Sangkar Perkawinan

Penulis: MUNA MASYARI Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 03:41 WIB Weekend
Sangkar Perkawinan

PA

KAU mematung di halaman. Nanar menatap rumah kayu dengan serambi ditopang tiga pilar berukir, lima meter di depanmu. “Tiga pilar itu adalah simbol penyangga perkawinan; jujur, setia, menerima,” ujar ibu mengurai makna, ketika baru pertama kali kau dituntun menginjak lantai serambi rumah yang baru kemarinnya selesai dibangun, disaksikan berpasang-pasang mata di halaman, seusai akad pernikahan. Tujuh tahun silam.

Pilar itu tidak terlalu gemuk. Berukir gelang-gelang lingkar pada pangkal dan ujung sepanjang dua jengkal, beraksen timbul seperti taburan permata pada gelang juragan genting (salah seorang tetangga), mengapit ukiran pelintir ubi bagian tengahnya. Selama ini, tiap kali menatap tiga pilar itu, seperti menyepuh kejujuran, kesetiaan, dan keikhlasan atas semua yang ada dalam perkawinanmu. Termasuk ikhlas menunggu kepulangannya selama lima tahun ini. Pandanganmu beralih pada pintu berdaun dua yang dihiasi ukiran sulur gelung bercat cokelat tua. Dengan kebaya pengantin putih dipadu sampir batik, ibu terus menuntunmu memasuki lubang pintu itu.

“Bagi istri, selama tinggal di rumah hantaran, cinta dan kesetiaan harus tetap dipertaruhkan!” lanjut ibu, setelah memasuki rumah baru seluas 5x6 meter, tanpa bilik-bilik kamar. itu Kau menyimak dalam diam. “Apa kau tahu makna kelambu ini?” ibu bertanya setelah mendudukkanmu di tepi ranjang, seraya memegang kain kelambu putih dan memerhatikan serat-serat halusnya sebentar penuh kekaguman. “Untuk melindungi dari gigitan nyamuk,” Ibu tertawa tanpa suara. “Tidak sekadar itu bagi sepasang suami-istri.” Kau menatap mata ibu penuh rasa ingin tahu. “Kelambu adalah simbol satir kehidupan, agar sepasang suami-istri menjaga rahasia rumah tangga. Segala bentuk permasalahan cukup menjadi rahasia berdua, selesaikan bersama, tidak perlu dibeberkan pada orang luar, kecuali memang sangat membutuhkan saran dan nasihat orangtua atau saudara yang terpercaya.”

Kau manggut-manggut. Berusaha mencerna apa yang dijelaskan ibu baru saja. Ibu mendekati lemari dan membuka pintunya yang ditempeli cermin bulat telur pada bagian muka, “Dan baju hantaran ini, tak sekadar baju baru yang biasa kaukenakan pada hari lebaran,” ibu mengambil sepotong baju dari kotak lemari, lalu dibawanya padamu. Matamu membulat dan mulutmu setengah menganga. Belum pernah kau memiliki baju sebagus itu. Warnanya merah menyala berbahan brokat tipis dan bertabur payet lidi berbentuk kembang bagian dada. Baju itu terlihat lebih mewah dari baju pengantin yang sedang kaukenakan.

“Seorang istri adalah baju bagi suami. Begitu pun sebaliknya!” jelas ibu. “Maksud Ibu?” keningmu mengerut. “Seorang istri harus menjadi hiasan suami. Jadi pelengkap ketaksempurnaannya. Penutup celah kekurangannya!” Ah, usia empat belas tahun terlalu dangkal untuk bisa memahami makna simbol-simbol perkawinan yang ibu tuturkan sejak tadi. Kau hanya tahu, selain cincin mahar, suamimu membawakan pakaian, perhiasan, perlengkapan bedak, dan rumah beserta isinya sebagai hantaran komantan*. Tanpa semua hantaran itu, perkawinan bisa gagal meskipun penghulu sudah menunggu. Menikahkan anak perempuan tanpa barang-barang hantaran hanya mengundang cibiran. Dianggap lebih rendah dari harga hewan di bawah standar harga pasar.

Dari hantaran komantan* nilai mempelai perempuan di kampungmu ditakar. Semakin mahal barang hantaran, semakin tinggilah nilainya dipandang. Sebuah keberuntungan besar sekaligus kebanggaan karena kau dibawakan rumah kayu berukir dengan dinding papan berserambi lebar ditopang tiga pilar. Rumah itu diantar empat hari menjelang pernikahan. Langsung dibangun oleh pekerja yang ulet dan cekatan. Ranjang, lemari, dan kursi yang juga terbuat dari kayu kokoh berhias ukiran, dibawa bersamaan dengan kedatangan mempelai.

“Lihatlah, sangat jarang perempuan dibawakan hantaran semahal ini,” tambah ibu, kembali menyapu sekeliling; ranjang, lemari, kursi, luas rumah, lalu tengadah menyapu usuk-usuk atap dengan takjub, “dulu ibu hanya dibawakan rumah bambu dan kursi rotan. Ranjang dan lemarinya pun barang lama yang dicat ulang. Bahkan baju yang dibawa ayahmu hanya baju kodian,” ibu terkekeh. Katanya, sejak menginjak remaja suamimu sudah jadi perantau ke Malaysia. Tak heran jika ia membawakanmu barang-barang hantaran senilai jutaan. Tapi apalah arti semua itu sekarang?

