Si Sri

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 25 Feb 2018, 11:30 WIB PIGURA
Si Sri

Dok.MI

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru-baru ini dinobatkan sebagai Menteri Terbaik Dunia dalam acara World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab. Proses seleksi untuk menentukan predikat tersebut dilakukan lembaga independen dan kredibel Ernst & Young.

Namun, seperti biasanya, ada beberapa gelintir elite dan sebagian masyarakat di negeri ini yang bersikap nyinyir, mempertanyakan logika diberikannya predikat bergengsi tersebut. Menurut mereka, tidak ada prestasi gemilang yang mendasarinya.

Watak ‘kritis’ memang hak setiap orang. Namun, kecerdasan bermuatan kesinisan macam itu sungguh menggelikan. Ibarat penyakit, itu seperti panu, tidak mengancam jiwa, tetapi mengusikkan karena sangat gatal.

Dalam cerita wayang, perempuan yang pernah ‘dinyinyiri’ terkait dengan kredibilitasnya atas jabatan yang diemban ialah Srikandi. Sejumlah kalangan di Amarta meremehkan putri dari Negara Pancala tersebut ketika dinobatkan sebagai senapati.

Pandawa ketar-ketir
Alkisah, Pandawa dilanda kegalauan atas situasi mendung di medan laga perang Bharatayuda yang telah berlangsung sembilan hari. Bayang-bayang berakhirnya sejarah Pandawa menghantui mereka. Gara-gara pasukan Kurawa bersama para sekutunya yang dipimpin senapati Resi Bhisma dengan leluasa mengharu-biru pasukan Amarta di Kurusetra.

Sejak perang antarketurunan Abiyasa pecah, Bhisma langsung menjadi senapati Astina atas kehendaknya pribadi. Sikapnya itu dilandasi rasa nasionalismenya. Hal ini bisa dimengerti karena Bhisma, yang nama kecilnya Dewabrata, merupakan pewaris sejati Astina. Ia putra tunggal pemilik takhta Astina Prabu Sentanu dengan Dewi Gangga.

Namun, Dewabrata legawa tidak menjadi raja demi ayahanda yang kepincut Durgandini. Ibu tirinya itu hanya bersedia dipersunting bila anak keturunannya dengan Sentanu yang mesti menjadi raja Astina. Untuk meyakinkan Durgandini tentang kerelaannya tidak mewarisi takhta ayahnya, Dewabrata bersumpah wadat. Oleh karena itulah Dewabrata mendapat nama Bhisma, yang berarti sumpah yang luar biasa.

Di bawah kepemimpinan Bhisma, pasukan Astina (Kurawa) menggilas ribuan prajurit serta para senapati pilihan Amarta. Di antaranya panglima perang yang gugur membela Pandawa adalah tiga kesatria dari Negara Wiratha, yakni Seta, Utara, dan Wratsangka.

Situasi itulah yang membuat Pandawa ketar-ketir. Di sisi lain, Pandawa (Yudhistira, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa) memang enggan berperang berhadapan dengan Bhisma karena ia pepundennya sendiri. Inilah dilema yang sangat berat bagi mereka.

Kresna, botoh Pandawa, pun nyaris kehilangan akal. Tidak ada satu pun kekuatan Pandawa yang bisa menghentikan Bhisma. Sabda dewa jauh hari tersurat, Bhisma tidak akan mati jika tidak dari keinginannya sendiri.

Namun, berbekal ‘info’ rahasia yang tertulis dalam Kitab Jitabsara yang ia pegang, Kresna lalu menyarankan Yudhistira mengangkat Srikandi sebagai panglima perang. Keluarga Pandawa terpana mendengarnya. Prajurit Amarta dan para sekutu Pandawa pun mencibirnya.

Mereka bertanya-tanya, logika apa yang melandasi Kresna mengirim Srikandi ke Kurusetra menghadapi Bhisma. Srikandi masih ‘bau kencur’, sedangkan Bhisma sudah paripurna segala-galanya.

