Bimanesh tanpa Perlawanan di Pengadilan

Penulis: Putri Anisa Yuliani Pada: Jumat, 09 Mar 2018, 10:32 WIB Politik dan Hukum
Bimanesh tanpa Perlawanan di Pengadilan

ANTARA FOTO/Galih Pradipta

TIDAK seperti Fredrich Yunadi, terdakwa yang dianggap merintangi pemeriksaan tersangka kasus korupsi KTP-E Setya Novanto, Bimanesh Sutarjo, menyatakan tidak ingin melawan pengadilan. Melalui kuasa hukumnya, Wirawan Adnan, dokter Rumah Sakit Medikat Permata Hijau itu menyatakan bakal kooperatif selama menjalani persidangan.

"Ya akan kooperatif, tapi itu bukan berarti mengakui hal yang tidak dilakukan. Kalau memang tidak benar dilakukan, ya tidak akan diakui," kata Wirawan seusai sidang perdana Bimanesh di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

Salah satu hal yang diakui ialah adanya kesalahan prosedur yang dilakukan Bimanesh saat memberi tindakan medis kepada Novanto di ruang rawat. Padahal, sebagai pasien yang masuk melalui instalasi gawat darurat (IGD) karena peristiwa kecelakaan, pemberian tindakan medis sewajarnya juga dilakukan di IGD.

Meski demikian, Wirawan menyebut itu pun bukan sepenuhnya kesalahan Bimanesh. "Karena beliau datang (setelah) ditelepon dokter Alia," lanjutnya.

Soal dakwaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyatakan Bimanesh menerbitkan surat rawat inap untuk Novanto, Wirawan membantahnya. Begitu pula soal dakwaan yang mengatakan dokter tersebut memerintah perawat rumah sakit untuk memasang infus.

"Tidak ada. Klien kami tidak pernah menerbitkan surat tersebut, merekayasa serta memerintahkan suster atau perawat memasang infus," tandasnya.

Dalam sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan oleh KPK, Bimanesh diancam dengan hukuman pidana maksimal 12 tahun penjara. Ancaman tersebut sesuai dengan Pasal 21 Undang-Undang No 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi yang menyebutkan bahwa tiap orang yang merintangi pemeriksaan dapat dijerat hukuman paling ringan 3 tahun pidana atau paling berat 12 tahun dengan denda Rp 150 juta paling kecil atau denda paling besar Rp600 juta.

"Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 21 UU Tipikor," kata jaksa KPK, Takdir Suhan.

Dakwaan itu sama dengan yang diterapkan jaksa penuntut umum KPK terhadap Friedrich Yunadi yang sidangnya sudah dilaksanakan pada Rabu (7/3) lalu. Bedanya, mantan pengacara Novanto itu membantah semua tuduhan KPK terhadapnya serta sempat menyiapkan proses praper-adilan, tapi gugur karena dakwaan sudah terlebih dahulu dibacakan.

Tidak tahu

Di tempat lain, tersangka kasus korupsi KTP-E, Setya Novanto, mengaku tak tahu bahwa dokter yang merawat dirinya di RS Permata Hijau setelah mengalami kecelakaan, Bimanesh Sutarjo, ditetapkan sebagai tersangka juga oleh KPK.

"Wuah saya enggak tahu kalau itu," kata Novanto saat ditemui di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

Mantan Ketua DPR itu juga menegaskan tak tahu soal prosedur medis yang dilakukan Bimanesh saat melakukan perawatan terhadap dirinya. Novanto mengatakan ia tidak sadarkan diri pada saat itu.

"Saya kan sakit waktu itu. Jadi tidak tahu soal medisnya (benar atau salah)," kata politikus Partai Golkar itu.

Novanto pun menyebut dirinya benar-benar sakit karena mengalami kecelakaan mobil yang terjadi pada November 2017 tersebut. Bimanesh Sutarjo dijerat dengan tuduhan merintangi pemeriksaan KPK terhadap Novanto karena memalsukan data medis. (P-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More