Dasamukaisme

Penulis: ONO SARWONO Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 04:00 WIB Opini
Dasamukaisme

Dok MI

BANYAK kalangan yang menyesalkan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam revisi UU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) yang baru lalu disahkan. Khususnya, diloloskannya pasal 122 huruf (k) UU MD3 yang menyebutkan bahwa pengkritik DPR bisa dipidana. Dalam kisah wayang, keputusan DPR membentengi diri dari sentuhan kritik itu ibarat perilaku Raja Alengka Prabu Dasamuka mengamankan kekuasaannya. Takhta untuk memahu hayuning bawana (membuat dunia damai) yang diwasiatkan oleh kakeknya, Prabu Sumali, tidak diindahkan. Kekuasaannya dimonopoli untuk memuaskan nafsunya sendiri.

Dasamuka, yang berarti bermuka sepuluh, mensterilisasi kekuasaannya dengan membentuk pertahanan berlapis-lapis. Mulai dari wilayah paling luar hingga sekitar lingkaran istana. Siapa pun yang berani menjamah, apalagi melangkahi garis yang ditentukan, dijatuhi pidana berat.

Anoman hampir buta
Alkisah, dalam cerita wayang, hanya Dasamuka yang menggenggam takhta dengan perlindungan yang sangat ketat. Dalam bahasa dalang, saking rapatnya, diibaratkan, jangankan manusia, kutu-kutu walang ataga (binatang kecil-kecil), dan bahkan jin priprayangan (makhluk halus) tidak bisa merambah wilayah Alengka.

Pertahanan paling luar ada di wilayah yang bernama Kotawindu. Di sini Dasamuka memiliki orang kepercayaan bernama Sayempraba. Ia putri almarhum Wisakarma dengan Merusupami. Sayempraba berwajah cantik jelita tapi kejam. Tapi wataknya yang demikian itu sesungguhnya hanya karena melaksanakan tanggung jawabnya sebagai anak buah Dasamuka.

Suatu ketika, Anoman pernah tersesat di belantara Kotawindu ketika ingin memasuki wilayah Alengka. Di tempat itulah duta Rama Wijaya itu sempat diracun Sayempraba hingga matanya nyaris buta. Beruntung wanara seta (putih) itu selamat berkat pertolongan burung Sempati.

Pertahanan kekuasaan Dasamuka juga ada di matra udara. Benteng hidup di wilayah langit itu bernama Garulangit. Tugas yang diemban layaknya sebagai radar sekaligus eksekutor. Bila diketahui ada obyek yang tidak dikenal, ia memiliki kewenangan langsung memidana.
Salah satu korban Garulangit adalah Anoman pula. Setelah lolos dari sergapan Sayempraba, putra Dewi Anjani ini terbang setinggi-tingginya untuk mencapai Alengka. Ia menyadari bila jalan lewat darat begitu banyak ranjau yang dipasang penguasa Alengka.

Anoman mengira dengan melayang di atas awan akan selamat dan cepat sampai tujuan. Ia tidak menyangka bila ada sosok raksasa bernama Garulangit yang sejak awal memantaunya dari kejahuan. Setelah dipastikan obyek terbang itu adalah makhluk asing, raksasa bermulut sangat lebar itu menyedot Anoman hingga terdampar di lambungnya.

Semula, Anoman tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia merasa tiba-tiba ada angin puting beliung besar yang menggulungnya. Sesaat kemudian kesadarannya hilang hingga kemudian merasa berada dalam ruangan gelap yang makin lama makin mengimpit.

Dengan sekuat tenaga Anoman memberontak. Ia seperti bertiwikrama lalu mengobrak-abrik sekelilingnya hingga akhirnya ia tiba-tiba terlontar hingga jatuh terjerembap. Ia kaget mendapati raksasa dengan perut bedah terkapar di depannya. Anoman baru sadar bahwa dirinya baru saja terbelenggu dalam perut yaksa tersebut.