Namun, Kresna, meyakinkan adik-adiknya. Menurutnya, tiada prajurit yang mampu mengalahkan Bhsima kecuali Srikandi. Semula, Srikandi ragu, tetapi kepercayaan dirinya muncul setelah diwejang Kresna.

Amba memanggil-manggil
Di antara pasukan Amarta, Srikandi adalah prajurit perempuan yang paling mahir dalam olah senjata panah. Ia ahli menjemparing atas bimbingan Arjuna sejak masih berpacaran. Konon kehebatannya memanah hanya bisa ditandingi Larasati, istri lain Arjuna.

Ketika Srikandi maju ke palagan, Kurawa pun mencemooh. Pandawa dinilai sudah sesat dan gila memerintahkan Srikandi melangkah ke medan peperangan menghadapi pasukan Astina yang dikomandani Bhisma. Pandawa dianggap sama saja menyorongkan nyawa Srikandi tanpa arti.

Namun, skeptisme itu pelan-pelan hilang ketika Srikandi lincah mengimbangi Bhisma dalam adu memanah. Tidak lama kemudian, entah apa yang sedang terjadi, tiba-tiba lambat laun Bhisma seperti kehilangan gairah sehingga berulang kali ia terlena dan terpanah.

Ternyata, sejak Srikandi berada di depannya, Bhisma merasa sudah saatnya memenuhi janjinya kepada almarhumah Dewi Amba. Jauh sebelum pecah perang Bharatayuda, Amba tanpa sengaja tewas di tangan Bhisma dalam skandal cinta yang terhambat.

Amba adalah putri Prabu Darmahumbara, Raja Negara Giyantipura dengan permaisuri Dewi Swargandini. Ia jatuh cinta kepada Bhisma dan ingin dipersunting. Namun, Bhisma menolak karena telah bersumpah wadat. Karena Amba terus mengejar, Bhisma berusaha menakut-nakuti agar meninggalkannya dengan panah. Namun, di luar kuasanya, anak panah itu lepas dari busurnya dan menembus dada Amba hingga meninggal.

Sesaat kemudian terdengar suara Amba yang tidak akan masuk surga kalau tidak bersama-sama Bhisma. Mendengar suara gaib itu, Bhisma, yang sejatinya juga punya hati dengan Amba, menyanggupi permintaan itu. Ia meminta Amba menunggu hingga pada waktunya datang.

Pada hari ke-10 Bharatayuda itulah, Bhisma melihat sukma Amba menyatu dalam diri Srikandi dan tampak memanggil-manggil dirinya. Inilah saat yang ia tunggu dan waktunya bersama Amba bergandengan tangan menuju ke alam keabadian.

Mengguncang dunia
Pasukan kedua belah pihak tertegun melihat Bhisma tampak seperti pasrah melawan Srikandi. Lalu apa yang terjadi? Ia menjadi sasaran hujan panah yang dilepas Srikandi hingga akhirnya rebah berlumur darah. Detik itu juga perang Bharatayuda berhenti.

Pandawa dan Kurawa sama-sama menghambur meratapi Bhisma. Kurawa memberikan alas dari emas permadani tapi Bhisma menolak. Ia malah minta Pandawa membuatkan tempat tidurnya dari susunan anak panah. Bhisma berkata jangan ada yang menangisi karena ini semua atas kehendaknya. Sudah datang waktunya untuk meninggalkan dunia fana.

Gugurnya Bhisma di tangan Srikandi ini mengguncang dunia. Nyaris tidak ada yang percaya. Pandawa pun tidak mengerti Srikandi mampu merobohkan Bhisma. Prestasi inilah yang menjadikan Srikandi tersohor di dunia.

Kisah ini sulit dipercaya tapi nyata. Dalam konteks Sri Mulyani Indrawati, terpilihnya ia sebagai menteri terbaik dunia sama halnya ia mengungguli orang-orang hebat (menteri) di seluruh dunia yang berkaliber ‘Bhisma’. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More