Kondisi Otak Manusia Menjelang Kematian

Penulis: (dailymail/Hnf/L-2) Pada: Sabtu, 03 Mar 2018, 06:39 WIB Eksplorasi
Kondisi Otak Manusia Menjelang Kematian

SHUTTERSTOCK

Saat manusia meninggal, seluruh organ tubuh mereka akan berhenti bekerja. Namun, meskipun organ tubuh telah berhenti bekerja, kesadaran mungkin saja masih ada selama beberapa menit setelah kematian, bahkan mungkin hingga 5 menit. Hal itu ditunjukkan para peneliti melalui temuan gelombang aktivitas listrik pada otak manusia yang disebut dengan istilah penyebaran depresi. Kejadian tersebut muncul beberapa saat sebelum kematian datang pada manusia.

Para peneliti saraf, termasuk peneliti asal Charité-Universitätsmedizin Berlin, Jerman, melakukan penelitian terhadap sembilan pasien yang menderita cedera otak fatal dan dalam keadaan sekarat. Para pasien yang berasal dari Berlin, Jerman, dan Cincinnati, Ohio, tersebut ditanami elektroda pada otak mereka untuk memantau sinyal listrik selama proses kematian.

Para peneliti menemukan bahkan sekitar 5 menit setelah jantung seseorang berhenti berdetak, sel otak atau neuron mereka masih berfungsi. Namun, sebelum kematian terjadi, muncul gelombang penyebaran depresi (depression spreading). Penyebaran depresi ini dikenal juga dengan istilah lain, yaitu penyebaran depolarisasi (depolarisation spreading).

Penyebaran depresi dimulai ketika darah berhenti mengalir sehingga oksigen yang menjadi bahan bakar sel berhenti didistribusikan. Hal tersebut membuat sel mati. Ketika hal itu terjadi, sel otak menarik cadangan energi selama beberapa menit sebelum mereka benar-benar mati. Neuron pun panik dan gagal menjaga pemisahan ion. Akibatnya, sejumlah energi elektrokimia akan menyebar ke otak akibat usaha neuron itu.

Proses tersebutlah yang dikenal sebagai penyebaran depresi. Ditandai dengan hiperaktivitas di neuron yang kemudian diikuti dengan keheningan secara tiba-tiba. Keheningan tersebut merupakan penanda hitung mundur menuju kematian. “Setelah berhentinya peredaran darah, penyebaran depolarisasi menandai hilangnya energi elektrokimia pada sel otak dan timbulnya serangan beracun yang akhirnya menyebabkan kematian,” ujar peneliti utama Dr Jens Dreier dari Universitätsmedizin Berlin dalam pernyataan tertulis.

Meskipun berhasil menemukan hal menarik dalam proses kematian manusia tersebut, para peneliti mengaku belum menemukan metode diagnosis dan hitungan pasti terkait dengan saat hilangnya kesadaran. “Kami tidak pernah memiliki metode untuk mendiagnosis kematian otak, dan kami tidak memiliki cara untuk memastikan kapan semua kapasitas kesadaran tersebut hilang?” tambah Dr Jed Hartings dari University of Cincinnati’s College of Medicine.

Hasil penelitian tersebut belum memiliki efek untuk perawatan pasien saat ini. Namun, para peneliti berharap temuan tersebut dapat berguna untuk prosedur diagnostik dan perawatan pasien yang lebih baik di masa datang. (dailymail/Hnf/L-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More