Ibu Penyintas Kanker Payudara

Penulis: (Riz/M-2) Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 00:21 WIB WAWANCARA
Ibu Penyintas Kanker Payudara

MII/RAMDANI

ARYANTHI Baramuli ialah ibu dengan 2 anak. Saat dirinya didiagnosis terkena kanker, saat itu usianya baru 37 tahun dan anak sulungnya berusia 9 tahun. “Waktu saya terdiagnosis kanker berat untuk sampaikan ke anak. Saat itu yang tertua usianya 9 tahun dan itu hal yang paling menakutkan untuk seorang ibu untuk menyampaikan bahwa ibunya terkena kanker. Ternyata waktu saya sampaikan anak-anak ini dengan adanya internet sudah tahu soal kanker dan beri support jadi edukasi yang paling penting untuk menghadapinya,” jelasnya.
Dirinya merasa beruntung karena memiliki pengetahuan soal deteksi kanker payudara meskipun minim, sehingga dapat segera ditangani. “Saya kebetulan sedikit mengetahui tentang pemeriksaan payudara sendiri, jadi saat mandi saya melakukan pemeriksaan payudara sendiri dan ada benjolan sedikit sekali sebesar beras. Lalu saya ke dokter dan dokter langsung menyarankan untuk mamografi dan saat itulah saya terdiagnosa terkena kanker Payudara,” jelas mantan anggota DPR RI utusan Sulawesi Utara tersebut.

Setelah melakukan operasi, Aryanthi yang terkena kanker Payudara grade 3 tersebut merasa bahwa penyakitnya sudah selesai karena keterbatsan pengetahuannya, tetapi ternyata pengobatan pun masih berlanjut dengan kemoterapi. “Dalam menghadapi kemoterapi saya pun sempat berpikir ya sudah tidak usah berobat, tapi keluarga saya terutama ayah saya menyuruh untuk tetap melakukan pengobatan karena harus ikhtiar dan berjuang. Hal itu membuat saya semangat kembali karena saya sadar ada keluarga saya yang selalu mendampingi di masa pengobatan,” imbuhnya.

Bersyukur dan bahagia
Ibu lulusan Universitas Kristen Indonesia (UKI) tersebut pun meskipun berhasil sembuh dari kanker payudara, dirinya masih aktif berolahraga meskipun hanya olahraga ringan saja misalnya dengan mengikuti senam pernapasan 2-3 kali seminggu dan berenang 2 kali seminggu masih dilakukannya.

“Saya pribadi memang tidak makan nasi tapi tetap makan karbohidrat pengganti seperti ubi, talas, kentang, semua makanan masih dimakan tapi tidak banyak. Dalam menjalani hidup, kita harus beryukur dan bahagia, maka apapun Insya Allah bisa diatasi,” pungkas puteri dari almarhum Achmad Arnold Baramuli tersebut. (Riz/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More