Risna Hasanudin Membuka Mata dengan Pendidikan

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Sabtu, 03 Mar 2018, 08:41 WIB KICK ANDY
Risna Hasanudin Membuka Mata dengan Pendidikan

MI/SUMARYANTO BRONTO

BERBICARA Papua, yang langsung terbayang ialah kehidupan masyarakatnya yang masih tradisional dan belum maju. Belum meratanya pembangunan serta kurangnya fasilitas pendidikan dan kesehatan ialah fakta yang sedang berusaha diubah pemerintah saat ini.

Namun, itu bukan hanya tanggung jawab Pemerintah. Masyarakat harus berkontribusi. Salah satunya Risna Hasanudin, 30. Perempuan yang akrab disapa Risna itu menginisiasi lahirnya rumah belajar bagi kaum perempuan di kampung Kobrey, Manokwari Selatan, Papua Barat, yang dikenal dengan Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak. Meskipun dirinya bukan orang asli Papua, melainkan berasal dari Banda Neira, Maluku, hatinya sudah jatuh cinta dengan tanah Papua. "Saya penasaran ingin melihat Papua, ingin membuktikan sendiri kondisi Papua yang sebenarnya bukan hanya sekedar membaca atau melihat di media," ungkap Risna.

Di Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak tersebut, Risna mengajari\ ibu-ibu di kampung Kobrey membaca, menulis, dan berhitung. Tidak hanya itu, Risna pun melakukan upaya pemberdayaan ekonomi di sana dengan menggeliatkan kembali produksi noken khas suku Arfak.

Risna akhirnya pergi ke Papua dengan jalur aman karena jika pergi sendiri ibunya sudah pasti melarangnya. Dirinya pergi ke tanah Papua pada 2014 melalui program Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Yaitu program Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP3) yang sekarang dikenal dengan program Pemuda Mandiri Membangun Desa (PMMD).

Meski melalui jalur pemerintah, alumnus Pendidikan Ekonomi dari Universitas Pattimura itu sempat mengalami kesulitan. Pasalnya gaji Rp4 juta yang dijanjikan pemerintah tak kunjung cair selama 4 bulan. "Awalnya dilarang (orangtua) karena 4 bulan tidak digaji dan menghabiskan uang orangtua," jelas gadis berusia 30 tahun tersebut.

Inisiatif
Inisiatifnya mendirikan Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak pun muncul saat ada ibu yang ingin belajar membaca dengannya. Ternyata ibu tersebut juga membawa beberapa ibu lainnya yang memiliki keinginan yang sama. "Rumah ini lahir karena saya prihatin dengan kondisi pendidikan di sana. Inisiatifnya muncul ketika ada seorang ibu yang mau belajar membaca. Dari ibu ini ternyata ada beberapa ibu lain yang mau belajar juga, karena hampir sebagian besar ibu-ibu di sana saat itu buta huruf," jelas Risna.

Dengan adanya rumah belajar ini, keseharian Risna diisi dengan kegiatan mengajar ibu-ibu dan anak-anak untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Apa yang dilakukan Risna ini tidak menggantikan sekolah formal karena Risna selalu mendorong masyarakat sekitar agar anak-anaknya terus bersekolah di sekolah formal.

Tidak hanya tempat buat belajar membaca dan menulis, di Rumah ini pula Risna mendorong para ibu-ibu untuk terus melanjutkan kegiatan memproduksi noken. Pasalnya tradisi noken di kampung Kobrey hampir punah karena tidak ada generasi muda yang meneruskannya. Noken yang dibuat pun turut dibantu pemasarannya melalui jejaring sosial milik Risna.

Kendala
Meski begitu, niat mulia mendidik dan memberdayakan masyarakat kampung Kobrey tidak selalu berjalan mulus. Dirinya pernah mengalami pelecehan seksual bahkan hampir diperkosa dua kali. Untungnya dirinya berhasil lolos. Bahkan ia sempat dilempar batu oleh pelakunya, hingga ia harus berobat ke kampung halamannya karena mengalami pendarahan di hidung. Setelah berobat selama dua minggu, Risna membulatkan tekad kembali ke Papua. "Saya kembali ke Papua karena ingin bantu saudara-saudara kita di sana. Saya sedih mendengar orang-orang hanya koar-koar soal Papua tapi tak tahu yang sebenarnya seperti apa," imbuhnya.

Risna berharap di masa depan akan ada regenerasi yang meneruskan perjuangannya. Dirinya ingin Papua dapat maju tanpa perlu mengubah budayanya. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More