Sang Juara di Google Code In

Penulis: ARDI TERISTI HARDI Pada: Minggu, 11 Mar 2018, 01:40 WIB MI Muda
Sang Juara di Google Code In

DOK PRIBADI

Kendati ia masih SMA, dunia coding menjadi bagian dari keseharian Maharaj Fawwaz Almuqaddim Yusran, siswa SMA IT Abu Bakar, Yogyakarta. Hasilnya, ia meraih Grand Prize Winner dalam Kompetisi Google Code-in 2017.
Fawwaz berhasil mengalahkan ribuan pelajar dari berbagai negara, seperti Romania, India, Rusia, Hong Kong, Singapura, Uruguay, Polandia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Pencapaian itu melengkapi prestasi Fawwaz yang pernah medali emas dalam North Essex Mathematics Olympiad (Olimpiade Matematika) pada 2014. Berikut wawancara Muda dengan Fawwaz di sekolahnya.

Ceritakan dong tentang lomba ini?
Saya tahu Google Code In dari mentor saya seusai mengikuti Besut Code 2016. Ini lomba tingkat nasional yang diadakan akhir November 2016. Di Besut Code, ada tugas-tugas pemrogram­an yang dikerjakan di rumah, kemudian di-review mentor-mentor dari Wikipedia. Tugas saya di Besut Kode, misalnya, memecahkan barisan matematika, mencari eror di program, hingga memperbaikinya.

Sementara di Google Code In, kami memilih 1 dari 25 organisasi yang ada. Saya memilih Open MRS. Setelah itu, kami mengerjakan tugas untuk organisasi yang kita pilih, misalnya desain poster, desain banner, hingga testing program. Lombanya sekitar 7 minggu, mulai November 2017-Januari 2018.

Kompetisi Google Code In lebih memperhatikan kualitas penyelesaian soal yang diberikan dan keaktifan di organisasi yang kita pilih. Saya, misalnya, di Open Medical Record System (Open MRS), hanya mengerjakan 20 tugas, sedangkan yang lain sampai ada yang mengerjakan 40-an tugas. Saya mengembangkan pemrograman aplikasi rekam medis untuk HP.

Proses seleksi yang harus kamu lalui?
Dari sekitar 3.500 peserta, usia 13-17 tahun, dari berbagai negara, saya termasuk 10 besar yang mengerjakan terbanyak. Dari situ, dinilai dari sisi kualitas pengerjaan, dipilih lima yang terbaik. Setelah itu, ditentukan dua pemenang terbaik dan tiga finalis dan diumumkan pada 1 Februari 2018.

Ada berapa pemenang dari Indonesia?
Total ada 25 organisasi dalam Google Code In. Jadi, ada 50 pemenang dan 75 finalis. Dari Indonesia, ada 3 pemenang dan 8 finalis.

Apa hadiah dari Google Code In?
Hadiah utamanya jalan-jalan sekitar se­minggu ke Google Headquaters, San Fransisco, Amerika Serikat.

Bagaimana proses mengerjakan tugas-tugas di Google Code In?
Awalnya sempat bersamaan dengan ujian akhir semester sehingga saya harus membagi waktu. Setelah itu libur sehingga banyak waktu untuk mengerjakan. Setelah masuk sekolah, saya mengerjakan pada pagi setelah salat Subuh hingga akan berangkat sekolah dan setelah pulang sekolah, pukul 13.00 hingga 22.00.

Bagaimana kesan-kesan mengikuti Google Code In?
Ya berkesan karena pikiran saya sempat terbelah antara ujian sekolah dengan Google Code In. Saya sempat tidak belajar dan lebih suka mengerjakan soal Google Code In karena memang hobi saya mengerjakan pemrograman di komputer.

Sejak kapan mulai tertarik pemrograman komputer?
Sejak SMP. Waktu itu saya dikenalkan coding dengan program drag and drop. Ayah yang mengenalkan.

Kenapa tertarik dengan coding?
Ceritanya dulu waktu SD saya sangat suka game. Lalu ayah mengenalkan saya dengan program membuat game. Jadi saya tidak hanya bermain, tapi membuat game sendiri. Setelah itu, saya dikenalkan dengan bahasa pemrogram­an Java. Kemudian lanjut dengan mesin pembuat game, Unity.

Sudah berapa game yang dibuat?
Kalau game-game sederhana sih sudah banyak. Game yang diunggah di Playstore juga sudah ada. Selain itu ada pula aplikasi-aplikasi Android sederhana. Bisa dilihat di Playstore dengan nama 164 boys.

Seberapa penting peran orang tua atas pencapaian kamu?
Orangtua jelas sangat berperan karena ayah yang mengenalkan dasar dasarnya. Kalau tanpa dukungan orangtua, saya tidak akan sampai seperti ini.

Pernah membuat aplikasi, lalu kamu dibayar?
Pernah, saya diminta ayah membuat aplikasi menghitung pajak rumah. Saya diberi rumus-rumusnya. Tidak banyak sih, di bawah Rp1 juta.

Apa cita-cita yang ingin diraih?
Setelah lulus, ingin kuliah di jurusan teknik informatika. Saya bercita-cita ingin menjadi programer dan membangun sekolah coding di Indonesia.

Selama menjadi programer, apa pengalaman pahit yang dialami?
Ketika sudah lama membuat program, lupa dites. Saat selesai, program tidak bisa dijalankan. Tapi, saya tidak pernah menyerah dan selalu memperbaikinya.

Ada kebiasaan tertentu saat bikin prog­ram?
Tidak ada. Saya tidak merokok dan tidak minum kopi sehingga mudah ngantuk. Paling jam 22.00 sudah tidur, jadi harus bangun lebih pagi untuk mengerjakan program.

Sekarang sudah kelas 12. Apa masih sibuk coding?
Sementara saya fokus ke pelajaran sekolah dan berhenti coding. Setelah ujian, saya kembali ke coding.

Apa pesan kepada teman-teman atau adik-adik yang mulai belajar coding?
Yang penting jangan menyerah walau prog­ramnya belum berhasil, banyak eror. Selain itu, bahasa Inggris sangat penting agar paham bahasa pemrograman. Kita juga jangan pernah cepat puas dan selalu belajar perkembangan teknologi yang terbaru karena perubahan teknologi sangat pesat. (AT)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More