Cek Tekanan Darah Cegah Komplikasi Mematikan

Penulis: (Ind/H-3) Pada: Rabu, 28 Feb 2018, 07:01 WIB Kesehatan
Cek Tekanan Darah Cegah Komplikasi Mematikan

thinkstock

HIPERTENSI atau tekanan darah tinggi sering disebut silent killer atau pembunuh senyap. Sebabnya, penyakit itu tidak bergejala, tapi menimbulkan komplikasi mematikan, seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk rutin mengecek tekanan darah. "Masyarakat kami ajak untuk melakukan 'ceramah', cek tekanan darah di rumah secara rutin," ujar dokter spesialis saraf Yuda Turana yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH) dalam konferensi pers terkait dengan acara The 12th Annual Scientific Meeting of Indonesian Society of Hipertension: Never Ending Battle Againts Hypertension dan Its Complications, di Jakarta, pekan lalu.

Yuda menjelaskan, pengukuran tekanan darah di rumah yang dilakukan secara benar dan rutin dapat menunjukan tekanan darah yang sebenarnya daripada pengukuran tekanan darah di klinik. Seseorang digolongkan mengalami hipertensi ketika tekanan darahnya 140/90 atau lebih. "Selain mendapatkan rerata tekanan darah yang sebenarnya, didapatkan juga informasi besarnya variasi tekanan darah," kata Yuda.

Dia menuturkan apabila ada dua orang dengan hipertensi dan rerata tekanan darahnya sama-sama 140/90, orang yang variasi tekanan darahnya lebih besar ketika diukur, berisiko lebih besar terkena penyakit stroke, jantung, dan ginjal. Karena itu, dia menekankan pentingnya mengukur tekanan darah secara rutin di rumah sebagai pelengkap pengukuran darah di klinik.

Sebelum memeriksa sendiri tekanan darah, sambungnya, sebaiknya pasien memastikan alat pengukur tekanan darah yang digunakan valid. Dia juga mengimbau pasien mempersiapkan diri terlebih dahulu. "Duduk istirahat selama 2 menit. Posisi duduk lebih dianjurkan daripada berbaring. Jangan minum kopi sebelum mengukur tekanan darah. Kalau sedang meminum obat tertentu, jangan dikonsumsi dulu karena dapat memengaruhi tekanan darah," kata Yuda. Menurutnya, mengukur tekanan darah paling bagus dilakukan saat pagi dan malam. Yuda menyarankan pengukuran dilakukan pada lengan atas sebanyak dua sampai tiga kali dengan jeda waktu 1 menit.

Prevalensi meningkat
Yuda menjelaskan, prevalensi hipertensi di Indonesia semakin meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjulan prevalensi hipertensi ialah 26,5% dan berdasarkan Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016 prevalensi hipertensi mencapai 32,4%.
Data penelitian survei InaSH selama Mei 2017 lalu dengan subjek penelitian 71.894 menunjukkan penyakit hipertensi diderita semua tingkat pendidikan masyarakat. Sekitar 46% di antaranya terjadi pada orang berpendidikan rendah. (Ind/H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More