Membantu Mendapatkan Hidup Berkualitas

Penulis: RIZKY NOOR ALAM Pada: Minggu, 04 Mar 2018, 00:01 WIB Weekend
Membantu Mendapatkan Hidup Berkualitas

MI/RAMDANI

PENYAKIT kanker ialah momok yang mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. Mahalnya biaya pengobatan dan kecilnya kemungkinan untuk sembuh merupakan informasi yang lumrah yang beredar di tengah masyarakat terkait penyakit tidak menular ini. Meskipun begitu, bukan berarti tidak dapat disembuhkan, upaya deteksi dini serta pengobatan yang rutin perlu dilakukan guna menekan pertumbuhan penyakit tersebut. Edukasi dan gaya hidup sehat ialah upaya sederhana yang harus dipahami masyarakat umum untuk menjaga kesehatan dirinya. Saat ini pun sudah banyak lembaga yang mulai peduli pada penderita kanker dengan memberikan informasi, semangat, maupun dukungan yang memang mereka butuhkan agar terus semangat memerangi penyakit tersebut. Salah satu organisasi yang fokus pada kanker adalah Cancer Information and Support Center (CISC) yang berdiri sejak 2003 silam oleh para penyintas kanker. Untuk memahami soal kanker itu sendiri, berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan Ketua Umum CISC Aryanthi Baramuli di rumahnya akhir Februari lalu.

Sejak didirikan pada 2003, bagaimana perkembangan kegiatan yang dilakukan CISC sampai saat ini?
Jadi waktu berdirinya, awalnya saya bertemu dengan seseorang bernama Yuniko Deviana, kebetulan saya sedang dalam masa kemoterapi dan kami berdua botak lalu bincang-bincang dan ternyata sama ketidaktahuan tentang kanker baik cara menghadapinya dan cara pengobatannya, maka munculah sebuah wacana pada saat itu untuk membentuk sebuah organisasi survivor kanker untuk memberikan support dan informasi tentang kanker. Jadi saat kami dalam menjalani pengobatan tersebut kami membentuk CISC. Awalnya dari 2 orang kemudian rapat pertama itu ada 11 orang tetapi 1 sudah meninggal, lalu kemudian pertemuan selanjutnya rutin sampai hari ini dan kalau diadakan pertemuan saat ini jumlahnya sekitar 150 orang dan komposisinya 95% ialah survivor kanker.

Terkait dengan edukasi kanker, apakah CISC juga memiliki program itu? seperti apa edukasi yang diberikan CISC?
Kita mengadakan edukasi sebagai prog_ram rutin. Kalau di Jakarta sebulan sekali dengan mengadakan seminar and sharing support group untuk sesama pasien kanker dan keluarganya dan juga melakukan wisata ilmiah untuk kesehatan reproduksi perempuan ke daerah-daerah.

Selama ini yang sering terekspose soal penderita kanker adalah identik dengan perempuan, padahal laki-laki dan anak-anak pun juga ada yang mengidapnya. Lalu apakah laki-laki dan anak-anak penderita kanker juga semakin meningkat?
Iya, dan trennya meningkat. Bahkan, sekarang seperti kanker serviks remaja pun sudah ada yang terkena. Ini adalah sebuah masalah yang memang harus dihadapi secara komprehensif secara bersama-sama khususnya dalam masalah kanker paru dan juga kanker perempuan yaitu adalah kanker payudara dan kanker kandungan.

Apa solusi yang diberikan CISC bagi mereka yang datang meminta pertolongan?
Kami memberikan informasi yang tepat dan benar serta memberikan support kepada pasien agar semangat, karena mereka ada yang takut untuk berobat, sehingga kami memberikan informasi dan sharing pengalaman karena kita sama-sama penderita kanker sehingga bisa sa­ling membantu untuk mendapatkan hidup berkualitas dan bisa berobat secara medis. Jadi kami memberikan jalan agar mereka dapat berobat secara medis dan dapat memperoleh akses kesehatan.

