Cap Go Meh dan Akulturasi Budaya Tionghoa

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI Pada: Minggu, 11 Mar 2018, 02:01 WIB Khazanah
Cap Go Meh dan Akulturasi Budaya Tionghoa

Dok MI

RIBUAN orang tumpah ruah di jalanan. Ragam pakaian dan busana mereka pun bermacam-macam. Tidak melulu satu warna, ataupun didominasi warna tertentu. Semua warna menjadi satu dengan bauran yang indah dipandang. Jalanan yang biasanya disesali dengan kendaraan bermotor, siang itu terlihat berbeda. Tidak tampak lagi macet akibat luapan kendaraan. Tidak ada pula suara klakson dan asap timbal yang memenuhi udara.

Sebagai gantinya, para pengunjung rela berdesakan untuk melihat karnaval seni budaya. Meski bertajuk Karnaval Cap Go Meh 2018 di Glodok, Jakarta Barat (4/3), atraksi yang disuguhkan tidak hanya seni dan budaya Tionghoa. Seni dan kebudayaan daerah lain di Indonesia pun berturut dalam perayaan itu. Sebut saja barongsai, liong, angklung, ondel-ondel, sisingan, reog, hingga tanjidor.

Itu bukti terjadinya akulturasi budaya dalam masyarakat Nusantara. Dalam ranah budaya, terjadinya akulturasi ialah sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Perpaduan budaya Nusantara yang damai dan harmonis senantiasa melahirkan kearifan lokal yang mumpuni dan unik. Akulturasi budaya Tionghoa dengan masyarakat Nusantara itulah yang menjadikan perayaan Cap Go Meh istimewa.

Tidak hanya di Jakarta, perayaan Cap Go Meh terjadi di daerah lain seperti kawasan Jalan Suryakencana di Bogor, Jawa Barat, wilayah Singkawang dan Pontianak di Kalimantan Barat, serta kawasan pecinan di Manado, Sulawesi Utara. Termasuk Pulau Kemaro di Palembang, Sumatra Selatan. Bahkan, perayaan Cap Go Meh tidak hanya dirayakan di Indonesia, tapi juga negara lain meski dengan nama dan cara yang berbeda, seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura.

Cap Go Meh merupakan puncak acara perayaan Tahun Baru Tionghoa atau Tahun Baru Imlek. Tradisi perayaan Tahun Baru Imlek biasanya disertai upacara syukuran terhadap berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa pada tahun sebelumnya. Secara bahasa, cap go berasal dari dialek Hokkian yang bermakna 15, sedangkan Meh berarti malam. Perayaan ini jatuh pada setiap tanggal 15 bulan pertama dalam Tahun Baru Imlek.

Sejarah Cap Go Meh di Nusantara dimulai sejak abad XIV. Kala itu terjadi perdagangan antara pedagang Tiongkok Selatan dan masyarakat Nusantara. Mereka pun mulai menetap dan menjadi warga di Nusantara. Tradisi Tionghoa mulai dikenal, Imlek dan puncak rangkaiannya, Cap Go Meh, ialah salah satu di antaranya.

“Cap Go Meh merupakan tradisi yang berasal dari Tiongkok, perayaan hari ke-15 setelah Imlek. Di Indonesia sudah sejak lama bersamaan dengan masuknya etnik Tiongkok khususnya masa Belanda. Hampir di setiap kota besar di masa Belanda terdapat komunitas orang Tionghoa,” terang pemerhati budaya Tionghoa dari Universitas Gadjah Mada Fahmi Prihantoro.

Ungkapan syukur
Perayaan Cap Go Meh dilakukan di ruang publik sebagai bentuk ungkapan syukur atas berkah yang diterima. “Cap Go Meh merupakan puncak perayaan Imlek selama 15 hari. Intinya bersyukur karena memulai musim tanam di Tiongkok. Yang juga dijadikan awal tahun kalender Tiongkok,” lanjut Fahmi.

Dulu perayaan Cap Go Meh sempat tidak diperbolehkan. Tapi sejak pemerintahan Gus Dur pada 1999, perayaan yang kental dengan komunitas Tionghoa ini kembali digelar ke hadapan masyarakat umum. Perayaan Cap Go Meh di Tanah Air kerap dilaksanakan di jalan raya dengan melakukan kirab. Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sangat bervariasi. Meski demikian, upacara inti yang diadakan di bio atau kelenteng tidak terdapat perbedaan.

“Kalau upacara inti di kelenteng secara umum sama. Tapi upacara pendukung terutama saat ini misal ada pawai yang bisa berbeda beda,” terang Fahmi Prihantoro. Di beberapa kota di Tanah Air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi lokthung atau thangsin. Atraksi tersebut menampilkan seseorang yang menjadi medium perantara yang dipercaya telah dirasuki roh dewa untuk memberikan berkat bagi umat-Nya. Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan sebagainya.

Setiap daerah mempunyai kekhasan masing-masing dalam perayaan Cap Go Meh. Sebagai contoh, akulturasi budaya di dalam perayaan Cap Go Meh ialah lontong cap go meh. “Yang paling terlihat adanya lontong cap go meh yang diadopsi dari makanan Jawa, yaitu lontong opor,” terang Fahmi Prihantoro. Menurut Fahmi, hal menarik lain yang juga menarik ialah ketika tradisi Tiongkok juga diadopsi menjadi tradisi Islam di Nusantara.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More