Para Pemburu Pencuri Ikan

Penulis: FATHURROZAK JEK Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 02:19 WIB MI Muda
Para Pemburu Pencuri Ikan

DOK PRIBADI

MIMPI kuliah di Amerika Serikat (AS) itu ia jajaki sejak kuliah. Saat skripsi, Priska Sufhana tetap membicarakan cita-cita itu. Berbagai ikhtiar kemudian mengantarnya memperoleh beasiswa LPDP dan kuliah di Michigan University AS. Di UGM ia belajar hukum administrasi negara dan di Amerika Priska mendalami hukum bisnis internasional dan hukum publik internasional . Kembali ke Indonesia, mengabaikan tawaran menjadi advokat di salah satu per­usahaan otomotif di Michigan, ia menjadi mentor di Indonesia Mengglobal. Organisasi itu membantu mereka yang ingin kuliah di luar negeri. Kini Priska berkarier di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), masuk Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan secara Ilegal alias 115 yang identik dengan penenggelaman kapal pelaku pencurian ikan.
Muda mendapat kesempatan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, di tengah jadwal padatnya yang menyita banyak waktu. Yuk, simak kisah Priska!

Ada apa sih di dunia hukum sehingga kamu tertarik banget?
Aku percaya, hukum adalah instrumen terkuat untuk membawa perubahan. Makanya aku mencoba memahami dua bidang hukum, publik (hubungan negara dengan perseorangan) juga privat (hubungan orang yang satu dengan orang yang lainnya).
Sehingga, mungkin suatu hari aku bisa berkontribusi membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dengan instrumen hukum yang dibuat sesuai prosedur, isi berkualitas, serta memberikan keadilan dan kemanfaat­an sebesar-besarnya untuk rakyat.
Aku memilih University of Michigan selain karena peringkat dan reputasinya, juga karena program dan profesornya juga bagus, khususnya di bidang hukum bisnis internasional dan hukum publik internasional. Hal ini mendukung ketertarikanku yang cenderung hybrid di bidang hukum, tidak plek-plekan khusus di hukum privat atau hukum publik. Ketertarikan tersebut timbul karena aku sadar bahwa seorang pembuat kebijakan harus bisa melihat dari seluruh sudut pandang, tidak cuma dari sudut pandang penguasa, tetapi juga dari perorangan.

Kamu kan banyak mengikuti kompetisi, ceritakan dong!
Saat di UGM, aku berpartisipasi pada lomba internasional The Willem C. Vis (east) di Hong Kong, dua tahun berturut-turut. Pertama aku ikut sebagai partisipan lomba, ke dua dosenku memilihku jadi co-coach bersama beliau, mendampingi delegasi UGM. Selain ikut lomba akademik, aku juga aktif di Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO). Aku memang sudah bermain biola sejak SD, jadi sangat senang bisa join dan manggung bersama GMCO.

Kalau di Univeristy of Michigan, aku berpartisipasi di Business Law Club, seminar hukum internasional. Setiap minggunya aku me-review draf jurnal internasional profesor dari seluruh dunia, dan melakukan independent research perbandingan arbitrase di AS dan di Indonesia. Willem C Vis East adalah kompetisi arbitrase internasional yang diadakan setiap tahun di Hong Kong. Arbitrase adalah salah satu alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Jadi, dalam kompetisi tersebut kedua belah pihak yang bersengketa menyepakati 3 orang arbiter atau wasit untuk membantu menyelesaikan sengketa mereka. Untuk kompetisi ini, kasus yang diberikan adalah sengketa dagang internasional. Di tahun kedua, dokumen hukum yang kami submit syukurnya mendapat Nali Fariman Award, salah satu honourable mention, setelah berkompetisi dengan 90 universitas dari seluruh dunia.

Apa alasan kamu memilih berkarier di Indonesia?
Justru setelah selesai kuliah di AS, nasionalismeku menjadi. Aku selalu kepikiran betapa maju fasilitas dan tingginya kualitas hidup di luar negeri, kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu?
Dengan pemikiran seperti itu, aku memutuskan pulang dan terjun langsung ke dunia pemerintahan. Sebab, kalau bukan kita yang turun tangan, siapa lagi yang cukup peduli kerja membangun bangsa. Bagaimanapun hasil ke depannya, paling tidak aku sudah pernah berusaha dan memberikan kontribusiku kepada Indonesia.

