Aksi Musikal Era Milenial

Penulis: FERDIAN ANANDA MAJNI Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 06:30 WIB Hiburan
Aksi Musikal Era Milenial

DOK. FALCON PICTURES

SETELAH sukses dengan film Dilan 1990, Falcon Pictures menggandeng sutradara kondang Hanung Bramantyo guna mencuri start awal Maret dengan film baru berjudul Benyamin Biang Kerok. Sosok Benyamin Sueb atau yang lebih dikenal Benyamin S memiliki gaya khas dan begitu melegenda. Hingga kini karyanya masih dibicarakan dan mendapat perhatian khusus dari pecinta film Tanah Air.

Film semimusikal ini berlatar zaman modern dengan teknologi yang supercanggih. Sentuhan epik visual dan teknologi futuristis ala film Mission Impossible dan James Bond siap menjadi gebrakan baru. Diceritakan, Pengki (Reza Rahadian) merupakan anak Betawi kaya raya yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Ia membuktikannya dengan upayanya mencegah penggusuran kampung dan menjadi pelatih tim sepak bola bagi anak-anak setempat.

Di tengah cerita, Pengki akhirnya bertemu dan jatuh hati pada artis ibu kota bernama Aida (Delia Husein) dan berniat mendapatkan perhatian dari pujaan hatinya tersebut. Namun, upaya mendapatkan cinta Aida tidaklah mudah karena Pengki harus berhadapan dengan Said Toni Rojim (H. Qomar) mafia yang juga suka pada Aida.

Di satu sisi, Said yang telah berjasa pada keluarga Aida menuntut balas budi. Ia membujuknya untuk menikah. Mengetahui hal itu, Pengki tidak tinggal diam dan mengatur rencana. Bersama kedua temannya, Somad (Adjis Doaibu) dan Aci (Aci Resti), Pengki menjalankan misi agar Aida bisa terlepas dari ancaman kawin paksa dan teror terhadap ibu Aida yang sakit-sakitan.

Sementara itu, Pengki memiliki ibu pengusaha (Meriam Belina) dan ayah (Rano Karno) jagoan silat Betawi yang memilih hidup sederhana. Kehidupan keduanya sangat bertolak belakang, bak langit dan bumi. Hidup Pengki semakin rumit, dia diminta belajar bisnis demi melanjutkan perusahaan ibunya, sedangkan ia lebih menikmati kehidupannya yang semrawut dan suka menolong. Lalu bagaimanakah Pengki menghadapi itu semua?

Modern
Benyamin Biang Kerok adalah film Indonesia yang dirilis pada 1972, disutradarai Nawi Ismail. Film ini dibintangi Benyamin S dan Ida Royani. Sejatinya, Benyamin Biang Kerok versi modern ini bisa dibilang hanya meminjam judul dan nama pemeran utamanya dari film lama, Pengki.

Benyamin Biang Kerok kali ini benar-benar dikemas dengan cara yang baru dan dapat dinikmati semua umur. Unsur drama, laga, komedi, futuristis, klenik, musikal, dan semua alur ceritanya dibuat semodern mungkin sehingga tidak membosankan. Reza Rahadian terpilih untuk meme­rankan Pengki. Selain itu, ada aktor dan aktris kawakan, antara lain Rano Karno, Meriam Bellina, Lydia Kandou, H Komar, Tora Sudiro, Omaswati, Delia Husein, Adjis Doaibu, Aci Resti dan Melaney Ricardo.

Berbeda dari film Reza sebelumnya, dalam peran ini ia tidak hanya sekadar berakting, tetapi juga membawakan lagu-lagu aransemen milik Benyamin seperti, Di Sini Aje, Ondel-Ondel, Hujan Gerimis, Pergi Ke Bioskop, Abang Pulang, Biang Kerok, dan Manis & Sayang.
Film yang dipro­duksi Falcon Pictures ini tidak termasuk genre biopik atau full komedi. Selain mendekatkan dengan kemajuan teknologi, dipadukan dengan unsur sosial, politik, dan budaya Betawi yang melekat dalam film Benyamin S sebelumnya.

Saat gala premiere di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu malam (24/2), sutradara Hanung Bramantyo mengaku film Benyamin Biang Kerok menjadi pengalaman pertamanya syuting langsung untuk dua judul film dalam satu kali proses produksi.
“Ini film pertama saya yang langsung syuting untuk dua judul sekaligus. Saya berusaha tetap menjaga drama tiga babak yakni awal-tengah-akhir. Ini juga pertama kali saya buat semi musikal. Agak rumit memang. Jadi maaf kalau belum terampil karena saya pribadi merasa sangat susah,” katanya.

Ia menjelaskan, pertama kali menderek layar lebar bernuansa musikal hingga menyadarkannya PR industri perfilman Tanah Air masih banyak, terutama menyediakan sumber daya yang memang siap terjun untuk produksi film. “Syuting musikal tidak semudah saya membuat adegan drama, membuat penonton tertawa, menangis. Harus berakting dengan musik dan tari itu memang belum biasa. Syuting untuk satu lagu saja bisa itu satu hari. Tadinya rencana satu hari dua lagu ternyata berat. PR perfilman Indonesia masih banyak,” tegasnya.
Di film ini, Hanung Bramantyo ingin memberikan porsi dan penempatan aspek musikal dengan cukup telaten. Ia juga melakukan gebrakan terhadap keterlibatan penari agar siap dalam sebuah film musikal.

“Dancer di sini cenderung tampil sekali event, sementara untuk film mereka harus mengulang. Misalnya mau ambil ending-nya saja, atau langsung bagian tengah, jadi harus diulang dan mereka belum terbiasa. Beda dengan Reza atau aktor lain, udah sadar mindset-nya untuk take berkali-kali. Kalau dancer belum terbiasa syuting satu hari untuk adegan dua menit saja,” pungkasnya.

Meski dianggap remake dari film sukses saat diperankan Benyamin, mereka juga menunjukkan keseriusan dengan cara mengemas dengan apik. Apalagi diwarnai dengan tarian serta nyanyian khas Betawi. Keterlibatan Ari Tulang sebagai koreografer untuk tarian dalam film ini juga mendapatkan apresiasi. Begitu juga wardrobe yang dikenakan para pemain sangat cheerful. Terlepas, beberapa aspek komedi yang ingin ditampilkannya terkadang cukup aneh dan kaku. Namun sejumlah celetukan kocak komika pendukung mampu memantik gelak tawa penonton. Film yang terbagi dalam dua part ini dapat disaksikan di bioskop mulai 1 Maret 2018, sedangkan bagian selanjutnya pada Desember 2018. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More