Sifat Kesatria dan Kepemimpinan Orang Bima

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 05:40 WIB Weekend
Sifat Kesatria dan Kepemimpinan Orang Bima

MI/EBET

BUKAN rahasia lagi letusan Tambora dikenang sebagai erupsi terdahsyat dalam sejarah ingatan manusia. Tambora setidaknya telah memuntahkan abu dan batuan sebanyak seratus kilometer kubik. Lebih dahsyat ketimbang Krakatau yang melampiaskan isi perutnya hampir 20 kilometer kubik. Lebih besar ketimbang Huaynaputina, Vesuvius, dan Pinatubo. Pada April 2015, dunia mengenang letusan mahadahsyat Tambora yang terjadi tepat 200 tahun silam. Gunung yang berlokasi di Sumbawa itu mulai mengeluarkan suara gelegar batuk-batuknya pada 5 April 1815. Hujan abu mendera kawasan sekitar terus berlanjut. Gelegar mahadahsyat pun membahana yang mengungkapkan amarahnya pada lima hari kemudian.

Saking besarnya letusan, Gunung Tambora dinobatkan sebagai gunung berapi dengan Indeks Letusan Gunung Berapi (VEI) tertinggi, yakni 7. Berikutnya, indeks 6 disandang Huaynaputina (Peru-1600), Krakatau (Indonesia-1883), Santa Maria (Guatemala-1902), dan Pinatubo (Filipina-1991). Kemudian Vesuvius (Italia-79) dan Mount St. Helens (Amerika Serikat-1980) berada pada indeks 5.

Letusan Tambora telah mengubur
Kala itu terdapat tiga kerajaan yang berada di lereng Tambora yakni Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat. Semuanya musnah karena letusan Tambora. Kerajaan Bima sendiri turut mencatat peristiwa mahadahsyat ini seperti tertuang dalam naskah kuno Bo Sangaji Kai. Kala Gunung Tambora meletus, dampaknya menyebar ke seluruh dunia. Terjadi perubahan drastis cuaca di Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan gunung Tambora. Letusan Tambora menjadi semacam pemisah antara masa sebelum dan sesudah. Semua berubah, mulai wilayah, lingkungan, politis, ekonomi, sosial, hingga budaya.

Gunung Tambora terletak di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Kini gunung ini berlokasi di dua kabupaten, yakni Bima dan Dompu. Peristiwa letusan gunung Tambora menjadi titik sejarah penting dalam membangun masyarakat. Letusan dahsyat tersebut menjadi pemicu semangat dan kemauan besar untuk kembali membangkitkan kejayaan Pulau Sumbawa. Sebab Tambora sebelum 1815 punya peradaban yang sangat maju, sebagai buah dari hubungan dagang antar-negara.

Hal itu menjadi landasan utama diskusi yang dihelat Yayasan Mahkota Tambora 1815 dengan tajuk Mengukir Sejarah dan Peradaban sebagai Warisan Dunia. Berbincang tentang budaya Sumbawa saat ini, ada yang menarik. Sebabnya dalam budaya pulau tersebut tidak ditemukan perbedaan signifikan yang membedakan daerah satu dengan yang lain.

“Sebenarnya Sumbawa, Bima, dan Dompu itu erat. Hampir sulit lagi kita kenal suku aslinya. Karena akulturasinya. Hanya yang berbeda itu bahasa di Sumbawa (yakni) Samawa. Tapi di budaya, karakter itu hampir sama,” terang Tokoh Muda Bima Hermawan Saputra.

Identitas kesukuan
Bima sebagai salah satu daerah yang terdampak dari letusan Tambora ternyata mempunyai nilai-nilai luhur yang tak lekang oleh zaman. Mereka menyebut dirinya sebagai Dou Mbojo. “Dou artinya orang. Mbojo adalah sebutan kesukuan Bima dalam bahasa lokal,” tegasnya.
Menurutnya, orang-orang Bima yang berbahasa Bima mengidentifikasi diri mereka sebagai Dou Mbojo. Makna kesukuan, identitas kesukuan Dou Mbojo. Mereka bermukim di Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Bagi mereka yang mengidentifikasi diri sebagai Dou Mbojo, terdapat beberapa nilai yang harus diterapkan dan diamalkan.

“Kalau orang Bima menyebut dirinya Dou Mbojo maka ada delapan nilai yang mendasari dou. Maka semuanya diawali dou,” lanjutnya. Dalam terjemahan karakter, sikap dan sifat atau pribadi masyarakat mbojo dikenal dengan istilah nggusu waru atau kepemimpinan. Delapan nilai tersebut adalah dou ma dei ro paja ilmu yang berarti terpelajar dan berilmu. Kedua, dou ma dahu ndi ndai ruma yakni bertakwa kepada Allah SWT. Ketiga, dou ma taho ra ruku rawi, yakni halus budi pekerti dan tutur kata.

Karakteristik dan kepribadian manusia menurut nilai-nilai luhur Dou Mbojo yang keempat adalah dou ma taho ntanda ba dou londo ra maina yang bermakna menjaga nasab dan nama baik keluarga. Lima, dou ma dodo tambari kontu, tengi angi labo dou ma to’I, yakni bahu membahu membantu rakyat kecil. Enam, dou ma mbeca wombo na yakni hidup berkecukupan dan suka membantu orang lain. Tujuh, dou ma sabua nggahi labo rawi, yakni jujur dalam berkata dan berbuat. Terakhir, dou ma disa kai ma poda yakni berani membela kebenaran.

Selain itu dikenal pula sifat ksatria Dou Mbojo yang disebut Tambulate. Sifat itu diturunkan dari bunga tambulate, yakni bunga liar khas daerah panas seperti Kerajaan Bima. Ia tumbuh di celah-celah batu cadas, berwarna merah darah, bertangkai bunga satu dan kukuh, berkelopak bunga lima hetai dan benang sari yang mencuat tiga helai pada pucuknya.

Nilai luhur sifat ksatria Tambulate terdapat dalam Nuntu Mantoi Dana Mbojo yang berarti syair lama tanah Bima dari sumber Lalu Abd Masir Abdullah (Yayasan La Mbila) dan diterjemahkan oleh Daeng Rusyi. Syair itu berjudul Tambulate Ma Ila Nggunggu. Berikut bunyi syair yang menjadi perumpamaan dan ibarat dari sifat kesatria Dou Mbojo.

Tambulate ma ila nggunggu, Tambulate yang pantang bergeming. Na woko mpende di hela rengge, nan tumbuh tegak di celah batuan cadas. Coco ba ura, dicerca hujan. Pepe ba bara, diterpa badai. Winca ba angi, dicabik angin. Ka’a ba liro, terbakar matahari. Ngge’e mpa pende na, tetap kukuh berdiri. Ma da ngawa pumpa, tak pernah sedikit pun nelangsa.

Tambulate ma cia panggempe, Tambulate yang kuat mencengkeram. Ma kala ngganga bune ra’a ma mori, nan merah menyala seperti darah hayati. Raka sira umuna ma samba’a ma ntuma, jika umur telah sampai setahun yang cukup. Na woko ra ana na ma ndei ma cepe, tumbuhlah jabang pengganti diri. Na made mbinca ra siama wara, hancurlah raga dengan akunya yang ada. Ila na rungka dihidi ma sadidi, tak pernah bergeser dari tempatnya pasti. Ede duntewi na nuntu mantoi, itulah teladan dari petuah lama. Ndei ntewi kai sifat ndai dou rangga, sebagai perbandingan sifat ksatria sejati. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More