“Kalau sudah ‘lapar’ di sini, apa aku harus terbang ke Karangpenang untuk ‘makan’? Yang penting aku kan tidak ‘jajan’ di luar!” Suara suamimu tadi di telepon terngiang. Sebuah pengakuan berdalih yang telah menuntaskan ketakpastian. Desas-desus para tetangga belakangan ini akhirnya terjawabkan. Benar, suamimu membelah rusuk di negeri seberang. Yang membuatmu serasa menelan kulit durian, begitu tenangnya ia menyampaikan pengakuan. Seperti menuang air ke dalam cangkir. Tanpa beban. Tanpa riuh gelombang.
Dan kalau aku yang ‘haus’, harus menunggumu pulang? Ingin kau pertanyakan itu, menuntut keadilan, namun lidahmu kelu.

Telepon dimatikan. Kau pun pulang dengan hati redam. Tidak kaudengar tegur-sapa orang yang kebetulan berpapasan saat turun dari ketinggian demi mencari sinyal. Sesampai di halaman rumah, langkahmu terhenti. Nanar kautatap rumah hantaran yang selama ini mengurungmu dan menuntut kesetiaan, bagai sangkar perkawinan. Yah! Rumah hantaran itu hanya sangkar perkawinan. Tak lebih! Kau teringat nasib Maryam yang tak kunjung menikah lagi meskipun sudah mengantongi surat talak dari bekas suami. Alasannya, ia tidak memiliki rumah lain kecuali rumah hantaran yang dibawakan bekas suaminya dulu. Meninggalkan putri kecilnya di rumah itu sendirian dan ia ikut suami baru, jelas tak mungkin. Mengajak suami baru untuk tinggal bersama di sana hanya mengundang cecaran bekas suami dan keluarganya. Sampai saat ini Maryam terkurung dalam sangkar itu, mengutuk masa lalu. Tak ubahnya burung yang terbelenggu. Sementara bekas suaminya sudah beristri baru.\

Nasib Jumarti beda lagi. Hubungannya dengan suami terkatung. Tak ada niat berpisah satu sama lain, namun sudah tidak ada sangkar perkawinan yang menyatukan. Kisah itu berawal ketika suami Jumarti terbakar cemburu, karena tiap kali pulang selalu mendapati rambut Jumarti tergelung basah. Sebagai sopir pengantar genting, ia memang kerap pulang menjelang subuh jika rumah pelanggan cukup jauh. “Siapa yang telah menidurimu semalam?” pertanyaan bernada tuduhan itu menyulut ribut besar suatu pagi buta, ketika kepala si suami sudah disesaki rasa cemburu dan curiga.

Beragam cercaan pun disemburkan pada Jumarti tanpa minta penjelasan. Ujung dari pertengkaran itu, rumah hantaran dirobohkan dan diangkut pulang. “Daripada dijadikan tempat melacur,” ujar si suami dengan dada terbakar. Jumarti kembali ke rumah orangtuanya dengan balita yang belum genap usia dua tahun. Tak lama dari kejadian itu, barulah kemarahan suaminya mereda setelah mendengar penjelasan Jumarti dari mulut tetangga; bahwa ia keramas tiap pagi karena kencing anak lelakinya selalu menyembur ke mana-mana ketika tidur.

Suami Jumarti menyesal. Namun untuk rujuk, rumah hantaran terlanjur diangkut pulang. Ujung-ujungnya, hubungan mereka terkatung hingga sekarang. Tak ada sangkar perkawinan yang bisa menyatukan, kecuali Jumarti dibawakan rumah hantaran lagi. Akan tetapi si suami merasa gengsi untuk melakukannya. Jadilah keduanya hidup terpisah tanpa ada yang mengalah. Kau masih mematung di tempat. Meringkus sangkar di depanmu dengan sepasang mata yang terasa pedas. Seekor burung melintasi atap rumah. Melesat cepat. Tak seberapa lama, burung itu kembali menuju arah semula.

Tiba-tiba matamu melebar, menunggu burung yang hilang di balik rimbun pohon saga di belakang rumah itu kembali melintasi atap rumah. Kau mengusap mata yang merabun. Namun burung itu lenyap sama sekali. Tak kembali. Kau tercenung. “Burung tak bertuan jika sudah tak bersangkar,” gumammu, seperti ujung janur kering disulut api. Tiba-tiba kau melangkah cepat ke dapur. Mengambil parang yang disandarkan pada kaki lincak dan selalu kaugunakan membelah kayu bakar. Benda tajam itu kaubawa keluar. Matanya putih dan berkilat tajam.

Di serambi rumah, kau menatapi tiga pilar satu per satu. Jujur, setia, menerima! Demikian ibu memaknai ketiga pilar itu. Kakimu melangkah pelan mendekati pilar samping kanan, sementara gagang parang masih tercengkeram. Inikah pilar kejujuran yang akan terus menopang sangkar perkawinan? Senyummu pahit. Berkelebat wajah suamimu di pelupuk mata. Sebentar kau menatap langit-langit serambi. Menimbang-timbang kekuatannya jika pilar penyangga tumbang satu per satu. Tidak! Kejujuran itu terakui setelah terjadi pengkhianatan. Kau beralih ke pilar tengah. Merabanya sebentar. Ada getar-getar halus di dadamu. Kesetiaan sesuci apakah yang harus dipertaruhkan? “Kalau sudah ‘lapar’ di sini, apa aku harus terbang ke Karangpenang untuk ‘makan’? Yang penting aku kan tidak ‘jajan’ di luar!” Teringat kata-kata itu membuat napasmu memburu, lalu mengayunkan parang dengan keras. Simbol kesetiaan itu bergetar.
***

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More