Mereka Ingin Kembali Sedia Kala

Penulis: Suryani Wandari Putri Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 08:00 WIB Jeda
Mereka Ingin Kembali Sedia Kala

MI/PIUS ERLANGGA

TUMPUKAN semen yang telah disaring itu beberapa kali dikeruk, lalu diaduk dengan air. Setelah dirasa cukup pas, adukan semen itu di oper ke tukang bangunan yang sedang membangun kamar baru di Yayasan Al-Fajar Berseri, Bekasi Jawa Barat.

Masih pagi memang, para orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) ini semangat bekerja tanpa disuruh sehingga tak menyadari masuk jam sarapan. Setelah sarapan, mereka kembali membuat adukan semen pasir. Mereka ODGJ yang kondisi kejiwaannya telah mereda diberi kepercayaan dari sang kepala yayasan, Marsan, untuk beraktivitas layaknya orang normal. Marsan yakin kegiatan seperi itu akan mempercepat pasiennya sembuh.

ODGJ lain ada yang memasak air minum, kurang lebih 294 pasien lainnya. "Saya memasak tiga gentong, setiap memasak air itu dilakukan enam kali dalam sehari. Iya capek juga tapi senang juga," kata Iwan, pasien asal Sumatra saat ditanya pekerjaannya oleh Marsan. Iwan sudah menunjukkan kejiwaannya berangsur-angsur pulih, ia sudah tenang berhadapan dengan orang asing, dan mampu menjawab pertanyaan Marsan meskipun beberapa kali jawabannya tidak nyambung.

Lain lagi dengan Ujang dari Cililitan Jakarta yang asyik melihat teman-temannya bermain sepak bola di depan kamarnya. Dari perbincangan kami, Ujang sadar dirinya sedang mengalami kondisi kejiwaan yang tidak stabil. Pria yang sudah lama mengonsumsi obat-obatan penenang itu sedang berusaha jauh dari obat seperti yang di rekomendasikan Yayasan.

Meski masih mendengar suara bisikan di telinganya, ia berupaya menyibukkan diri. "Aku mengobrol dengan teman lainnya, atau diisi dengan salat dan zikir agar bisikan itu hilang," kata Ujang kepada Media Indonesia, Rabu (28/2).

Iwan, Ujang, dan beberapa orang lainnya di sini berangsur pulih. Menurut Marsan, dengan metode membiasakan melakukan aktivitas akan menjadi seseorang mudah untuk pulih. Biasa dimulai dengan berbaur dengan temannya, belanja , atau melakukan perjalanan dengan motor meskipun jaraknya masih dekat sehingga akhirnya para penyandang disabilitas mental ini bisa pulang dan menjalani kehidupan dengan keadaan normal seperti semula.

"Kalau pulang dari sini, saya akan tinggal dengan suami saya, itu pun kalau dia masih sayang. Kalau enggak, aku akan fokus mengurus kedua anakku," kata Vani. Vani yang sudah pulih 60% itu memiliki dua anak perempuan, satu di pesantren dan satu lagi diasuh suaminya.

Tanpa obat
Beragam reaksi muncul ketika Media Indonesia<p> menyambangi tempat tinggal mereka. Di sembilan kamar yang diisi 5-6 perempuan ini mereka antusias menyambut kami, mereka mengajak bersalaman, mengobrol, hingga tak pelak ada yang bersembunyi di balik badan temannya, tapi ada pula yang asyik berjoget mengikuti irama lagu dangdut di radio kamarnya.

Dari area perempuan yang overload itu, ada kisah mengharukan pula dari Slamet, suami salah satu pasien. Selama 13 tahun ia merawat istrinya yang mengalami gangguan jiwa. Sudah 20 orang mengobatinya, tapi nihil. Slamet menitipkan istrinya selama 8 bulan di Al Fajar Berseri dan ia melihat perubahan positif. Ia sudah bisa berkomunikasi dengan anaknya, meski terkadang marah melihat Slamet di dekatnya.

