Menangkap Peluang di Era Kekinian

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Jumat, 09 Mar 2018, 10:23 WIB Ekonomi
Menangkap Peluang di Era Kekinian

Thinkstock

DUNIA kini memasuki era disrupsi yang di­tandai perubahan sangat cepat, dengan mengacak-acak pola tatanan la­­ma untuk menciptakan tatan­an baru. Disrupsi mengini­siasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif. Sebuah brand atau merek ki­ni pun tidak lagi hanya berfo­kus pada produk, melainkan bergeser kepada pengalaman konsumen secara pribadi.

Demikian pendapat Founder dan Direktur Utama Markplus Inc Hermawan Kertajaya yang disampaikan dalam acara The 3rd WOW Brand Festive Day, di Jakarta, kemarin (Kamis, 8/3/2018).

Menurut dia, branding bukanlah kompetisi di antara ber­­bagai merek, melainkan permainan dari marketing atau seni pema­saran. Seorang pemimpin perusahaan, kata dia, harus me­nguasai game of cha­nge yaitu membaca perubah­an lebih cepat dan akurat untuk kemudian mengambil setiap kesempatan dari perubahan itu. Dia mencontohkan apa yang dilakukan Nadiem Makarim, bos Go-Jek, yang mampu menangkap peluang dari kemacetan yang dialami warga di Jakarta.

“Dia berhasil menangkap kondisi ini untuk menghadirkan layanan jasa yang mengedepankan pengalaman dan kebutuhan konsumen melalui teknologi ap­likasi transportasi Go-Jek-nya,” tegas Hermawan.

Selain game of change, hal lain yang harus dipahami adalah game of competitors. Sebab, menurut Hermawan, pada akhirnya konsumen akan membandingkan suatu brand dengan kompetitor serupa yang teknologinya lebih canggih dan berfasilitas lebih luas, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini pula, kata dia, yang la­gi-lagi berhasil ditangkap Nadiem.

“Seorang brand manager bu­kan cuma memikirkan urus-an logo, tetapi melihat siapa kom­petitor secara langsung. Sehingga saat berkompetisi di pasar akan lebih efisien. Salah menentukan kompetitor, tentu berakibat salah menyusun strategi,” katanya.

Faktor lainnya, menurut Hermawan, perusahaan wajib me­nguasai games of customer. Seorang brand manager, kata dia, harus bisa melihat dari lingkup besar, perubahan apa saja yang terjadi di masyarakat dan apa yang mereka butuhkan.

Kids zaman now
Terkait momentum, ada be­be­rapa faktor yang perlu dilihat produsen mengenai generasi saat ini atau istilahnya kids za­­man now. Mereka, kata Hermawan, merupakan kelompok generasi dengan ego besar un­­tuk mendapatkan sesuatu secara instan.

Karakteristik lain yang mele­kat pada konsumen muda adalan FOMO atau fear of missing out. Rasa ketidak­per­cayaan dan ketakutan keting­galan infor­ma­si membuat mereka selalu mencari tahu atau kepo. “Buatlah bisnis yang bisa memenuhi hasrat dan keinginan mereka,” tegasnya.

Ekonom yang juga Guru Besar Fakultas dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro da­­lam berbagai kesempatan menekankan tentang terjadinya pola konsumsi masyarakat dari barang ke pengalaman atau rekreasi. Hal ini, kata dia, juga tak lepas dari teknologi digital. Masyarakat, terutama anak muda, lebih senang rekreasi dan mengunggahnya di media sosial ketimbang membeli barang. “Fenomena ini se­­harusnya juga ditangkap pe­la­ku bisnis,” katanya. (E-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More