Pemilahan, Kunci Sukses Pengelolaan Sampah

Penulis: Rosmery C Sihombing Pada: Sabtu, 03 Mar 2018, 12:36 WIB Jejak Hijau
Pemilahan, Kunci Sukses Pengelolaan Sampah

pengangkutan sampah di Depo Cemara milik Desa Sanur Kaja---MI/Rosmery C Sihombing

SAMPAH laut (marine debris) menjadi masalah serius yang tengah dihadapi Indonesia. Sebanyak 1,3 juta ton sampah diperkirakan masuk ke laut setiap tahun. Hal itu membuat Indonesia menjadi negara kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok yang berkontribusi sampah masuk ke laut.

Untuk itu, pemerintah menargetkan akan mengurangi sampah plastik di laut sampai 70% selama tujuh tahun mendatang. Namun, jika ingin mengurangi sampah di laut, tentu pemerintah harus membereskan lebih dulu masalah sampah di darat. Sebabnya, hampir 70% sampai di laut berasal dari darat, terutama sampah non-organik, seperti plastik dan styrofoam.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan, sektor rumah tanggalah penyumbang sampah terbesar, yakni sekitar 48%, disusul pasar tradisional sebesar 24% dan jalan 7%.

Bicara soal sampah sebetulnya terkait dengan perilaku manusia. Sampah tidaklah mungkin berjalan sendiri ke laut atau ke gunung jika manusia tidak membuangnya. Itulah sebabnya pemilahan sampah sejak di rumah tangga merupakan kunci kesuksesan pengelolaan sampah.

“Namun, pengelolaan sampah menjadi sangat sulit dilakukan di Indonesia karena tiap-tiap individu tidak memisahkan sampah mereka. Selain itu, belum ada peraturan yang memaksa masyarakat untuk memilah dan menyortir sampah yang mereka hasilkan,” jelas Sean Nino, inisiator Merah Putih Hijau (MPH) di Bali.

Bernilai ekonomi
Seusai mengikuti aksi bersih-bersih sampah Kampanye Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice), di Pantai Legian Beach, Kuta, Bali, Sabtu (24/2), sejumlah jurnalis mengunjungi beberapa proyek percontohan pengelolaan sampah mandiri.

Pengelolaan sampah tersebut ada yang dilakukan desa atau pun swadaya masyarakat. Beberapa tempat yang dikunjungi antara lain unit percontohan pengolahan sampah kelompok swadaya masyarakat (KSM) Pererenan Gumi Lestari, Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi, ­Kabupaten Badung. Kemudian, Depo Cemara di Jalan Tukad Nyali, Sanur Kaja, Denpasar Selatan, Eco Bali di Jalan Raya Padonan, Tibubeneng, Badung, dan Nusa Lembongan, di kawasan Pulau Penida.

KSM Gumi Lestari ialah binaan MPH yang didirikan Nino bersama beberapa rekannya pada 2009. Saat itu master teknik lingkungan asal Jerman itu masih kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

“MPH memformulasikan rancang­an terpadu pemilahan sampah agar sistem pengelolaan sampah terpadu dapat terlaksana sampai dengan level rumah tangga,” ujarnya sambil menunjukkan tumpukan sampah yang siap jadi kompos.

Di tempat yang sama, Ketua KSM Pererenan Gumi Lestari I Gusti ­Ngurai Adi Suta, mengatakan di desanya rata-rata tiap KK menghasilkan 2,5 kg sampah setiap hari, sedangkan sampah dari vila bisa 5 kg/hari.

“Di desa kami ada 850 KK dari 6 banjar (dusun), dan 235 vila pribadi. Kami mengangkut sampah-sampah mereka dengan tarif Rp20 ribu-Rp25 ribu per bulan. Untuk vila Rp200 ribu/bulan,” ujar Suta.

Dari setiap rumah, lanjutnya, sampah-sampah tersebut ­sudah di­pilah antara organik dan ­non­organik, bahkan sudah bersih, sehingga ketika diproses untuk kompos pun tidak banyak lalat.

Tempat pengolahan sampah sederhana yang berdiri di tepi sawah itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menyimpan timbun­an karung pupuk kompos, plastik, dan sampah organik yang sedang diproses kompos. “Lihat untuk sampah plastik pun kami pisah lagi antara yang bertanda pet, pe hd, pvc, pe ld, pp, dan ps. Dari semua sampah yang dikumpulkan KSM Gumi Lestari, 70%nya organik, 24% plastik, 3% kertas, dan 3% logam. Sampah plastik kita kirim ke perusahaan daur ulang, sedangkan kompos dijual kembali ke masyarakat, hotel, dan vila seharga Rp20 ribu per karungnya,” tambah Suta.

Semua sampah yang diangkut KSM Gumi Lestari, lanjutnya, bisa mencapai Rp50 juta. Uang itu di­pakai untuk membayar gaji peng­angkut dan pemilah sampah.

Kolaborasi dengan hotel dan restoran
Kegiatan yang sama juga terlihat di Depo Cemara milik Desa Sanur Kaja. Dengan 10 armada pengangkut sampah, Depo Cemara harus berkeliling mengangkut sampah milik warga di delapan dusun.

“Iurannya Rp15 ribu-Rp20 ribu per bulan. Sekarang ini hotel-hotel dan restoran ikut bergabung menggunakan jasa Depo Cemara,” ujar Kepala Desa Sanur Kaja, I Made Sudana.

Sudana mengakui mengolah sampah-sampah organik maupun nonorganik cukup menguntungkan. Itulah sebabnya Depo Cemara mampu menggaji sembilan pegawainya dengan gaji Rp3 juta-Rp4 juta per bulan.

“Tetapi awalnya kita juga dibantu, bahkan sudah dua kali mendapat dana desa untuk membeli mesin kompos, mobil pengangkut sampah, dan membangun atap depo. Lihat tumpukan sampah sebanyak itu kita bisa berlama-lama ngobrol, tetapi tidak terasa bau. Sebabnya, tambah Sudana, ada atap. Kalau dibiarkan terbuka dan terkena hujan, sampah jadi busuk dan berbau,” tutur ­Sudana yang total mendapat bantuan senilai Rp500 juta selama dua tahun. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More