara Indra. Langit sifatnya tidak terbatas. Pemimpin mesti berhati luas. Ia juga mengayomi dan melindungi serta membimbing rakyat dengan penuh kasih sayang.
Ketujuh, hambeg samodra atau berwatak lautan yang dilambangkan pada Bathara Baruna. Samudra itu luas dan dalam. Pemimpin hendaknya mau menerima apa pun yang disampaikan atau tuntutan rakyat. Pemimpin berwatak lautan juga tidak pernah membeda-bedakan golongan, kelompok, suku, bangsa, dan agama.

Kedelapan, hambeg agni atau api yang disimbolkan pada Bathara Brama. Sifat api membakar apa pun. Pemimpin hendaknya tegas dan tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Api juga bersifat melebur apa saja sehingga pemimpin mesti piawai menyelesaikan semua masalah.

Menimang-nimang diri
Itulah ‘ngelmu’ yang diwasiatkan Rama kepada Gunawan. Ini konsep kepemimpinan yang mengoreksi secara total kepemimpinan Dasamuka. Rama meyakinkan jika Gunawan menjiwai dan menerapkan delapan watak alam dalam kepemimpinannya secara konsisten, tulus dan ikhlas, Alengka akan memetik hasilnya sebagai negara yang adil makmur dan njayeng bawana, terkenal di seluruh marcapada.

Dalam konteks pilkada tahun ini, tidak ada ruginya bila para kontestan yang berkompetisi menjadi kepala daerah atau pimpinan, sejenak merenungkan ajaran luhur ini. Seyogianya sejak dini mereka menimang-nimang diri, apakah ingin menjadi pemimpin sejati atau sekadar berkuasa. Asta brata merupakan salah satu pedoman untuk menjadi pemimpin yang baik, inilah yang dibutuhkan bangsa ini. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More