Sneaker dan Subkulturnya

Penulis: FATHURROZAK JEK Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 02:41 WIB MI Muda
Sneaker dan Subkulturnya

DOK FATHURROZAK JEK

BIAR enggak asal pakai, sepertinya Muda perlu menyelisik kemunculan sepatu yang awalnya dikhususkan untuk kegiatan olahraga ini. Sebab itu pula, Jakarta Sneaker Day mengajak para sneakerheads julukan untuk para penyuka sneaker, melalui helatan Jakarta Sneaker Day 2018 melacak akar kelahiran sneaker. M Triangga, Cofounder Jakarta Sneaker Day (JSD), menyatakan edukasi terkait sneaker di Indonesia sangat perlu dilakukan.

Mengingat popularitasnya yang makin meningkat. Agar tidak sekadar mengikuti tren. “Pemakai (sneaker) banyak yang belum paham. Main makai aja, enggak tahu sejarah sneaker kayak gimana. Edukasi tentang sneaker ini makanya perlu banget, nah tahun ini kita mengusung tema Back to the roots, biar yang datang punya pengetahuan tentang sneaker.” Ia melanjutkan, “Jadi punya kebanggaan buat para pemakainya, kalau tahu sejarahnya.”

Mempertemukan pencinta
Kemunculan JSD pada 2017 silam ialah melihat momentum karena saat itu sneaker sedang melejit. Di samping itu, acara yang berkaitan dengan sneaker masih belum menggarap pasar yang lebih luas dan kurang terorganisasi dengan baik. “Saya dari Umbre, merek produk perawatan sepatu, terus ada teman-teman dari Pariwara dan Infia.

Dari situ kita ngobrolin, sepertinya Indonesia perlu ada acara yang bisa nyatuin sneaker enthusiast yang bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Kalau pun ada acara-acara sneaker, itu masih sebatas antar komunitas, dan belum terorganisasi dengan baik. Kita ingin mereka yang belum suka dengan sneaker juga akhirnya menyukainya,” lanjut lelaki yang akrab disapa Angga ini.

Angga dan beberapa kawannya berkaca pada gelaran serupa di Singapura, Sole Superior. Ia berkunjung dan melihat yang datang di acara tersebut justru banyak berasal dari Indonesia. Dari situ, ia pun berpikir, “Ngapain jauh-jauh ke Singapura, kita bisa kok bikin acara semacam ini, dan pasti lebih luas pasarnya,” saat dirinya menceritakan kembali bagaimana gagasan mula JSD lahir.

Melejitnya sneaker juga bisa terlihat dari banyaknya subbisnis baru yang turut mendukung kebutuhan sneaker. Seperti produk perawatan sepatu yang dimiliki Angga, Umbre. Produk lokal yang ditujukan untuk melindungi sneaker dari basah dan kotor ini muncul lantaran popularitas sneaker di semua kalangan, terlebih anak muda. Belum lagi berbicara bisnis cuci sneaker yang tidak hanya digarap satu pelaku, tapi kini telah hadir banyak pelaku bisnis cuci sneaker. Bukan sekadar cuci, sneaker juga bisa diwarnai ulang, sesuai permintaan.

Sneaker dan skateboard
Lini sneaker memang luas. Selain memunculkan subbisnis-bisnis baru, sneaker juga tidak bisa terlepas dari kultur yang melekat sejak mula kemunculannya. Secara umum, sneaker bisa dibedakan berdasarkan kebutuhannya, yaitu olahraga dan fesyen. Ada sneaker yang memang dikhususkan untuk olahraga, ada pula sneaker yang sekadar sebagai fesyen dan tidak memungkinkan untuk kegiatan olahraga.

Atau, bisa berfungsi untuk dua-duanya. Awalnya, sneaker memang tidak terlepas dengan kegiatan olahraga, khususnya basket. Saat itu, pebasket Chuck Taylor yang digandeng merek dagang Converse, menjadi tonggak popularitas sneaker. Dilanjutkan dengan pelari Jessie Owens yang digandeng merek milik Dassler bersaudara, Adi dan Rudolf Dassler. Empat medali emas Owens dalam Olimpiade 1936, semakin melejitkan sneaker.

Kali ini, sebagai variasi dari linikultur sneaker, JSD 2018 mencoba menghadirkan juga digelar game of box, yang memberikan kesempatan kepada para skater untuk bermain beberapa trik sebanyak lima kali kesempatan. Alditiawan Waluyadi, skater yang biasa meluncur di Twilo Skate Park, mengaku sudah menggemari papan luncur ini sejak tujuh tahun lalu.

Bermula dari keinginan mencari hal berbeda dari teman mainnya, kini dirinya tekun mempelajari trik-trik skate. “Sebenarnya karena teman-teman sepermainan gue ini mainnya sepeda BMX, gue justru pengen beda dari mereka, akhirnya milih skateboard. Dulu sih, mainnya masih di sepetak lapangan bulu tangkis, karena masih minim skate park,” ujar lelaki gondrong ini. Masalah sneaker, sebagai pendukung performanya dalam meluncur, ia mengaku tidak pilih-pilih, asal nyaman.

20 ribu fan
Jakarta Sneaker Day 2018 yang digelar tiga hari di awal Maret ini, menargetkan akan mendatangkan 21 ribu pengunjung dan memecahkan transaksi Rp30 miliar. Di tahun perdana, berlangsung selama dua hari, JSD berhasil mendatangkan hampir menyentuh angka 15 ribu
pengunjung, dan memecahkan nilai transaksi Rp20 miliar. Fantastis ya! Sudah siap pecahin celengan nih, Muda? (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More