Indera Penciuman dan Politik

Penulis: Irene Harty Pada: Rabu, 28 Feb 2018, 18:24 WIB Humaniora
Indera Penciuman dan Politik

thinkstock

PERISET dari Universitas Stockhlom di Swedia menemukan bahwa cara seseorang bereaksi terhadap bau badan menjadi indikator psikologis preferensi politik mereka.

Indera penciuman dipelajari secara ekstensif oleh para psikolog dengan hasil aroma memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perilaku manusia berdasarkan naluri.

Lebih lanjut, periset menganalisis para peserta asal Amerika Serikat (AS) yang diberikan pertanyaan mengenai pandangan politik dan tingkat penciuman terhadap bau badan, baik milik sendiri dan orang lain.

Hasilnya, peserta yang lebih peka terhadap bau tertentu seperti air seni dan keringat cenderung memilih Donald Trump, Presiden AS, yang kurang sensitif.

"Ada hubungan yang solid antara kuatnya seseorang merasa jijik karena bau dan keinginan mereka untuk memiliki pemimpin seperti diktator yang dapat menekan gerakan demonstrasi radikal dan memastikan bahwa kelompok yang berbeda 'tinggal di tempat mereka'", ungkap Periset Utama, Jonas Olofsson.

"Kami pikir itu karena Donald Trump sering berbicara tentang betapa berbedanya orang yang membuat dia jijik. Perempuan menjijikkan dan imigran yang menyebarkan penyakit sering muncul dalam retorikanya," tambahnya.

Hasil riset juga menunjukkan mereka yang peka terhadap bau keringat dan urin juga tertarik pada pemimpin politik otoriter. (Dailymail/OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More