Perempuan Jangan Lupakan Kodrat

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Kamis, 08 Mar 2018, 01:16 WIB Humaniora
Perempuan Jangan Lupakan Kodrat

DOK VICENZA

KESEMPATAN bagi perempuan untuk mengembangkan potensi diri kian terbuka. Kini, tidak jarang ditemui perempuan menempati posisi penting di perusahaan, bahkan di ranah politik diterapkan kebijakan afirmatif untuk mendorong perempuan masuk ke dunia politik.
Memilih memanfaatkan potensi tersebut dengan terjun menekuni bidang yang diminati atau 'hanya' menjadi seorang ibu rumah tangga, menurut General Manager Vicenza Hanny, merupakan pilihan setiap individu. Bila memilih keduanya pun harus bisa dijalani dengan baik.
"Ibu rumah tangga pun saat ini bukan sekadar mengurus rumah, suami, dan anak. Mereka terkadang bisa menjalankan bisnis secara daring lewat telepon seluler. Bahkan, mereka lebih bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Saya terkadang malah diajarkan mereka dalam berbisnis," kata Hanny berkelakar saat berbincang dengan Media Indonesia, pada Selasa (6/3).

Meski demikian, Hanny pun menegaskan agar perempuan yang memilih mengembangkan potensi diri untuk tidak melupakan kodrat mereka sebagai perempuan yang pasti akan berumah tangga. Ia melihat beberapa tahun terakhir ada gejala munculnya penyesalan karena terlalu sibuk bekerja, sehingga rumah tangga seakan tak terurus.

Hal itu sebenarnya bisa disikapi dengan membangun komunikasi yang baik bersama pasangan bagi yang sudah menikah. Dengan demikian, dukungan pun akan selalu muncul dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Berikutnya adalah pengelolaan waktu (time management) yang baik antara karier dan kehidupan rumah tangga. "Dua-duanya hal yang tidak bisa dipisahkan. Berhasil mengelola waktu tanpa dukungan dari orang terdekat juga akan menyulitkan. Begitupun sebaliknya. Untungnya, saya mendapatkan dukungan tersebut dari pasangan, sehingga bisa mengatur waktu dengan baik juga, bahkan masih sempat masak untuk keluarga," kata ibu dua anak tersebut.

Di sisi lain, Hanny pun melihat masih ada stigma di masyarakat bagi perempuan yang berusaha mengembangkan potensinya, khususnya menjadi wanita karier. Karena itu ia berpesan bagi perempuan yang memilih berkarier untuk tidak memedulikan opini buruk orang lain selama ia menjalani pekerjaannya dengan senang hati.

Pakai perasaan
Stigma lain yang dihadapi perempuan, menurut Hanny, ialah anggapan yang menyebutkan perempuan bekerja dengan perasaan dibanding dengan logika yang sering diidentikkan dengan laki-laki. Stigma tersebut, katanya, justru menjadi keuntungan tersendiri bagi perempuan.

Bekerja dengan perasaan atau 'hati' bagi Hanny yang berkecimpung di bisnis perkakas keramik milik keluarganya sejak 2000 itu, justru membuatnya mampu memahami kebutuhan kolega dan terpenting ialah keinginan pasar. Ia pun jadi bisa memanfaatkan potensi seluruh karyawannya dengan baik.

Selama 17 tahun bergelut di Vicenza, Hanny yang sempat menjadi tenaga pemasar (sales) itu mengaku beruntung bisa bekerja dengan menggunakan perasaan atau hati. Ia mencontohkan salah satu karyawannya yang sudah bekerja bersama dengannya sejak jadi tenaga pemasar yang kini telah memiliki tiga orang anak. "Kalau dulu dia sering ke luar kota untuk mempromosikan barang. Tapi, sejak tahun lalu intensitasnya saya kurangi. Saya cenderung meminta karyawan yang tidak punya semacam 'beban' di rumah untuk ke luar kota supaya bisa fokus. Kemudian juga agar ada transfer ilmu pengetahuan dengan yang lain," tutur Hanny.

Sebagai pebisnis perempuan, ia tidak mau asal mendompleng nama besar sang Ayah yang membangun Vicenza dari titik nol. Saat menjadi tenaga pemasar, Hanny yang rajin menyambangi beberapa pasar tradisional hingga tahu kuliner enak di beberapa daerah tersebut, tidak memperkenalkan diri sebagai anak dari pemilik Vicenza.

Dengan itu, ia pun jadi mengerti kebutuhan rill pasar akan peralatan rumah tangga yang diinginkan. Menjadi tenaga pemasar berhasil menumbuhkan kecintaannya pada produk Vicenza hingga ia pun terlibat dalam desain produk dan terus menanjak hingga memimpin Vicenza.

Meski sibuk memimpin 50-an karyawan tetap dan puluhan karyawan tidak tetap di Vicenza dan kini dibantu dua adiknya dalam mengembangkan Vicenza, Hanny tetap memiliki waktu berkualitas bersama keluarga. Bahkan, memiliki waktu untuk melakukan yoga, seperti yang ia katakan, "Perempuan jangan melupakan kodratnya." (S-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More