Membangun bendungan
Kisah perlindungan kekuasaan Dasamuka yang lain terceritakan dalam lakon Rama Tambak. Ini long march Rama dengan seluruh prajurit wanara Goa Kiskenda dari daratan Maliawan menuju Alengka. Mereka membuat tambak (bendungan) raksasa di atas Samudra Hindi.
Semula, Gunawan Wibisana, adik kandung Dasamuka yang membelot ke Rama yang membangun jembatan. Tapi, jembatan yang dibuat secara gaib itu tidak layak dilewati setelah Anoman mengujinya. Dengan ajian mundri, jembatan itu rontok digenjot Anoman.
Lalu, dengan bergotong-royong, ribuan wanara di bawah komando Narpati Sugriwa membangun jembatan siang malam. Awalnya, pembangunan berjalan normal dan tidak ada gangguan berarti. Maka, hanya dalam beberapa hari, jembatan sudah mulai mengular ratusan meter.

Tapi pada hari-hari berikutnya, Sugriwa merasa kecewa karena panjang tambak tidak bertambah. Malah, penyangga jembatan yang sebelumnya kokoh berdiri banyak yang roboh sehingga menghanyutkan serta menenggelamkan semua bangunan yang ada di atasnya.
Situasi itu kemudian dilaporkan kepada Rama. Gunawan yang berada di belakang Rama lalu meminta izin untuk memeriksanya. Dengan seksama, kesatria yang sebelumnya bertempat tinggal di Kesatrian Parangkuntara ini, menyelisik samudra. Gunawan mendapati ada prajurit Alengka bernama Yuyurumpung yang mengganggu.

Ia kemudian melaporkan temuannya itu. Saat itu juga Rama memerintahkan Sugriwa menyelesaikannya. Lalu, diutusnyalah prajurit bernama Kapi Sarpacita untuk menyirnakan Yuyurumpung dan berhasil.
Setelah Rama dan bala tentaranya menginjakkan kaki ke Suwelagiri, wilayah pesisir Alengka, pertahanan Dasamuka semakin canggih. Di tempat ini Rama dan seluruh pasukan wanara mendirikan pesanggrahan (tempat istirahat sementara).
Selain guna memulihkan tenaga, Rama memberikan kesempatan kepada Dasamuka, apakah bersedia mengembalikan Sinta kepadanya dengan baik-baik. Itu pilihan untuk menghindari kehancuran istana Alengka dengan seluruh isinya dan dipastikan juga akan memakan banyak korban lagi.

Di tempat itu ternyata Dasamuka memiliki personel intelijen hebat yang bernama Janggisrana. Mata-mata Alengka ini memiliki kemampuan mengubah dirinya sesuai dengan kepentingannya.

Akhirnya hancur
Beruntung Rama didampingi Gunawan. Maka aksi spionase Janggisrana tercium. Tapi Rama tidak mengeksekusi tapi malah sebaliknya, musuh itu dilepas dan diminta untuk menghadap Dasamuka. Pesannya, Dasamuka menyerah atau Alengka dibumihanguskan.
Dikisahkan Dasamuka menolak sehingga terjadilah perang yang dalam seni pakeliran disebut dengan lakon Brubuh Alengka. Alengka akhirnya hancur oleh kekuatan Rama dengan ujung tombaknya, senapati Anoman.

Nilai yang bisa dipetik dari kisah ini ialah betapa berlapis dan kuatnya pertahanan yang dibangun Dasamuka, toh akhirnya hancur juga. Inti kekuatan yang meluluhlantakkan itu bernama Anoman, wanara berbulu putih yang melambangkan kejujuran dan kesucian.
Dalam konteks DPR yang membentengi diri dengan pasal-pasal ‘granat’ dalam Undang-Undang MD3, itu tidak akan berarti bila berhadapan dengan apapun yang bernama kejujuran. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More