Mengapa berkarier di Kementerian Kelautan dan Perikanan?
Terkait dengan perikanan, pada dasarnya passion-ku kebijakan publik juga penegakan hukum. Jadi, apa pun isu dan topiknya, selama hal tersebut berhubungan dengan kebijakan dan penegakan hukum demi Indonesia yang lebih baik, pasti langsung aku jabanin.
Aku tergabung dalam Satgas 115, menjadi tim asistensi staf ahli Satgas 115 senior dalam mengkaji serta melakukan penegakan hukum atas penangkapan ikan ilegal di wilayah laut Indonesia. Tim kami isinya anak muda semua, rata-rata masih dibawah 30 tahun.

Sering ketemu dengan nelayan dong?
Aku sering bertemu dan berinteraksi dengan nelayan. Saya sangat suka bertemu mereka, belajar apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan, mendengar keluh kesah hingga menyerap usulan membangun untuk pengambilan kebijakan ke depannya.
Menurut saya, yang terpenting untuk nelayan, selain diperlukan edukasi substansi, juga edukasi mencintai laut sebagai masa depan bangsa. Sehingga laut dipandang bukan hanya sebagai tempat mata pencaharian, tetapi bagian yang harus dijaga, dipelihara dan dipikirkan masa depannya untuk generasi berikutnya.

Ada niat berkarier jadi advokat?
Saat ini saya masih asyik dengan pekerjaan saya, mungkin suatu hari nanti. Rasa­nya kok masih belum puas. Bekerja untuk Indonesia dengan pembuat kebijakan yang prorakyat itu sangat nagih, karena kita bisa lihat langsung impact pekerjaan kita. Suatu kepuasan tersendiri bisa melihat dampak dan manfaat positif pekerjaan kita.

Pembelajaran yang kamu dapat dari karier di Satgas 115?
Selain mendapatkan banyak ilmu dan pela­jaran dari role-model yang hebat mengenai cara pemikiran strategis serta pro­rakyat, saya juga belajar empati. Bagaimana menempatkan diri di posisi orang lain. Menurut saya, ini yang paling penting.
Di sini, saya belajar mendengar dari berbagai sisi, tidak saklek. Untuk melakukan cross check setiap informasi dan data, guna menciptakan rekomendasi kebijakan yang efektif dan tepat sasaran.
Dari empati, saya belajar selalu menjaga integritas, saya termasuk orang yang sangat mengutuki korupsi. Menurut saya, koruptor bukan orang yang empati. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa dampak perbuatan korup mereka bisa menyebabkan rakyat tidak sekolah, tidak dapat biaya kesehatan, tidak menikmati fasilitas dengan kualitas yang terbaik, dan hal-hal lain yang merampok hak rakyat.

Masih bisa senang-senang, dengan pekerjaan ini?
Sejujurnya, pekerjaan ini memang sangat menyita pikiran dan waktu, namun tidak terasa menjadi beban karena memang sudah passion.
Namun, aku orangnya sangat percaya dengan work-life balance, karena kalau sudah mumet, toh hasil pekerjaan tidak maksimal. Biasanya di tengah-tengah kesibukan, aku masih bisa ketemuan dengan teman atau kumpul keluarga, khususnya setelah jam kantor atau akhir pekan, apabila tidak sedang ada perjalanan dinas. Selain itu, timku sangat kompak dan rata-rata seumuran, jadi kalau kerja berasa lagi kumpul dengan teman juga. Aku suka jogging pagi setiap weekend, sangat membantu menghilangkan stres. Kemudian aku juga masih aktif dengan hobi bermain biola, menulis cerita fiksi atau ngeblog di coffee shop. Jadi, sedapat mungkin aku reserve waktu untuk me-time, tidak memeriksa handphone (kecuali ada yang urgent) dan tidak memeriksa media sosial. Itu hal-hal sederhana yang sangat aku suka untuk menghilangkan stres dan mumet. Selain musik, untuk menghilangkan stres, aku benar-benar suka traveling dan solo trip ke tempat-tempat baru.

Kiat kamu buat para Muda yang tengah merintis mimpinya, terutama di sektor kebijakan publik?
Know your passion melalui trial and error. Nanti passion tersebut yang akan menggiring datang ke diskusi-diskusi tentang kebijakan atau acara-acara terkait pemerintahan. Selain dapat belajar banyak mengenai pemerintahan, kita juga bisa bertemu dengan orang-orang yang passion-nya sama untuk sharing, meeting the right people at the right time. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More