Lalu, seperti apa profil para penderita yang datang ke CISC? apakah mereka yang masih berada pada stadium awal atau malah yang sudah memasuki stadium akhir?
Rata-rata umumnya adalah mereka yang sudah berada di stadium menengah dan stadium lanjut karena selain pasien dari Jakarta dan sekitarnya juga banyak pasien dari daerah. Apalagi yang dari daerah umumnya sudah stadium lanjut baru mereka berobat karena di daerah sulit memperoleh akses kesehatan karena faktor geografis, pengetahuan, maupun keuangan. Dan Alhamdulilah, kami bersyukur bahwa CISC dirasakan sebagai rumah kedua karena kami bentuknya adalah perkumpulan LSM sehingga para anggotalah yang memberikan keputusan untuk setiap program-program.

Penyakit kanker sekarang sudah ditanggung BPJS. Bagaimana Anda melihatnya? apakah selama ini hal tersebut sudah cukup dan membantu atau malah berbelit-belit untuk mendapatkannya?
BPJS semakin hari semakin baik tapi sangat riskan karena di 2019 dicanangkan untuk semua WNI mengikuti BPJS, tetapi sangat disayangkan bahwa biaya untuk penyakit tidak menular ini semakin lama semakin meningkat. Ini yang harus bersama-sama dipikirkan bagaimana caranya untuk di internal BPJS sendiri melakukan efisiensi dan juga sistemnya diperbaiki. Misalnya untuk sakit kanker, kalau pasien dari daerah itu sudah menemukan benjol­an untuk mamografi tidak dikover BPJS. Jadi ada rumah sakit yang menerima dan ada juga rumah sakit yang tidak menerima, selain itu alatnya sendiri tidak ada di semua tempat untuk mamografi, padahal kanker payudara itu sangat bisa sekali dicegah apalagi kalau ada benjolan masih kecil sangat bisa dicegah, begitu juga kanker serviks. Jadi meskipun sudah dikover tapi belum maksimal dan belum semua rumah sakit punya peralatan dan SDM-nya. Ada tempat yang punya alat tapi tidak ada SDMnya.

Lalu apa saran untuk masyarakat umum agar dapat melakukan pencegahan dini dari kanker?
Saran untuk masyarakat luas adalah menjaga lingkungan hidup, harus hidup bersih dan juga melakukan pola hidup sehat, jaga kesehatan, hindari asap rokok, rajin olahraga, dietnya juga harus seimbang dan juga kelola stres. Pasien kanker harus kenal karakter kankernya itu seperti apa supaya kita bisa berdamai dengan kanker tersebut.

Apa harapan Anda bagi Pemerintah agar dapat semakin efektif dalam memberikan bantuan bagi penderita kanker?
Harapannya supaya dilakukan sebuah terobosan-terobosan seperti misalnya akses kesehatan harus bisa mencapai ke seluruh pelosok. Lalu untuk pajak obat jangan dikenakan pajak barang mewah, lalu harus dilakukan peningkatan SDM dan pemerataan SDM sampai ke pelosok, belum lagi kelengkapan fasilitas-fasilitas kesehatan supaya Puskesmas di daerah juga dapat melakukan deteksi dini kesehatan jadi harus ada terobosan. Kami saat ini menyuarakan supaya ada vaksin nasional untuk cegah kanker serviks untuk anak 5-6 SD itukan bisa dicegah.
Harapannya juga agar 2019 JKN bisa sukses. Ada pembenahan internal BPJS Kesehatan dan sistem, adanya akses ke­ter­sediaan obat yang berkualitas sesuai standar WHO, peningkatan edukasi tentang pentingnya deteksi dini kanker serta peningkatan fasilitas kesehatan termasuk SDM-nya khususnya di daerah. Hal ini akan dapat nengurangi biaya kesehatan baik dari pemerintah, asuransi, maupun rumah tangga karena pasien datang berobat pada stadium awal, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas ekonomi.

Inovasi dan program-program apa saja yag akan dilakukan CISC ke depan?
CISC akan tetap menjadi lembaga seperti ini, tetapi sekarang ada CISC Youth yang terdiri oleh anak-anak muda berusia 18 tahun sampai 39 tahun, jadi anak-anak muda ini berkumpul dan menyosialisasikan soal kanker dan cara pendekatan mereka juga berbeda, misalnya nonton bareng. Karena mereka adalah usia produktif jadi mereka masih harus kerja dan semangat yang lebih tinggi untuk menghadapi masa depan mereka yang masih panjang, jadi harapannya ke depan merekalah (CISC Youth) yang akan membawa CISC ini dan CISC Youth itu juga para survivor yang berusia 18 tahun-39 tahun. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More