Maximus Tigapau Semua untuk Tanah Tercinta

Penulis: (Riz/M-4) Pada: Sabtu, 03 Mar 2018, 09:00 WIB KICK ANDY
Maximus Tigapau Semua untuk Tanah Tercinta

MI/SUMARYANTO BRONTO

MAXIMUS Tigapau ialah pengusaha yang saat ini memiliki tiga perusahaan. Bahkan dirinya pernah menjabat Staf Khusus Presiden Joko Widodo. Pria yang pekerja keras itu memulai kariernya dari bawah hingga menempati posisi menjanjikan di PT Freeport. Namun ia memutuskan keluar dan mendirikan usaha.

Tiga perusahaan yang didirikannya ialah PT Mpaigelah, PT Adventures Cartensz, dan PT Papua Global Investment. Melalui bisnis yang mandiri tersebut, Maximus melakukan banyak hal positif bagi masyarakat. Hasil dari ketiga bisnisnya dipakai untuk aksi-aksi sosial, terutama dari yayasan yang ia dirikan, yakni Yayasan Somatua.

Siapa sangka pria berusia 34 tahun tersebut memiliki masa kecil yang kelam dan penuh dengan penderitaan. Ayahnya meninggal saat dirinya berusia 7 tahun, disusul ibunya tak lama kemudian. Kesedihan pun ditambah saat adik perempuannya meninggal.

Di usia yang masih sangat kecil, Maximus sudah memiliki pengalaman bertahan hidup yang luar biasa. Saat masih kecil, ia pernah berburu kuskus bersama temannya. Kala itu ia terpisah dari teman-temannya dan tersesat. Kondisi yang sudah malam membuatnya berteduh di kamp eksplorasi milik PT Freeport. Lantaran sangat dingin, ia menyalakan api, siapa sangka di sekitarnya banyak minyak solar yang akhirnya malah membakar kamp itu. Ia akhirnya kabur dan bersembunyi di hutan, sedangkan di atasnya helikopter sudah berkeliling mencari pelakunya.

Selama sebulan dirinya bersembunyi di hutan, Maximus pun harus mencari jalan lain untuk bertahan hidup. Ia mendatangi gereja di Tembagapura untuk meminta pekerjaan pada jemaat, yang hadir mayoritas pegawai PT Freeport. Akhirnya dirinya diberi pekerjaan oleh pekerja PT Freeport asal Jawa, Titus Pulonggono, sebagai tukang kebun bahkan tinggal di rumahnya.

Setelah merasa kurang tertantang, ia mencoba masuk menjadi karyawan PT Freeport. Singkat cerita, akhirnya ia berhasil menjadi karyawan PT Freeport saat itu usianya masih 14 tahun. Meski harus berhenti bersekolah di kelas 4 SD, karena kejadian tragis ditinggal keluarganya secara beruntun, minatnya pada pendidikan tidak pernah surut. Ketika ia sudah mendapat pekerjaan yang layak, setiap malam ia belajar agar bisa menuntaskan keinginannya mengambil sekolah paket.

"Saya bekerja itu 10 jam, dan 2 jam itu saya gunakan belajar karena ingin kejar paket," jelas Maximus.

Karena keuletan, kejujuran yang ia selalu pegang, kariernya terus meningkat. Ketika dirinya menjabat technical advisor, tepat 14 tahun masa kerja, ia memutuskan keluar dari PT Freeport.

Meskipun gajinya sudah lebih dari cukup, dirinya memutuskan keluar agar semakin leluasa melakukan kegiatan sosial bagi masyarakat dan mengurus perusahaannya. Kecintaannya terhadap tanah kelahirannya mendorongnya untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat sekitar. Dirinya pernah mendirikan sekolah untuk jenjang SD di kampung halamannya di Kampung Ugimba.

Di bidang kesehatan, Maximus membuat program dokter terbang (flying doctor). Melalui Yayasan Somatua yang ia dirikan dan bekerja sama dengan Yayasan Dokter Peduli atau Doctorshare program flying doctor sudah berlangsung selama 4 tahun.

Untuk bidang ekonomi, melalui perusahaannya, ia selalu mengarahkan orang-orang Papua bisa bekerja dan mendapat pekerjaan. Berbagai pelatihan telah ia galakkan, mulai pelatihan porter profesional, pelatihan sopir, sampai menghidupkan bisnis garam dari atas gunung. Ia berharap bisa memberikan efek langsung pada masyarakat Papua.

"Kalau bicara Papua satu hari tidak akan selesai. Papua sangat butuh kasih sayang bukan kasih uang. Jutaan uang yang diberi pun tidak akan menjawab persoalan di Papua. Papua saat ini membutuhkan kasih sayang, karena itu juga saya membagikan berkat saya kepada Indonesia tanpa melihat warna kulit, agama, suku. Papua bukan tempat jahat, Papua tempat yang penuh misteri dan kekayaan yang luar biasa dan milik Indonesia," pungkasnya.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More