Marsan terbiasa konsultasi dengan cara pendekatan dan bertanya langsung mengenai apa pun dengan mereka satu per satu. Dari situ, Marsan dapat langsung mengetahui bagaimana kondisi kejiwaan pasiennya. "Bisa dilihat dari bermacam-macam, seperti bentuk tanggung jawab misalnya, banyak pasien yang meminta sesuatu, misalnya sabun. Orang yang jiwanya terganggu pasti tidak bisa menjaga amanat untuk menjaga bila diberi sesuatu," kata Marsan.

Teknik pengobatan panti ini memang jauh dari kesan medis. Bahkan, menjauhkan mereka dari obat-obatan. Menurut Marsan, semakin banyak obat yang dikonsumsi dan ketergantungah, semakin lama proses pemulihannya. "Saya sudah tiga tahun minum obat tanpa henti, tapi di sini saya berlatih tanpa itu. Awalnya memang susah tapi dibiasakan," kata Ujang. Marsan yakin pendekatan secara psikologis lebih cepat membantu pasiennya sembuh, meskipun risiko kambuh tetap ada. Bagi Marsan, kenyamanan jiwa dan batin berpengaruh pada kesehatan jiwa

Tahun ini tercatat ada 295 orang yang dirawat di sini, terdapat 217 laki-laki. Di Januari tercatat 24 disabilitas yang datang, 10 orang sembuh, pergi tanpa izin 5, dan meninggal dunia 4 orang, sedangkan di Februari ada 7 orang yang dayang, 4 orang sembuh, 1 orang pergi tanpa izin, dan 1 meninggal dunia.

Latih keterampilan
Melatih keterampilan juga dilakukan Sanatorium Dharmawangsa terhadap pasien mereka sehingga seusai pengobatan ODGJ bisa berkarya dan kembali percaya diri. Di samping itu, Sanatorium menyedia pekerja sosial sebagai fasilitator.

"Kalau bisa melukis ya difasilitasi, bisa main musik silakan. Atau latih membuat prakarya, beberapa kali juga kami menyediakan pekerjaan bagi pasien yang kami rasa sudah sehat nantinya gaji dibayar oleh keluarga. Supaya mereka mampu, keluar dari sini sudah siap," ujar Direktur Umum Sanatorium Dharmawangsa, Richard Budiman.

Richard meminta agar masyarakat menghilangkan stigma, mereka yang berobat ke spesialis kejiwaan ialah orang gila. Justru mereka ingin datang supaya masalah tidak semakin berlarut dan membuat kondisi mental semakin terganggu. Pun jangan menyebut seseorang sebagai orang gila, karena ciri mereka yang suka marah tanpa sebab, senyum tanpa sebab, atau bahkan berpakaian tidak baik kerap didiagnosis skizofrenia ataupun psikotik. Ia pun secara pribadi tidak sepakat dengan penyerangan yang selama ini dituduhkan kepada ODGJ. Bagi Richard, kemungkinan ODGJ menyerang itu ada tetapi acak, tidak terfokus pada satu orang.

Di Sanatorium ada peningkatan sekitar 200 pasien pada 2017 dengan jumlah total mencapai angka 8.000, baik rawat jalan maupun rawat inap. Penyebabnya beragam, mulai tekanam ekonomi, kondisi kehidupan, juga pekerjaan. Namun, hasilnya berbeda, bisa mengalami depresi, anxiety (cemas ), hingga skizofrenia.

"Kalau jumlah penderita skizofrenia atau psikotik sebenarnya sangat sedikit loh, kajian dari luar negeri itu populasinya hanya 0,3% dari penyandang gangguan jiwa, saya rasa sama dengan di Indonesia, meskipun kita belum ada penelitiannya. Kebanyakan itu depresi," pungkas Richard. (Wnd/M-4)

wandari@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More