Bila si Kecil Alami Katarak

Penulis: Eni Kartinah Pada: Rabu, 28 Feb 2018, 01:02 WIB Kesehatan
Bila si Kecil Alami Katarak

KATARAK umumnya dialami orang berusia lanjut. Namun, pada beberapa kasus, katarak juga dapat diderita bayi dan anak. Faktor penyebabnya antara lain terdapat infeksi atau malanutrisi ketika bayi berada dalam kandungan, juga bisa disebabkan kelainan genetik dan trauma.

"Di antara berbagai penyebab itu, kasus paling banyak terjadi karena saat ibu hamil trimester pertama infeksi virus rubela dan toksoplasma," ujar dokter spesialis mata konsultan mata anak, dr Ni Retno Setyoningrum, SpM(K), pada bakti sosial operasi katarak gratis di Jakarta Eye Center (JEC) @Kedoya, Jakarta, Sabtu (24/2).

Gejala katarak pada anak terlihat dari pupil (anakan mata) yang berwarna keputihan atau bola mata tampak tidak seimbang (juling). "Jadi, yang putih bukan bagian hitam mata ya, melainkan bagian pupil atau yang sering disebut anakan mata. Kadang orangtua keliru soal ini," kata dokter yang juga Ketua Layanan Children Eye & Squint Clinic JEC @Kedoya itu.

Gejala itu bisa saja muncul belakangan, tidak serta-merta ketika bayi lahir. Begitu orangtua mendeteksi gejala itu, sebaiknya segera periksakan bayi ke dokter. Sebabnya, katarak pada bayi perlu secepatnya dihilangkan melalui operasi. "Hal ini agar perkembangan penglihatan anak tidak terganggu," cetusnya.

Ia menjelaskan, kemampuan penglihatan berkembang seiring dengan waktu. Pada masa-masa baru lahir, bayi belum mampu melihat, hanya mampu menangkap sinar. Sinar tersebut akan masuk menembus lapisan-lapisan organ mata hingga mencapai retina, tempat saraf mata berada.

Adanya sinar itu akan memicu saraf mata untuk mengirim sinyal ke pusat penglihatan di otak. Dengan proses itu, sistem penglihatan akan berkembang secara bertahap. "Awalnya bayi bisa melihat jarak 1 meter, lalu 2 meter, 4 meter, begitu seterusnya hingga sempurna. Anak bisa melihat sempurna paling cepat di usia dua tahun, dan paling lambat dua tahun," jelas Ni retno.

Adanya katarak, lanjut dia, akan menghalangi sinar. Ketika sinar tidak bisa masuk mencapai retina, saraf mata tidak akan mendapat rangsangan. Karena itu, mata tidak akan mengirim sinyal ke pusat penglihatan di otak. Akibatnya, sistem penglihatan tidak akan berkembang.
"Karena itulah, katarak pada bayi harus segera dioperasi agar mata bisa mendapat sinar yang diperlukan untuk merangsang perkembangan sistem penglihatan. Tapi tentu saja dengan mempertimbangkan faktor lain sehingga operasi benar-benar bisa dilakukan dengan baik. Misalnya, tidak dalam keadaan sakit yang dikhawatirkan akan bertambah berat karena proses operasi."

Perlu diketahui, lanjut Ni Retno, masa kritis perkembangan sistem penglihatan bayi ialah di usia tiga bulan. Di tahap itu terjadi tahapan fiksasi mata yang akan menentukan kesejajaran mata kanan dan kiri saat melihat. "Karena itu, diupayakan agar operasi katarak dilakukan sebelum melewati masa kritis tersebut agar tahapan fiksasi mata bisa terjadi secara sempurna," saran Ni Retno.

Namun, secara umum perkembangan mata anak akan terus berlangsung hingga usia 12 tahun. Setelah itu, perkembangan mata anak akan berhenti. "Seperti tinggi badan yang tidak akan lagi bertambah ketika melewati usia 18 tahun."
Dengan demikian, operasi katarak yang baru dilakukan setelah anak berusia 12 tahun terbilang terlambat karena masa perkembangan sistem penglihatannya sudah lewat.

Harus telaten
Berbeda dengan operasi katarak pada dewasa yang keesokan harinya pasien bisa langsung melihat dengan jelas, pada bayi operasi harus diikuti dengan kontrol berkala ke dokter untuk memastikan sistem penglihatan bayi berkembang sesuai dengan pertumbuhan organ matanya.

"Setelah operasi dilakukan pada bayi, di situlah kerepotan orangtua dimulai. Antara lain, harus memastikan bayi tidak melepas balutan pada mata karena risih, menenangkan bayi yang mungkin trauma dengan obat tetes mata, juga memastikan bayi mau menggunakan kacamata khusus pengganti lensa mata yang diambil saat operasi," terang Ni Retno.

Kontrol berkala ke dokter juga harus dilakukan. Sebabnya, ukuran kacamata harus disesuaikan dengan perkembangan organ mata bayi. Terapi khusus juga diperlukan. Misalnya pada kasus katarak yang hanya terjadi pada sebelah mata, meski sudah menjalani operasi, ada kecenderungan anak hanya menggunakan mata yang sehat untuk melihat. Risikonya, mata sebelahnya mengalami ambliopia atau yang disebut mata malas. Fungsi penglihatannya tidak berkembang karena mata tidak digunakan secara maksimal. "Kondisi ini perlu terapi khusus agar dua-dua mata bisa berfungsi maksimal secara seimbang. Di sinilah pentingnya ketelatenan orangtua untuk mematuhi jadwal kontrol dan terapi si anak," ujarnya. (H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More